Selasa, 08 Oktober 2013

Aprillya Hesti Utami (2222112270)



Aprillya Hesti Utami
2222112270
V D
NASKAH DRAMA  :  MALAM JAHANAM KARYA MOTINGGO BUSYE
1.        PROLOG
Di sebuah perkampungan nelayan, tinggallah sepasang suami-istri, Paijah sang istri adalah wanita yang sangat cantik, tubuh langsing semampai, dan suaminya adalah Mat Kontan yang terkenal selalu kontan dalam membayar segala sesuatu. Mereka mempunyai seorang anak lelaki yang disebut Mat Kontan Kecil. Mat Kontan sangat bangga dengan istri dan anak lelakinya. Mat Kontan memiliki hobi mengoleksi burung hias. Burung hias yang paling disayang adalah burung beo. Burung beo itu sangat pandai meniru ucapan majikannya.
Di depan rumah mereka ada seorang tetangga yang juga sahabat terbaik Mat Kontan, dia adalah Soleman. Soleman sudah bersahabat sejak dahulu dengan Mat Kontan. Soleman sangat mengetahui dengan benar bagaimana sifat Mat Kontan, tingkah lakunya dan sebagainya. Mereka sangat akrab walaupun sering kali terjadi perselisihan di antara keduanya.

2.        EKSPOSISI
Setiap hari Mat Kontan selalu sibuk mengurusi burung beonya. Hal itu membuat istrinya (Paijah) merasa sebal, karena fokus perhatian Mat Kontan hanya tertuju pada burung beonya. Istrinya (Paijah) merasa Mat Kontan sudah keterlaluan pada dirinya dan anaknya. Apalagi di saat anaknya (Mat Kontan Kecil) sedang sakit panas. Seharusnya Mat Kontan memperhatikan anaknya jangan malah fokus pada burung beonya. Tetapi Mat Kontan tidak memperdulikan hal tersebut, karena menurutnya sakit panas anaknya akan sembuh dengan sendirinya. Mat Kontan justru makin sibuk dengan burung beonya.

3.        KOMPLIKASI
Sahabat baik Mat Kontan (Soleman) sangat menyukai Paijah, Soleman mengetahui dengan jelas bahwa Mat Kontan adalah pria mandul. Paijah jelas tidak dapat dimilikinya, karena Paijah sudah menjadi istri dari sahabatnya. Tanpa sepengetahuan Mat Kontan, Soleman sering berkunjung kerumah mereka pada saat Mat Kontan pergi keluar sibuk mengurusi burung beonya. Mereka berbuat seperti layaknya suami istri. Dan hal itu berbuah, dengan lahirnya anak lelaki yang diberi nama Mat Kontan Kecil. Mat Kontan jelas tidak mengetahui hal itu, namun burung beo Mat Kontan yang di letakkan di ruang tengah sering meniru ucapan Paijah dan Soleman “cubit-cubitan”. Karena takut perselingkuhan itu tercium oleh Mat Kontan, Soleman pun membunuh burung beo itu di sumur belakang rumah. Mat kontan sangat jengkel karena melihat burung beo kesayangannya mati di bunuh orang. Mat Kontan benar-benar Geram akan hal itu. Mat Kontan marah-marah sepanjang hari.

4.        KLIMAKS
Sang istri (Paijah) sangat ketakutan, dia sangat tahu benar sikap buruk suaminya. Mat Kontan selalu membawa golok kemana-mana, Paijah sangat takut bila sedang khilaf goloknya bisa melayang ke badannya. Paijah pun mendatangi Soleman untuk meminta perlindungan. Soleman sangat mencintai Paijah terang saja akan rela melindungi Paijah dengan cara apapun. Mat Kontan sangat marah ketika melihat Paijah berlari kearah Soleman untuk meminta perlindungan.
Mat Kontan mencium bau perselingkuhan di antara istrinya (Paijah) dan sahabatnya (Soleman). Karena Soleman melindungi Paijah, Mat Kontan pun tak segan mengeluarkan goloknya. Mat Kontan pun menantang Soleman untuk satu lawan satu dengannya, akhirnya Soleman menceritakan semua kejadian perselingkuhan dirinya dengan istri sahabatnya itu sampai membuahkan seorang anak yang diberi nama Mat Kontan Kecil.

