Nama : Jahronah
Nim : 2222112101
Kelas : VD/ Diksatrasia
MK :
Kajian Drama Indoensia (Tugas ke-2)
Pengertian
drama berdasarkan hasil pengelaman sendiri terhadap naskah drama
Setelah
membaca lakon RT NOL RW NOL karya Iwan Simatupang. Saya beranggapan bahwa drama
merupakan cerita sosial pilihan yang pada hakikatnya memberikan pembelajaran
hidup kepada pembaca atau penikmat karya sastra dalam hal ini adalah drama. Cerita
sosial yang disadurkan oleh penulis merupakan cerita pilihan yang mungkin sudah
terjadi baik pada masa naskah drama itu dibuat (berdasarkan keadaan masyarakat
saat itu) ataupun pada masa saat ini. Agar masyarakat memiliki kepekaan
terhadap masalah sosial maka dibuatlah naskah drama yang kemudian dapat
dinikmati baik secara teks ataupun ditampilan secara apik
menjadi sebuah pertunjukan atau aksi. Kehadiran drama di tengah-tengah
masyarakat membawa penikmatnya untuk memahami, menikmati, dan menghargai hidup.
Rt
Nol Rw Nol Karya Iwan Simatupang bagi saya memberikan pemahaman bahwa hidup di kota besar tidak semudah yang diharapkan.
Skill, latar belakang pendidikan, dan bekal material harus benar-benar siap
untuk menjadi bekal di kota besar karena persaingan yang semakin ketat. Jika
tidak, maka dunia gelandangan di pojok-pojok kota besar siap menanti untuk
dihuni dan mempertegas keberadaannya dengan jumlah yang setiap tahunnya semakin
melampaui gedung yang menjulang mencakar langit. Dan akhirnya seperti dalam
nasakah drama lakon Rt Nol Rw Nol karya Iwan Simatupang, sejumlah pekerjaan pun
rela dilakukan demi terpenuhinya kebutuhan jasamani dan rohani sebagai mahluk
sosial.
Nama : Jahronah
Nim : 2222112101
Kelas
: 5D/ Diksatrasia
MK : Kajian Drama Indonesia (tugas
ke 3)
Psikologi Gelandangan Untuk
Bertahan Hidup Di Kota Besar
Dalam Lakon RT Nol RW Nol Karya
Iwan Simatupang
Melalui Kajian Teori Freund
A. Latar
Belakang Masalah
Pesona
gedung-gedung tinggi yang menjulangdi kota besar menjadi pusat perhatian yang
tak henti memikat masyarakat desa untuk pergi mencari penghidupan yang lebih
baik. Sawah, ternak, dan kebun seolah tak sebanding dengan apa yang di dapat
ketika kaki melangkah ke ibu kota. Angan yang terukir luas akan kesejahteraan
hidup memaksa agar rela mengorbankan apa yang dimiliki untuk menjadi modal awal
demi mengejar hidup lebih baik.
Modal besar
tanpa ada keterampilan khusus yang dimiliki tidak menjamin keberhasilan di ibu
kota. Sehingga, keterampilan wajib dimiliki sebagai bekal pribadi selain dari faktor
material yang di dukung oleh latar belakang pendidikan. Ketika keterampilan
tidak dimiliki dan uang yang dimiliki semakin habis maka akan muncul
permasalahn baru, yakni bagaimana cara untuk hidup di ibu kota yang tentunya
dengan biaya yang lebih mahal dari pada hidup di desa.
Gelandangan kota
besar merupakan komunitas yang setiap tahunnya mengalami peningkatan. Komunitas
yang tercipta dari adanya migrasi masyarakat desa ke kota. dunia yang mengisi
pojok-pojok kota besar yakni, gelandangan digandrungi oleh para migran yang
gagal dalam mencapai taraf kehidupan yang lebih baik di ibu kota dan malu untuk
pulang ke kampung halaman.
“Lakon
RT Nol RW Nol” karya Iwan Simatupang menyadurkan
secara sederhana kehidupan gelandangan kota besar untuk bertahan hidup. Hal ini
mendorong penulis untuk mengkaji lebih tentang cara bertahan hidup gelandangan di kota besar yang tertuang dalam
naskah drama tersebut. Untuk mendapatkan hasil yang baik, penulisan menggunakan
teori Freund sebagai dasar dalam mengkaji psikologi tokoh pada “Lakon RT Nol RW Nol” karya Iwan
Simatupang.