5.        RESOLUSI
Soleman pun menceritakan bahwa  dialah yang telah membunuh burung beo kesayangan Mat Kontan karena Soleman sangat takut burung beo itu mencelotehkan kata yang dapat membuka perselingkuhan dengan Paijah. Mat Kontak makin naik darah, Mat Kontan merasa sangat dikhianati istri dan sahabatnya itu. Apalagi Mat Kontan juga mendengar bahwa anak kebanggaannya itu bukanlah anak kandungnya melainkan buah perselingkuhan antara istrinya dan sahabatnya. Mata Kontan sangat ingin membunuh Soleman. Namun, Soleman mengetahui kelemahan Mat Kontan. Soleman pun dapat meluluhkan hati Mat Kontan dengan mudah. Dan Mat Kontan pun berkata ingin kembali ke kampungnya.

6.        PENYELESAIAN
Ternyata Mat Kontak tidak selemah dugaan Soleman. Mat Kontan hanya berpura-pura lemah untuk melancarkan niat buruknya bersama Utai. Sampai akhirnya Mat Kontak Kecil meninggal karena terlambat mendapatkan pertolongan. Dan Mat Kontan pun pergi menjauh dari kampung meninggalkan Paijah.

ANALISIS STRUKTUR DRAMA MALAM JAHANAM KARYA
MOTINGGO BUSYE
A.      PLOT
Plot drama Malam Jahanam  berlangsung berurutan. Alurnya maju, ketegangan terus memuncak.

B.       LATAR
-          Latar sosial dalam drama Malam Jahanam yaitu lingkungan para nelayan yang hidup dalam kemiskinan. Bahasa yang digunakan tidak sopan seperti bahasa-bahasa kasar (penyebutan nama hewan).
-          Latar fisik dalam drama Malam Jahanam yaitu di sebuah perkampungan nelayan.

C.       TEMA
Tema drama Malam Jahanam adalah sisi buruk dan baik manusia.

D.      TOKOH dan PENOKOHAN
-          Mat Kontan     : sombong, egois, emosional, penakut.
-          Paijah              : tidak setia
-          Soleman          : pengecut, pembual.
-          Utai                 : setia.

E.       Amanat
Amanat drama Malam Jahanam adalah kita harus bisa menghargai orang lain dan harus setia pada orang yang sudah menjadi pasangan kita.




RUMUSAN MASALAH
Dalam drama berjudul Malam Jahanam karya Motinggo Busye ini membahas lingkup kehidupan rumah tangga. Maka saya merumuskan masalah:
-            Bagaimana tokoh Mat Kontan rela meninggalkan hal kemanusiaan demi kesenangan yang egois?



Umroh Tunnisa (2222112504)



Nama  : Umroh Tunnisa
Nim     : 2222112504
Kelas   : 5D
Judul  : Analisis Drama “ RT NOL RW NOL’’ Karya Irwan Simatupang