Kegiatan
analisis ini diharapkan akan memberikan pemahaman singkat kepada pembaca
tentang dunia gelandagan di kota besar. Tepatnya melalui cerita yang di
sadurkan oleh Iwan Simatupang dalam karyanya “Lakon RT Nol RW Nol”.Sehingga tumbuhnya rasa toleransi dan saling
peduli terhadap masyarakat gelandangan yang diharapkan akan mampu mengurangi
tingkat pengangguran kota besar.
B. Rumusan
Masalah
Dalam rangka
mendukung kegiatan analisi ini, dibutuhkan sebuah fokus analisis. Fokus
analysis atau rumusan masalah yang digunakan untuk menganalisis “Psikologi
Gelandangan Untuk Bertahan Hidup Di Ibu Kota Dalam Lakon RT Nol RW Nol Karya
Iwan Simatupang” ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana
peran psikologi gelandangan dalam bertahan hidup di kota besar pada lakon Rt Nol Rw Nol Karya Iwan Simatupang?
2. Bagaimana
upaya yang dilakukan sebagai gelandangan untuk bertahan hidup di kota besar
pada lakon Rt Nol Rw Nol Karya Iwan
Simatupang?.
3. Bagaimana
sikap lingkungan terhadap gelandangan kota besar pada lakon Rt Nol Rw Nol Karya Iwan Simatupang?
C. Manfaat
Analisis
Manfaat yang diharapkan dari kegiatan analisis
“Psikologi Gelandangan Untuk Bertahan Hidup Di Ibu Kota Dalam Lakon RT Nol RW
Nol Karya Iwan Simatupang”, antara lain:
1. Untuk
mengetahui psikologi gelandangan kota besar dalam upaya bertahan hidup pada lakon Rt Nol Rw Nol Karya Iwan Simatupang;
2. Untuk
mengetahui perjuangan gelandangan kota besar dalam bertahan hidup pada lakon Rt Nol Rw Nol Karya Iwan Simatupang;
3. Untuk
memberikan pemahaman kepada para pembaca tentang dunia gelandangan, sehingga
diharapkan adanya rasa toleransi dan saling menghargai terhadap dunia
gelandangan.
D. Landasan
Teori
1. Anomali
Iatilah Gelandangan
Istilah gelandangan berasal dari kata
gelandangan, yang artinya selalu berkeliaran atau tidak pernah mempunyai tempat
kediaman tetap (Suparlan, 1993). Pada umumnya para gelandangan adalah kaum
urban yang berasal dari desa dan mencoba nasib dan peruntungannya di kota,
namun tidak didukung oleh tingkat pendidikan yang cukup, keahlian pengetahuan
spesialisasi dan tidak mempunyai modal uang. Sebagai akibatnya, mereka bekerja
serabutan dan tidak tetap, terutamanya di sektor informal, semisal pemulung,
pengamen dan pengemis.
Ali, dkk.(1990) menyatakan bahwa gelandangan
berasal dari gelandang yang berarti selalu mengembara, atau berkelana (lelana). Adapun
indikator gelandangan yaitu sebagai berikut : (1) Anak sampai usia dewasa; (2)
Tinggal disembarang tempat dan hidup mengembara atau mengelandang
ditempat-tempat umum, biasanya dikota-kota besar; (3) Tidak mempunyai tanda
pengenal atau identitas diri, berperilaku bebas/ liar, terlepas dari norma
kehidupan masyarakat umumnya; (4) Tidak mempunyai pekerjaan tetap,
meminta-minta atau mengambil sisa makanan atau barang bekas. Secara umum gelandangan
ada 2 yaitu gelandangan psikotik dan gelandangan non-psikotik.Gelandangan
non-psikotik pun dibagi menjadi dua yaitu mereka yang menggelandang karena
malas bekerja dan mereka yang menggelandang karena desakan ekonomi.
Istilah terakhir yang sering diasosiasikan
dengan gelandangan adalah pemulung. Pemulung dapat diartikan sebagai orang yang
kegiatannya mengambil dan mengumpulkan barang-barang bekas yang masih memiliki
nilai jual yang kemudian akan dijual kepada juragan barang bekas (Saraswati
dalam Aswab, 1986). Pemulung juga dapat didefinisikan sebagai orang yang
mempunyai pekerjaan utama sebagai pengumpul barang-barang bekas untuk mendukung
kehidupannya sehari-hari, yang tidak mempunyai kewajiban formal dan tidak
terdaftar di unit administrasi pemerintahan (Y. Argo Twikromo, 1999).