Ø  Sinopsis
suatu kehidupan penduduk yang berada disebuah kolong jembatan, dimana tempat itu sangat kotor dan berantakan maklum disini adalah tempat berkumpulnya kaum glandangan. Tempat yang kumuh, berantakan kotor dan bau yang sangat menusuk hidung. Di sini si pincang sedang asik menunggui tungku yang menyala dan berasap, dan si kakek pun sama sedang menunggui tungku yang satunya lagi. Sedangkan peran wanita didrama ini selalu sibuk berdandan mungkin mereka akan berpergian. Kedua wanita itu Ani dan Ina mereka sibuk memegang cermin yang sudah pecah ditangan masing-masing. Di atas jembatan terdengan gemuruh petir yang bertanda akan turun hujan. Hujanpun akhirnya turun mengiringi kisah mereka. Si pincang dan si kakek sedang makan disebuah kaleng, mereka memakan hasil masakan mereka sendiri. Si pincang sudah selesai makan dan membuang kaleng itu, lalu si kakek mengambilnya kembali karena dia merasa masih ada sisa makanan dikaleng si pincang. selesai makan si kake bercerita kepada si pincang tentang kenangan hidupnya masa dulu. Hujan mulai reda gemuruh petir yag dari tadi terdengar terlah hilang dan digantikan oleh gemuruh suara kendaraan diatas jembatan. Ketika si pincang dan kakek sedang asik mengobrol tiba tiba bopeng datang dengan seorang perempuan yang dia temukan dipelabuhan sana. Ati namanya, bopeng memberikan nasi bungkus kepada si pincang dan kakek, sambil makan mereka mengobrol dengan asiknya. Namun entah apa yang terjadi bopeng malah marah dan menerkam si pincang, si kake dengan nafas tersengal sengal berusaha memisahkan bopeng dan si pincang. Bopeng pun pergi keluar dan duduk sambil bersandar dibatu jembatan. Ati menghampirinya dengan penuh takut sedangkan pincang dan kakek asik melanjutkan makannya kembali.
Terdengar bunyi becak datang ke pemukiman itu, dan turun dari becak itu Ina dengan menenteng makanan yang dibawanya. Kali ini Ina datang tidak  bersama kakanya yang bernama Ani, karena Ani telah dilamar oleh kekasih hatinya. Ina memberikan makanannya kepada kakek yang keluar dari bilik gelapnya, lalu Ina pun melihat Ati yang berada disana.
Ati dan Ina pun mengobrol mereka mengobrol tentang bagaimana Ati dan Bopeng bisa bertemu dipelabuhan. Lalu bopeng menceritakan bahwa Ati adalah wanita yang akan diajaknya berlayar besok, ketika Ina mendengar kata berlayar Ina langsung gembira dan langsung menanyakannya kepada Bopeng,dan bopeng membenarkan bahwa dia telah diterima untuk berlayar. terdengar bunyi lonceng berkali kali Ina pun terkejut dan langsung mencari suara lonceng tersebut di luar kolong jembatan. Ternyata si abang becak yang menjemputnya, kali ini abang becak menjemputnya bukan untuk menjadi pelangganya, melainkan untuk menjadikan Ina sebagai istrinya. Ina pergi tanpa membawa sedikitpun peralatan rumahnya, yang ada Ina meminta kepada penghuni kolong jembatan untuk memakain peralatannya itu jika mau, tapi jika tak mau ya sudah dibuang saja, suasana semakin sedih ketika satu demi satu penghuni kolong jembatan itu mengucapkan selamat tinggal kepada ina, dan Ina pun berpamitan kepada mereka semua dengan meminta maaf yang sebesar besarnya kepada semuanya. Terdenagr kembali bunyi lonceng becak itu namun kini bunyi lonceng itu sedikit keras suaranya, mungkin si abang becak itu sudah tak sabar ingin segera membawa Ina keluar dari pemukiman tersebut. Ina pun berlari menghampiri bunyi bel itu, lalu dia berhenti dan membalikan badannya, dengan badan yang lemas dan air mata yang berlinag Ina mengucapkan selamat tinggal Rt nol rw nol. Terdengar jelas deru lalu lintas diatas jembatan, bunyi malam seperti jangkir kodok dan binatang lainnya yang mencoba memberikan sedikit keramaian dikolong jembatan itu. Dikolong jembatan masih terdengar suara obrolan dari penghuninya, ternyata Ati Kakek Bopeng dan Pncang masih terjaga di bawah jembatan. Kakek berkata malam semakin larut mari kita istirahat untuk menyambut hari esok, lalu Bopeng dan Kakek tidur berpisah dari Pincang dan Ati, tapi entah kenapa Pincang merasa tersinggung dengan sikap Kakek dan Bopeng itu dan menyangka mereka telah mengolok oloknya. Kemudian kakek mendekati si Pincang lalu kemudian memeluknya, Ati yang sedari tadi hanya diam pun mulain mendaki Pincang, dia meraba raba jemari Pincang lalu digenggam dan ciumnya jemari Pincang penuh kasih dan sayang yang begitu murni dari hatinya. Kemudian Kakek melepaskan pelukannya dan meninggalkan Pincang untuk kembali merebahkan badanya yang renta untuk tidur dan beristirahat. Bopeng dan Pincang pergi ke sudut lainnya di kolong jembatan itu, untuk tidur dan istirahat, sementara Ati masih duduk di dekat Kakek,hanya suara jangkrik dan kodok yang terdengar disana, dan aliran air sungai yang mengalir ditambah suara lalu lintas yang masih menderu diatas jembatan. Sebenarnya Ati ingin sekali mengajak kakek untuk ikut dengannya ke kampung halaman, Ati merasa tak tega melihat kakek yang akan tinggal sendirian dikolong jembatan itu. Namun Kakek tetap tidak mau ikut karena dia merasa kolong jembatan itu dalah segalanya bagi dia, Kakek merasa segan untuk meninggalkan kolong jembatan itu, karena sudah bertahun tahun kakek menghuninya.
Apresiasi
Ø   Tema
Naskah drama yang berjudul Rt nol Rw nol ini adalah tentang perjuangan hidup  dan didalam cerita ini juga lebih menonjolkan sikap pantang menyerah dapat di lihat dari setiap adegannya.
Ø   Alur
Dari alur drama Rt nol Rw nol terdapat alur maju atau alur lurus. Di mana naskah drama Rt nol Rw nol itu menceritakan dari awal mula adegan sampai pada akhir adegan tersebut.
Ø   Latar
 Latar Rt nol Rw nol ini terdapat latar tempat dan latar waktu. Latar tempat yaitu berlatar di bawah jembatan besar dan penulis naskah drama Rt nol Rw nol dengan jelas dalam penulisan latar yang terdapat drama Rt nol Rw nol ini.
Ø   Sudut Pandang
Orang pertama dan orang ketiga