2.
Pengertian Psikologi Sastra
Psikologi sastra
lahir sebagai salah satu jenis kajian sastra yang digunakan untuk membaca dan
menginterpretasikan karya sastra, pengarang karya sastra dan pembacanya dengan
menggunakan berbagai konsep dan kerangka teori yang ada dalam
psikologi.hubungan antara psikologi dan sastra akan bertemu, sehingga
melahirkan pedekatan atau tipe kritik sastra yang disebut psikologi sastra.
1.
Teori Psikologi Freund
Psikoanalisis
dicetuskan oleh Sigmund Freud (1856-1939).Seperti diuraikan oleh Bertens (2006:
9), Freud lahir tanggal 6 Mei 1856 di Freiberg, Moeavia (pada waktu merupakan
suatu daerah di kekaisaran Austria-Hongaria,sekarang termasuk Republik Ceko).Beberapa
konsep dasar teori Freud adalah tentang kesadaran dan ketidaksadaran yang
dianggap sebagai aspek kepribadian dan tentang insting dan kecemasan.Menurut
Freud (via Walgito, 2004:77) kehidupan psikis mengandung dua bagian, yaitu
kesadaran dan ketidaksadaran.Bagian kesadaran bagaikan permukaan gunung es yang
nampak, merupakan bagian kecil dari kepribadian, sedangkan bagian
ketidaksadaran (yang ada di bawah permukaan air) mengandung insting-insting
yang mendorong semua perilaku manusia.
Selanjutnya
Freud menggembangkan konsep id, ego, dan superego sebagai
struktur kepribadian.Id berkaitan dengan ketidaksadaran yang merupakan
bagian yang primitif dari kepribadian.Kekuatan yang berkaitan dengan id
mencakup insting seksual dan insting agresif.Id membutuhkan pemenuhan
dengan segera tanpa memperhatikan lingkungan realitas secara objektif.Freud
menyebutnya sebagai prinsip kenikmatan.Ego sadar akan realitas. Oleh
karena itu, Freud menyebutnya sebagai prinsip realitas.Ego menyesuaikan
diri dengan realitas.Superego mengontrol mana perilaku yang boleh
dilakukan, mana yang tidak.Oleh karena itum Freud menyebutnya sebagai prinsip
moral.Superego berkembang pada permulaan masa anak sewaktu
peraturan-peraturan diberikan oleh orang tua dengan menggunakan hadiah dan
hukuman.Perbuatan anak semula dikontrol orang tuanya, tetapi setelah superego
terbentuk, maka control dari superegonya sendiri (Walgito, 2004:77).
Menurut Freud
(Walgito, 2004:78) insting dibedakan menjadi dua kategori, yaitu insting untuk
hidup dan insting untuk mati.Insting untuk hidup mencakup lapar, haus, dan
seks.Insting ini merupakan kekuatan yang kreatif dan bermanifestasi yang
disebut libido.Sebaliknya, insting untuk mati merupakan kukuatan destruktif,
yang dapat ditujukan pada diri sendiri, seperti menyakiti diri, bunuh diri,
atau ditujukan ke luar sebagai bentuk agresi.
Mengenai
kecemasan (anxiety), Freud (Walgito, 2004:78) mengemukakan adanya tiga
macam kecemasan, yaitu kecemasan objektif, neuretik, dan moral.Kecemasan
objektif timbul dari ketakutan terhadap bahaya yang nyata. Kecemasan neuretik
merupakan ketakutan akan mendapat hukuman untuk ekspresi keinginan yang
impulsif. Kecemasan moral timbul ketika seseorang melanggar norma-norma moral
yang ada.
E. Pembahasan
1. Psikologi
gelandangan dalam bertahan hidup di kota besar pada lakon Rt Nol Rw Nol Karya Iwan Simatupang.
Dalam analisis Psikologi Gelandangan Untuk Bertahan Hidup
Di Ibu Kota Dalam Lakon RT Nol RW Nol Karya Iwan Simatupang, akan di bahas dengan
menggunakan teori Psikologi pada tokoh karya sastra yang di kemukakan oleh
Freund. Id, ego, dan superego sebagai struktur kepribadian,
insting dan kecemasan akan menjadi fokus utama dalam tindak analisis.
a.