Ø   Sussana
Dalam naskah drama ini terdapat suasana tegang dan bahagia. Dalam adegan tegang “Kalau maksudmu, bahwa gara-gara ucapanku yang barusan kita terpaksa berkelahi. Ayo berkelahi!”. Dan dalam adegan bahagia “ aku berharap, suatu hari dapat melihat kau lewat, naik becak suamimu, kau dan anaku sehat dan montok-montok. Selamat jalan, Nak”.
Ø   Tokoh dan penokohan 
·   Tokoh  ani : keras kepala dalam kutipan naskah dramanya “ Semuanya itu akan kami  nikmati malam ini. Cara apapun  akan kami jalani. Asal kami dapat menemukannya malam ini. Ya, malam ini juga!”. Dalam tokoh Ani juga mempunyai pantang menyerah dalam kutipan naskah dramanya “T erus, pantang mundur! Kita bukan dari garam, kan?”.
·      Tokoh Ati : Tokoh Ati mempunyai sifat pemalu dalam kutipan naskah dramanya “ Malu Kek. Kami berangkat dari sana dengan pesta dan doa. Segala pakaian dan perhiasan emasku didalamnya, telah dibawa kabur”.
·      Tokoh Bopeng : Mempunyai sifat yang rendah hati dalam kitipan naskah dramanya “ Sabar. Rokok sungguhpun ada. Malah sebungkus utuh.”
·      Tokoh Kake : Tokoh kakek mempunyai sifat yang bijaksana dalam kutipan naskah dramanya “ Jangan bingungkan dirimu lebih lama lagi dalam kerangka-kerangka kata-kata mu yang merawang itu.
Dalam tokoh Kakek juga  penyabar dalam kutipan naskah dramanya “ kelenggangan disebabkan perpisahan, terkadang lebih parah dari kematian sendiri. Mengapa pula  kita, manusia- manusia gelandangan, berbuat seolah tak mengerti itu?”
·      Tokoh Pincang  : Tokoh pincang Pemarah dalam kutipan naskah dramanya “ Apa aku harus menutup mulutku terus? Mengapa setiap ucapanku kau anggap sebagai cari fasal saja?”
·      Tokoh Ina : tokoh Ina mempunyai sifat penyabar dalam kutipan naskah dramanya “ sudahkah Kak. Hujan atau tak hujan, kita tetap keluar.”

Ø   Amanat : Untuk memenuhi kebutuhan hidup tidak selalu melakukan hal-hal yang negative seperti menjual diri. Selain itu jangan terlalu mudah percaya dengan orang lain apa lagi sampai pergi ke kota lain dengan pria yang belum tau asal-usulnya seperti tokoh Ati. Sebagai mahluk ciptaan Allah SWT kita wajib bersyukur dengan apa yang Allah berikan pada umat-nya, karena sesungguhnya “Allah tidak akan merubah suatu kaum apabila kaumnya itu sendiri tidak merubahnya”.

Ø   Rumusan Masalah :
o  Bagaimana asal-usul tokoh kakek sebenarnya?
o  Mengapa para tokoh yang ada dalam drama tersebut lebih memilih tinggal di kolong jembatan daripada mengontrak rumah atau menyewa rumah?




Ami Misfah Faris Kamaya (2222102495)



Nama      : Ami Misfah Faris Kamaya
Nim         : 2222102495
Semester : V.D
MK          : Kajian Drama



Analisis Drama “Domba-domba Revolusi” karya B. Soelarto


            Si pengamen mengalami peristiwa yang cukup dramatis ketika menginap pada sebuah losmen di kota yang sedang dikepung oleh para tentara Belanda selama beberapa hari. Ia mencintai seorang wanita pemilik losmen tersebut dan sempat melayang nyawanya. Hal ini mebuatnya ikut angkat senjata melawan pasukan tentara Belanda, secara tidak langsung menimbulkan semangat patriotiknya. Namun ia tidak ingin menyebut dirinya seorang partisan maupun orang berjasa. Pengamen ini begitu rendah hati sehingga dalam Domba-domba revolusi disebut sebagai seorang penyair. Inilah eksistensi seniman sebagai seorang yang rendah hati.

1. Tokoh-tokoh “Domba-domba Revolusi”

Perempuan      : Seorang pemilik losmen yang menggambarkan tokoh yang baik.

Penyair            : Seorang Tokoh yang paling dianggap benar, berani, dan suci.

Pedagang        : Seorang yang licik, oportunistik, pemeras, dan mempunyai niat                              buruk mengambil keuntungan dari revolusi kemerdekaan.


2. Sinopsis “ Domba-domba Revolusi “

            Drama Domba-domba revolusi ini mengetengahkan tiga orang dalam satu babak, para pelakunya yaitu perempuan, penyair, dan pedagang yang terdampar pada sebuah losmen di kota yang sedang dikepung tentara Belanda dan hampir direbut pada tahun 1948. Pedagang di sini digambarkan sebagai seorang yang licik, oportunistik, pemeras, dan mempunyai niat buruk mengambil keuntungan dari revolusi kemerdekaan. Mereka hanya memikirkan keselamatan dirinya sendiri. Namun dirinya mati terbunuh. Sedangkan perempuan pemilik losmen tersebut adalah tokoh baik-baik namun terpaksa membunuh juga demi keselamatannya. Hanya penyairlah yang paling dianggap benar, berani, suci seolah menjadi perlambang cita-cita revolusi tersebut.
            Bermula ketika beberapa orang terjebak dalam sebuah losmen di sudut kota yang sedang dilanda perang. Situasi yang serba sulit, ruang gerak yang terbatas. Tidak ada yang berani keluar dari losmen guna mencari informasi tentang perkembangan situasi di kota selain si penyair. Mereka hanya memikirkan bagaimana mendapat keuntungan dari situasi yang sedang terjadi. Konflik di antara mereka semakin rumit setelah mulai tumbuh benih-benih asmara antara si penyair dengan si perempuan pemilik losmen. Di saat si penyair meninggalkan losmen, si pedagang menggunakan segala kelicikan dan memanfaatkan situasi yang terjadi itu. Pedagang menghasut seluruh penghuni losmen dan mempropaganda. Timbullah permukaan konflik, amarah dan rasa curiga kepada para penghuni losmen. Polemik hadir dan memperburuk suasana, membunuh atau terbunuh, menjebak satu sama lain, menjadi jargon yang dihembuskan suara-suara dusta kelicikan dari si pedagang.
            Dalam kondisi seperti itu tetap saja tak dapat menolak kehadiran benih-benih cinta anata si penyair dengan perempuan pemilik losmen. Bukan hanya pujaan hatinya yang mati diberondong senapan serdadu musuh tapi tak disangka ternyata perempuan yang dicintainya tadi tak lain adalah ibu dari si penyair. "Tuhan, ampunilah arwah mereka yang kubunuh dan akan membunuh aku, ampunilah arwah domba-domba revolusi yang sesat."

3. Unsur intrinsik dalam naskah “Domba-domba Revolusi”

            Drama ini terkesan melodramatik. Dari segi premis, Soelarto mantap dengan tema “Terpaan keadaan gawat, akan menampilkan keaslian mental dan kualitas manusia. Yang emas tetap emas. Yang loyang, tetap loyang”. Penulisan lakon dalam Domba-domba revolusi dititikberatkan dalam segi dialog, jadi bahasanya teramat verbal. Unsur suspence dan klimaks kurang terasa hidup akibat verbalistik dalam pelukisan cerita. Pelakunya di dalam lakon tersebut hanya ditampilkan secara en profil. Jadi tidak tersedia pendalaman satu-persatu watak pada setiap pelakunya. Memerlukan tempo kurang lebih satu bulan untuk merampungkan lakon pertama. Itupun setelah bagian akhirnya dirubah beberapa kali, namun secara keseluruhan bobotnya masih terasa ngambang, dan inilah hasil maksimal yang bisa dicapai oleh sebuah lakon bergaya sketsa.