Seperti di jelaskan oleh freund
diatas id berkaitan dengan kekuatan yang mencakup insting seksual dan insting
agresif. Dalam pemenuhannya bersifat segera dan tidak memandang ligkungan
realitas seacar objektif. Freund menyebut id sebagai prinsip kenikmatan.
Keterangan ini tercermin dari percakapan Ani kepada Pincang.
Ani
: Saham? Kau hingga kini kontan
mencicipi hasil sahammu yang setengah semua itu.cih, labu siam, labu prei,
beras menir, dan ubi yang semunya setengah atau malah semua busuk. Dan itu kau
anggap senilai dengan tubuh panas wanita semalam suntuk, hah?! Kau anggap apa
si Ina ini? Kau anggap apa kami wanita ini, hah? (insting seksual).
b. Superego
megontrol mana perilaku yang boleh dilakukan, dan mana yang tidak. Freund
menyebut superego sebagai prinsip moral. Dalam lakon RT Nol RW Nol Karya Iwan
Simatupang, prinsip moral terrekam pada percakapan antara Kakaek dan Bopeng.
Kakek : ada punting?
Bopeng : sabar, rokok sungguhpun ada, malah
sebungkus utuh. Juga aku bawa nasi rames empat bungkus.
Kakak : na…. nasi rames? Kau kan tak merampok
hari ini?
Bopeng :syukur, belum sejauh itu aku merendahkan
diriku, kek.
Dalam Lakon RT Nol RW Nol Karya Iwan
Simatupang ini, sebagai pembaca menangkap adanya insting yang masuk dalam
katagori insting untuk hidup.dimana dalam kehidupan gelandangan dalam naskah
drama terlihat usaha keras untuk memenuhi kebutuhan jasmani. Pincang dan Kakek
yang rela memakan masakan yang serba setengah busuk atau hampir busuk. Ani dan
Ina yang bekerja sebagai pelacur demi makan nasi panas, sepotong daging
rending, telor balado, dan segelas penuh tes manis panas. Dan kebutuhan seks
yang di terpenuhi dengan cara kumpul kebo sesame penghuni kolong jembatan kota
besar. Pincang yang berpasangan dengan Ina, dan Ani yang berpasangan dengan
Bopeng.
Freund juga
telah menjelaskan ada tiga jenis kecemasan, yaitu kecemasan objektif, neuretik,
dan moral.dalamLakon RT Nol RW Nol
Karya Iwan Simatupang, ketiga jenis kecemasan yang di kemukakan oleh Freund
terangkum dalam rekaman ketika Ani dan Ina yang cemas tertangkap razia polisi
ketika sedang melakukan operasi, di giring ketruk terbuka. Dengan kesadaran
penuh telah melakukan hal yang menyalahi hukum negeri maupun adat.Kecemasan
semakin menggila karena tidak memiliki kartu identitas/ atau kartu penduduk.
2. Upaya
yang dilakukan sebagai gelandangan untuk bertahan hidup di kota besar pada lakon Rt Nol Rw Nol Karya Iwan Simatupang.
Gelandangan kota
besar masih tetap sebagai manusia yang memiliki akal dan pikiran. Bekal
terakhir untuk hidup.Menggerakan langkah untuk mencari makan pengisi
perut-perut yang wajib terpenuhi. Begitupun gelandagan yang terdapat dalam Lakon RT Nol RW Nol Karya Iwan
Simatupang, yang dapat dijelaskan sebagai berikut:
Ø Pincang
dan Kekek memakan makanan yang setengah busuk atau malah semua busuk untuk
bertahan hidup;
Ø Ani
dan Ina menjadi wanita malam untuk dapat membeli makanan yang diinginkan; dan
Ø Bopeng
bernasib baik menjadi kelasi kapal yang berkesempatan meninggalkan dunia
gelandangan di bawah jembatan.
3. Sikap
lingkungan terhadap gelandangan kota besar pada lakon Rt Nol Rw Nol Karya Iwan Simatupang
Lakon
RT Nol RW Nol Karya Iwan Simatupang menjelaskan bahwa
masyarakat tidak memberi kesempatan kepada para gelandangan untuk bekerja
seperti manusia normal pada umumnya. Hal ini semakin mendorong para gelandangan
tidak terlepas dari komunitas yang di pandang kasta terendah di kota besar.
Berikut ini percakapan antara Kakek dan picang yang menjelaskan ketidak
pedulian masyarakat terhadap para gelandangan yang ingin mendapat hidup lebih
baik.
Kakak : kalau tidak
salah kau tidak henti-hentinya cari kerja?
Pincang : ya, tapi tak pernah dapat.
Kakek : alasannya?
Pincang : masyarakat punya
prasangka-prasangka tertentu terhadap jenis manusia seperti kita ini.
Kakek : eh, bagaimana rupanya seperti
kita ini?
Pincang : masyarakat telah mempunyai
keyakikan yang berakar dalam, bahwa, manusia gelandangan seperti kita sudah tak
mungkin bekerja lagi dalam arti yang sebenarnya.
Kakek : menurut mereka, kita Cuma bisa
apa?
Pincang : tidak banyak, kecuali barang kali
sekedar mempertahankan hidup taraf sekedar tidak mati saja. Dengan batok kotor
kita yang kita tengadahkan kepada siapa saja, kearah mana saja.Mereka anggap
kita ini sebagai suatu kasta tersendiri.Kasta paing hina, paling rendah.
Sekuen Naskah Drama Lakon Malam Jahanam Karya Motinggo Buesje
Analisis
Struktur Teks (konstruksi plot atau satuan peristiwa) pada lakon Malam Jahanam
Karya Motinggo Buesje.
Prolog :
Menceritakan kondisi masyarakat kampung nelayan di pinggiran laut kota mulai
dari sikap, kebiasaan sampai cara berpakaian.
1. Mendeskripsikan
keadaan rumah Mat Kontan dan Soleman yang saling berhadapan/bersebrangan. Serta
menceritakan kebiasaan yang sering dilakukan keduanya di depan rumah.
2. Paijah
dan Utai/ teras rumah Mat Kontan
Di depan teras rumah
Paijah menunggu Mat Kontan suaminya yang dari pagi tadi belum pulang. Paijah
ditemani oleh Utai.
3. Soleman,
Paijah, Utai, dan Tukang Pijat/ teras rumah Mat Kontan
Soleman menghampiri
Paijah yang keluar dari dalam rumah. Paijah hawatir pada si kontan kecil yang
sakit dan Mat Kontan yang belum pulang. Soleman menunjukan kepeduliannya
terhadap Paijah dan si Kontan kecil.
4. Mat
Kontan, Soleman, dan Paijah / di pekarangan rumah
Mat Kontan pulang
dengan membawa burung perkutut yang dibanggakannya, tanpa ada rasa khawatir
sedikitpun dengan keadaan si Kontan Kecil yang sakit dan terhadap Paijah yang
dari tadi menunggunya pulang. Kemudian, Mat Kontan berbincang-bincang di teras
rumah bersama Soleman tentang perjalanannya ke kota Agung untuk membanggakan
kepunyaannya yakni istri cantik dan si Kecil Kontan sebagai bukti dirinya tidak
mandul. Berbicara tentang pasir boblos yang hampir merenggut nyawa Mat Kontan
serta membicarakan Paijah dan tak lupa si Kontan kecil.
5. Mat
Kontan, Utai, dan Paijah / di pekarangan rumah Mat Kontan
Mat Kontan histeris
mengetahui burung beo kesayangannya hilang, yang diketahui Utai telah meniggal
di dekat sumur dengan leher berdarah. Mat Kontan bermaksud ke tukang nujum
untuk mencari tahu siapa yang telah memotong leher burung kebanggaannya. Paijah
sadar Mat Kontan lebih perduli pada burung beonya dari pada pada si Kontan
Kecil yang sakit panas.
6. Paijah
dan Soleman / Di rumah Soleman
Paijah mendatangi
Soleman di rumahnya ketika Mat Kontan pergi bersama Utai ke tukang nujum.
Paijah mengutarakan kecemasannya pada Soleman bahwa takut dituduh Mat Kontan,
ia yang telah membunuh burung beo kesayangan suaminya. Dan di sisi lain Paijah
takut perbuatan jahanamnya dengan Soleman diketahui Maat Kontan. Paijah yang
ingin memiliki seorang anak akhirnya melakukan perbuatan jahanam setelah
Soleman bersedia mewujudkan permintaanya dan Si Kontan kecil pun lahir.
Tak diduga Soleman
berkata jujur pada Paijah bahwa dia merupakan keturunan jahanam. Bapak dan
Ibunya melakukan perbuatan Jahanam meskipun keduanya telah sah emnjadi suami
istri. Soleman pun berjanji pada Paijah akan melindunginya jika Mat Kontan melakukan
sesuatu terhadapnya. Soleman mengaku pada Paijah bahwa dia yang telah membunuh
burung beo Mat Kontan karena kesal dengan ejekan beo Mat kontan terhadapnya
yang meniru perkataan Paijah ketika dia mengganggu/ memegang tangan paijah
“jangan ganggu saya”.