 1)  Alur/Plot

  Alur disebut juga plot. Alur adalah jalinan atau rangkaian peristiwa berdasarkan hubungan waktu dan hubungan sebab- akibat. Sebuah alur cerita juga harus menggambarkan jalannya cerita dari awal (pengenalan) sampai akhir (penyelesaian). Alur cerita terjalin dari rangkaian ketiga unsur, yaitu dialog, petunjuk laku, dan latar/setting. Sebuah alur dapat dikelompokkan dalam beberapa tahapan, sebagai berikut.  



  a.  Pengenalan

            Pengenalan merupakan bagian permulaan pementasan drama, pengenalan para tokoh (terutama tokoh utama), latar pentas, dan pengungkapan masalah yang akan dihadapi penonton.

  Perhatikan penggalan teks drama berikut ini! .
           
Di suatu pagi, sekira jam delapan tiga puluh menit,
si Penyair sudah tiba kembali di Losmen setelah
keluar untuk mencari berita tentang keadaan di luar
sejak pagi-pagi.
  Dia mengambil tempat duduk seenakknya
di ruang tamu Losmen yang terletak di bagian depan.
Tatkala dia sedang enak mencari nada-nada
dan lirik syaire lagunya,
Muncullah si Pemilik Losmen dari pintu luar
dalam dia yang dibalas senyum oleh Penyair.
Dengan senyum sejuk serta anggukan kepala
sambil menerima hidangannya.

b.  Pertikaian

            Setelah tahap pengenalan, drama bergerak menuju pertikaian yaitu pelukisan pelaku yang mulai terlibat ke dalam masalah pokok.
 
Perhatikan penggalan teks drama berikut ini!

PEDAGANG      :Astaga. . . . Aku menemukan sesuatu. . . . (dengan nafas terengah-engah)

PEREMPUAN    :Ada apa ? Pertanda bahayakah. . .??

PENYAIR          :Ada yang mengikutimu ? (Sambil memeriksa keadaan luar)

            Pada kutipan di atas terlihat bahwa drama sudah mulai masuk ke dalam tahap pertikaian atau konflik. Penggambaran masalah sudah semakin jelas bahwa ada bahaya yang menghampiri mereka.


c. Puncak

     Pada tahap ini pelaku mulai terlibat dalam masalah-masalah pokok dan keadaan dibina untuk menjadi lebih rumit lagi. Keadaan yang mulai rumit ini, berkembang hingga  menjadi krisis. Pada tahap ini penonton dibuat berdebar, penasaran  ingin mengetahui  penyelesaiannya.

Perhatikan  petikan drama berikut ini!

PENYAIR          :       Jarak tentara dekat sekali dengan kita, kita ada dalam           bahaya,            sekalipun                             mereka membela kita ! tapi kita ingin terbebas darinya bukan .. . . ? Tapi. . Tak   mungkin rasanya.

PEREMPUAN    :Jadi maksudmu ?

PEDAGANG      :Kita. . . .

PEREMPUAN    :Kita ikut didalamnya. Dalam mempertahankan kota Tengah?

 PEDAGANG     :Begitu maksudmu . . . ??

 PENYAIR         :Ya. . . Tepat sekali, tak ada jalan lain, setidaknya kita dapat        dipercaya.

  Pada kutipan di atas dapat dilihat bahwa puncak masalah itu  adalah terjebaknya mereka hingga harus mencari cara atau jalan keluar untuk dapat selamat.


d.  Penyelesaian

            Pada tahap ini dilukiskan bagaimana sebuah drama berakhir dengan penyelesaian yang menggembirakan atau menyedihkan.  Bahkan dapat pula diakhiri dengan hal yang bersifat samar sehingga mendorong  penonton untuk mengira-ngira dan memikirkan sendiri akhir sebuah cerita.

  Perhatikan penggalan teks  drama berikut ini!

            Suara Bom, tembakan, derap langkah Tentara membuka pintu Losmen terbuka dengan kerasnya. . . .

            Pada tahap penyelesaian drama ini dapat dilihat bahwa drama ini berakhir dengan tanda tanya karena permasalahan itu di akhiri dengan suara bom dan tembakan tanpa diketahui bagaimana nyawa mereka.


2)  Perwatakan atau karakter tokoh

            Tokoh adalah orang-orang yang berperan dalam drama. Dalam cerita, umumnya terdapat tokoh baik (protagonis) dan tokoh jahat (antagonis). Tokoh-tokoh drama disertai penjelasan mengenai nama, umur, jenis kelamin, ciri-ciri fisik, jabatan, dan keadaan kejiwaannya. Watak tokoh akan jelas terbaca dalam dialog dan catatan samping. Watak tokoh dapat dibaca melalui gerak-gerik, suara, jenis kalimat, dan ungkapan yang digunakan.

Perhatikan penggalan teks drama berikut ini!

PENYAIR          :Dalam desakan dan kemiskinan kali ini akal semakin cerik saja, Kau    berniat untuk memperjual belikannya ?? Tak berotak dan meras berotot kau      rupanya. . .?
PEDAGANG      :Aku hanya berusaha bertahan hidup dengan caraku. Dan, hanya ini yang           aku bisa.

PEREMPUAN    :Masuk akal begitu ?? Siapa yang akan membeli ?? dan pastilah para       tentara akan curiga dengan barang-barang jualanku kelak !! Bodoh kau. . .


3) Dialog

     Ciri khas suatu drama adalah naskah tersebut berbentuk percakapan atau dialog. Penulis naskah drama harus memerhatikan pembicaraan yang akan diucapkan. Ragam bahasa dalam dialog antartokoh merupakan ragam lisan yang komunikatif.

Perhatikan penggalan teks drama berikut ini!  

PENYAIR          :Kedengarannya memang aneh. Akan tetapi, begitulah…

PEREMPUAN    :Lalu apa yang Anda kagumi ?

PENYAIR          :Pernyataan saudari tadi.

PEREMPUAN    :Aku tidak mengerti. Coba jelaskan…

            Disebut dialog karena percakapan itu minimal dilakukan oleh dua orang. Kutipan teks drama di atas dapat disebut sebagai dialog karena diucapkan secara bergantian oleh tokoh yang bernama penyair dan perempuan. Selain dialog, dalam drama juga dikenal istilah monolog (adegan sandiwara dengan pelaku tunggal yang membawakan percakapan seorang diri; pembicaraan yang dilakukan dengan diri sendiri), prolog (pembukaan atau pengantar naskah yang berisi keterangan atau pendapat pengarang tentang cerita yang akan disajikan), dan epilog (bagian penutup pada karya sastra yang fungsinya menyampaikan intisari atau kesimpulan pengarang mengenai cerita yang disajikan).


4)  Petunjuk laku

            Petunjuk laku atau catatan pinggir berisi penjelasan kepada pembaca atau para pendukung pementasan mengenai keadaan, suasana, peristiwa, atau perbuatan, tokoh, dan unsur-unsur cerita lainnya. Petunjuk laku sangat diperlukan dalam naskah drama. Petunjuk laku berisi petunjuk teknis tentang tokoh, waktu, suasana, pentas, suara, keluar masuknya aktor atau aktris, keras lemahnya dialog, dan sebagainya. Petunjuk laku ini biasanya ditulis dengan menggunakan huruf yang dicetak miring atau huruf besar semua. Di dalam dialog, petunjuk laku ditulis dengan cara diberi tanda kurung di depan dan di belakang kata atau kalimat yang menjadi petunjuk laku).

Perhatikan petikan drama berikut!

            Penyair menaruh buku dan harmonikanya lalu minum wedang beberapa teguk. Kemudian, pandangannya terarah pada si Pemilik Losmen, dengan sorot mata penuh arti, di tandai dengan senyumannya.

PENYAIR          :Hemm. . . Bagaimana cara aku untuk menjelaskan. (bingung)

PEREMPUAN    :Apa tidak dapat Bung menjelaskan dengan cara-cara yang sederhana saja ??

PENYAIR          :Hemm.. Begini. Maksudku pernyataanmu tadi mengandung unsur-        unsur rasa kasih sayang begitu murni.

PEREMPUAN    :       Oo Begitu ??


5)  Latar atau setting

      Latar atau tempat kejadian sering disebut latar cerita. Pada umumnya, latar menyangkut tiga unsur, yaitu tempat, ruang, dan waktu.

Perhatikan penggalan teks drama berikut ini!

PENYAIR          :Haa. . . Pintar juga mengelak bicara ya. . . jika keadaan di luar sana        menarik perhatianmu, baiklah. Keadaan di luar tambah gawat. Kota ini       praktis dikosongkan sama sekali. Beberapa regu Tentara dan Laska yang          kemarin masih berjaga di beberapa tikungan jalan raya, kini sudah lenyap.

PEREMPUAN    :Sedang menyusun strategi rupanya mereka. . .?

PENYAIR          :Semoga saja, Aku tak yakin akan ketahanan kota tengah ini. Seperti     yang kau tahu saja, sekarang hanya kau yang mau dan mampu untuk tetap         tinggal di kampong halamanmu ini. Kota ini nyaris mati . . . . .

            Dari penggalan teks  drama di atas  dapat diketahui bahwa latar cerita tersebut adalah di ssbuah kota yang bernama Kota Tengah. Hal ini ditunjukkan dengan  kata-kata  tercetak tebal yang  menunjukkan bahwa dialog tersebut dilakukan di sebuah kota.





6)  Tema

            Tema merupakan gagasan pokok yang terkandung di dalam drama. Tema dikembangkan melalui alur dramatik melalui dialog tokoh-tokohnya. Tema drama misalnya kehidupan, persahabatan, kesedihan, dan kemiskinan.

Perhatikan penggalan teks drama berikut ini !

PENYAIR          :Hemm. . . Bagaimana cara aku untuk menjelaskan.

PEREMPUAN    :Apa tidak dapat Bung menjelaskan dengan cara-cara yang sederhana saja ??

PENYAIR          :Hemm.. Begini. Maksudku pernyataanmu tadi mengandung unsur-        unsur rasa kasih sayang begitu murni.

7)  Amanat

            Dalam karyanya, pengarang pasti menyampaikan sebuah amanat.  Amanat merupakan pesan atau nilai-nilai moral  yang bermanfaat  yang terdapat   dalam drama. Amanat dalam drama bisa diungkapkan secara langsung (tersurat), bisa juga tidak langsung atau memerlukan pemahaman lebih lanjut (tersirat). Apabila penonton menyaksikan drama dengan teliti, dia dapat menangkap pesan atau nilai-nilai moral tersebut. Amanat akan lebih mudah ditangkap jika drama tersebut dipentaskan.

Perhatikan penggalan  teks drama berikut ini !

PENYAIR          :Ya.. Begitu. Dan baru pertama kali aku merasa bahwa ada seseorang yang         menaruh perhatian terhadap keselamatan diriku. Dan yang memperhatikannya adalah Wanita.

PEREMPUAN    :Ah Bung ini bicara yang bukan-bukan saja.

PENYAIR          :Tapi bagiku tidak. Pernyataan barusan tadi adalah kata hati yang            tulus.. Bukan Omong iseng. Benar Demikian….?

            Tema kutipan teks drama di atas adalah tentang percintaan antara penyair dan perempuan. Tema dalam sebuah cerita, baik novel, maupun drama, tidak semua seperti contoh di atas yang langsung diungkapkan oleh pengarang. Namun, lebih banyak tema sebuah cerita dapat ditentukan setelah membaca keseluruhan cerita.


4.  Contoh Naskah Drama “Domba-domba revolusi”

          Di suatu pagi, sekira jam delapan tiga puluh menit, si Penyair sudah tiba kembali di Losmen setelah keluar untuk mencari berita tentang keadaan di luar sejak pagi-pagi.
          Dia mengambil tempat duduk seenakknya di ruang tamu Losmen yang terletak di bagian depan. Tatkala dia sedang enak mencari nada-nada dan lirik syaire lagunya, Muncullah si Pemilik Losmen dari pintu luar dalam dia yang dibalas senyum oleh Penyair. Dengan senyum sejuk serta anggukan kepala sambil menerima hidangannya.

PEREMPUAN    : Sudah kuduga, Bung tentu pulang dengan selamat seperti          kemarin pagi. Kalau Bung keluar, aku selalu cemas-cemas           harap. siapa tahu…Bung ditimpa malang. Maklumlah dalam            keadaan begini ada peluru yang sering jatuh salah alamat.

PENYAIR          :Itulah yang menjadi aku kagum.

PEREMPUAN    : Bahwa Bung selalu selamat selama ini ?

PENYAIR          :Bukan, bukan itu. Sebab terus terang saja, aku sendiri     sebenarnya tidak begitu peduli dengan keselamatanku.

PEREMPUAN    : Aneh…

PENYAIR          :Kedengarannya memang aneh. Akan tetapi, begitulah…

PEREMPUAN    :Lalu apa yang Anda kagumi ?

PENYAIR          :Pernyataan saudari tadi.

PEREMPUAN    :Aku tidak mengerti. Coba jelaskan…

PENYAIR          :Maksudku pernyataan saudari itu. . . .

PEREMPUAN    :Ya.. Mengapa ??

PENYAIR          :Hikmahnya terasa begitu puitis.

PEREMPUAN    : Apa itu Pu-i-tis ???