7. Mat
Kontan, Paijah, Soleman, dan Utai / Teras Rumah
Mat Kontan dan Utai
tidak berhasil menemui tukang nujum langganannya Mat Kontan karena tukang nujum
ternyata sudah meninggal. Soleman yang menghampiri berusaha menenangkan Mat
Kontan tapi seketika Mat Kontan langsung menuju Paijah yang telah membunuh beo
kebanggaannya. Pertengkaran suami istri dengan tangis si Kontan kecil yang
sakit pun terjadi di dalam rumah yang disaksikan oleh Soleman dan Utai.
Paijah mengancam minggat pada Mat Kontan
dengan menggendong si Kontan kecil yang menangis. Dengan setengah takut Paijah
lari kebangku dan duduk.
8. Mat
Kontan, Soleman, dan Paijah/ teras rumah Mat Kontan
Pertengkaran masih
berlanjut. Paijah mengungkapkan kesedihannya yang merasa tidak diperdulikan
oleh Mat Kontan. Paijah mencari perlindungan pada Soleman tetapi Soleman
mematung terdiam dan itu membuat Paijah muak terhadapnya. Akhirnya Paijah
mengaku dia yang telah memotong leher beo kesayangan suaminya dengan alasan
seperti yang diungkapkan Soleman kepadanya.
9. Mat
Kontan, Soleman dan Paijah/ di teras rumah Mat Kontan
Soleman tetap terdiam
dengan pengakuan Paijah pada Mat Kontan. Tapi akhirnya Soleman mengaku bahwa
dia yang telah memotong leher beo Mat Kontan
dan mengaku perbuatan jahanamnya dengan Paijah pada Mat Kontan dan si
Kontan kecil pun di akui Soleman sebagai anaknya. Mat Kontan marah besar tapi
marahnya Mat Kontan diredam oleh Soleman dengan mengungkit kembali kejadian di
pantai pasir boblos dengan Mat Kontan pun tersungkur lemas. Mat Kontan bangkit dan
ia merelakan Paijah dan si Kontan kecil untuk dimiliki oleh Soleman. Mat Kontan
pun pergi.
10. Soleman,
Paijah/ di teras rumah Soleman
Soleman menyesal atas
perbuatannya terhadap sahabatnya Mat Kontan. Ia bermaksud mengembalikan Paijah
dan si Kontan kecil pada Mat Kontan tapi Paijah menahannya. Soleman merujuk
pada Paijah untuk membawa si Kontan kecil yang menangis untuk dibawa ke pak
Mangun dan kedunya pun masuk ke rumah Paijah.
11. Mat
Kontan dan Utai / datang dari arah pantai yang gelap.
Mat Kontan dan Utai kembali
pada Soleman dengan membawa golok yang dipersiapkannya untuk Soleman. Soleman
memandangi keduanya dari depan rumah Mat Kontan dan menghampiri keduanya.
12. Mat
Kontan Paijah/ ruamh Mat Kontan
Mat Kontan datang pada
Paijah dan menceritakan kejadian yang terjadi pada utai dan Soleman. Utai
meninggal dengan leher terputus dan Soleman selamat sampai ke gerbong kereta
api dan kemudian menghilang. Utai meninggal untuk menutupi aib keluarga Mat
Kontan.
13. Mat
Kontan dan Tukang Pijat/ teras rumah Mat Kontan
Tukang pijat memberi
kabar pada Mat Kontan tentang kematian Utai. Mat Kontan pergi dalam kegelapan.
14. Paijah
dan Tukang Pijat/ teras rumah Mat Kontan
Paijah memberi kabar pada Tukang
Pijat bahwa anaknya telah meninggal.
Dari sekuen yang telah dibuat di atas maka dapat disimpulkan:
Prolog sampai sekuen 3 merupakan pengenalan cerita atau
eksposisi;
Sekuen 4 sampai 7 merupakan komplikasi atau pertikaian
awal;
Sekuen 8 sampai 9 merupakan klimaks atau puncak cerita;
Sekuen 10 sampai
11 merupakan bagian anti klimak;
Sekuen 12 sampai 14 merupakan penyelesaian klimak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar