Selasa, 08 Oktober 2013

Jahronah (2222112101)



Nama               : Jahronah
Nim                 : 2222112101
Kelas               : VD/ Diksatrasia
MK                  : Kajian Drama Indoensia (Tugas ke-2)
Pengertian drama berdasarkan hasil pengelaman sendiri terhadap naskah drama
Setelah membaca lakon RT NOL RW NOL karya Iwan Simatupang. Saya beranggapan bahwa drama merupakan cerita sosial pilihan yang pada hakikatnya memberikan pembelajaran hidup kepada pembaca atau penikmat karya sastra dalam hal ini adalah drama. Cerita sosial yang disadurkan oleh penulis merupakan cerita pilihan yang mungkin sudah terjadi baik pada masa naskah drama itu dibuat (berdasarkan keadaan masyarakat saat itu) ataupun pada masa saat ini. Agar masyarakat memiliki kepekaan terhadap masalah sosial maka dibuatlah naskah drama yang kemudian dapat dinikmati baik secara teks ataupun ditampilan secara apik menjadi sebuah pertunjukan atau aksi. Kehadiran drama di tengah-tengah masyarakat membawa penikmatnya untuk memahami, menikmati, dan menghargai hidup.
Rt Nol Rw Nol Karya Iwan Simatupang bagi saya memberikan pemahaman bahwa hidup  di kota besar tidak semudah yang diharapkan. Skill, latar belakang pendidikan, dan bekal material harus benar-benar siap untuk menjadi bekal di kota besar karena persaingan yang semakin ketat. Jika tidak, maka dunia gelandangan di pojok-pojok kota besar siap menanti untuk dihuni dan mempertegas keberadaannya dengan jumlah yang setiap tahunnya semakin melampaui gedung yang menjulang mencakar langit. Dan akhirnya seperti dalam nasakah drama lakon Rt Nol Rw Nol karya Iwan Simatupang, sejumlah pekerjaan pun rela dilakukan demi terpenuhinya kebutuhan jasamani dan rohani sebagai mahluk sosial.


Nama              : Jahronah
Nim                 : 2222112101
Kelas               : 5D/ Diksatrasia
MK                 : Kajian Drama Indonesia (tugas ke 3)

Psikologi Gelandangan Untuk Bertahan Hidup Di Kota Besar
Dalam Lakon RT Nol RW Nol Karya Iwan Simatupang
Melalui Kajian Teori Freund
A.    Latar Belakang Masalah
Pesona gedung-gedung tinggi yang menjulangdi kota besar menjadi pusat perhatian yang tak henti memikat masyarakat desa untuk pergi mencari penghidupan yang lebih baik. Sawah, ternak, dan kebun seolah tak sebanding dengan apa yang di dapat ketika kaki melangkah ke ibu kota. Angan yang terukir luas akan kesejahteraan hidup memaksa agar rela mengorbankan apa yang dimiliki untuk menjadi modal awal demi mengejar hidup lebih baik.
Modal besar tanpa ada keterampilan khusus yang dimiliki tidak menjamin keberhasilan di ibu kota. Sehingga, keterampilan wajib dimiliki sebagai bekal pribadi selain dari faktor material yang di dukung oleh latar belakang pendidikan. Ketika keterampilan tidak dimiliki dan uang yang dimiliki semakin habis maka akan muncul permasalahn baru, yakni bagaimana cara untuk hidup di ibu kota yang tentunya dengan biaya yang lebih mahal dari pada hidup di desa.
Gelandangan kota besar merupakan komunitas yang setiap tahunnya mengalami peningkatan. Komunitas yang tercipta dari adanya migrasi masyarakat desa ke kota. dunia yang mengisi pojok-pojok kota besar yakni, gelandangan digandrungi oleh para migran yang gagal dalam mencapai taraf kehidupan yang lebih baik di ibu kota dan malu untuk pulang ke kampung halaman.
“Lakon RT Nol RW Nol” karya Iwan Simatupang menyadurkan secara sederhana kehidupan gelandangan kota besar untuk bertahan hidup. Hal ini mendorong penulis untuk mengkaji lebih tentang cara bertahan hidup  gelandangan di kota besar yang tertuang dalam naskah drama tersebut. Untuk mendapatkan hasil yang baik, penulisan menggunakan teori Freund sebagai dasar dalam mengkaji psikologi tokoh pada “Lakon RT Nol RW Nol” karya Iwan Simatupang.
Kegiatan analisis ini diharapkan akan memberikan pemahaman singkat kepada pembaca tentang dunia gelandagan di kota besar. Tepatnya melalui cerita yang di sadurkan oleh Iwan Simatupang dalam karyanya “Lakon RT Nol RW Nol”.Sehingga tumbuhnya rasa toleransi dan saling peduli terhadap masyarakat gelandangan yang diharapkan akan mampu mengurangi tingkat pengangguran kota besar.
B.     Rumusan Masalah
Dalam rangka mendukung kegiatan analisi ini, dibutuhkan sebuah fokus analisis. Fokus analysis atau rumusan masalah yang digunakan untuk menganalisis “Psikologi Gelandangan Untuk Bertahan Hidup Di Ibu Kota Dalam Lakon RT Nol RW Nol Karya Iwan Simatupang” ini adalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana peran psikologi gelandangan dalam bertahan hidup di kota besar pada lakon Rt Nol Rw Nol Karya Iwan Simatupang?
2.      Bagaimana upaya yang dilakukan sebagai gelandangan untuk bertahan hidup di kota besar pada lakon Rt Nol Rw Nol Karya Iwan Simatupang?.
3.      Bagaimana sikap lingkungan terhadap gelandangan kota besar pada lakon Rt Nol Rw Nol Karya Iwan Simatupang?
C.     Manfaat Analisis
Manfaat yang diharapkan dari kegiatan analisis “Psikologi Gelandangan Untuk Bertahan Hidup Di Ibu Kota Dalam Lakon RT Nol RW Nol Karya Iwan Simatupang”, antara lain:
1.      Untuk mengetahui psikologi gelandangan kota besar dalam upaya bertahan hidup pada lakon Rt Nol Rw Nol Karya Iwan Simatupang;
2.      Untuk mengetahui perjuangan gelandangan kota besar dalam bertahan hidup pada lakon Rt Nol Rw Nol Karya Iwan Simatupang;
3.      Untuk memberikan pemahaman kepada para pembaca tentang dunia gelandangan, sehingga diharapkan adanya rasa toleransi dan saling menghargai terhadap dunia gelandangan.

D.    Landasan Teori
1.      Anomali Iatilah Gelandangan
Istilah gelandangan berasal dari kata gelandangan, yang artinya selalu berkeliaran atau tidak pernah mempunyai tempat kediaman tetap (Suparlan, 1993). Pada umumnya para gelandangan adalah kaum urban yang berasal dari desa dan mencoba nasib dan peruntungannya di kota, namun tidak didukung oleh tingkat pendidikan yang cukup, keahlian pengetahuan spesialisasi dan tidak mempunyai modal uang. Sebagai akibatnya, mereka bekerja serabutan dan tidak tetap, terutamanya di sektor informal, semisal pemulung, pengamen dan pengemis.
Ali, dkk.(1990) menyatakan bahwa gelandangan berasal dari gelandang yang berarti selalu mengembara, atau berkelana (lelana). Adapun indikator gelandangan yaitu sebagai berikut : (1) Anak sampai usia dewasa; (2) Tinggal disembarang tempat dan hidup mengembara atau mengelandang ditempat-tempat umum, biasanya dikota-kota besar; (3) Tidak mempunyai tanda pengenal atau identitas diri, berperilaku bebas/ liar, terlepas dari norma kehidupan masyarakat umumnya; (4) Tidak mempunyai pekerjaan tetap, meminta-minta atau mengambil sisa makanan atau barang bekas. Secara umum gelandangan ada 2 yaitu gelandangan psikotik dan gelandangan non-psikotik.Gelandangan non-psikotik pun dibagi menjadi dua yaitu mereka yang menggelandang karena malas bekerja dan mereka yang menggelandang karena desakan ekonomi.
Istilah terakhir yang sering diasosiasikan dengan gelandangan adalah pemulung. Pemulung dapat diartikan sebagai orang yang kegiatannya mengambil dan mengumpulkan barang-barang bekas yang masih memiliki nilai jual yang kemudian akan dijual kepada juragan barang bekas (Saraswati dalam Aswab, 1986). Pemulung juga dapat didefinisikan sebagai orang yang mempunyai pekerjaan utama sebagai pengumpul barang-barang bekas untuk mendukung kehidupannya sehari-hari, yang tidak mempunyai kewajiban formal dan tidak terdaftar di unit administrasi pemerintahan (Y. Argo Twikromo, 1999).
2.      Pengertian Psikologi Sastra
Psikologi sastra lahir sebagai salah satu jenis kajian sastra yang digunakan untuk membaca dan menginterpretasikan karya sastra, pengarang karya sastra dan pembacanya dengan menggunakan berbagai konsep dan kerangka teori yang ada dalam psikologi.hubungan antara psikologi dan sastra akan bertemu, sehingga melahirkan pedekatan atau tipe kritik sastra yang disebut psikologi sastra.
1.      Teori Psikologi Freund
Psikoanalisis dicetuskan oleh Sigmund Freud (1856-1939).Seperti diuraikan oleh Bertens (2006: 9), Freud lahir tanggal 6 Mei 1856 di Freiberg, Moeavia (pada waktu merupakan suatu daerah di kekaisaran Austria-Hongaria,sekarang termasuk Republik Ceko).Beberapa konsep dasar teori Freud adalah tentang kesadaran dan ketidaksadaran yang dianggap sebagai aspek kepribadian dan tentang insting dan kecemasan.Menurut Freud (via Walgito, 2004:77) kehidupan psikis mengandung dua bagian, yaitu kesadaran dan ketidaksadaran.Bagian kesadaran bagaikan permukaan gunung es yang nampak, merupakan bagian kecil dari kepribadian, sedangkan bagian ketidaksadaran (yang ada di bawah permukaan air) mengandung insting-insting yang mendorong semua perilaku manusia.
Selanjutnya Freud menggembangkan konsep id, ego, dan superego sebagai struktur kepribadian.Id berkaitan dengan ketidaksadaran yang merupakan bagian yang primitif dari kepribadian.Kekuatan yang berkaitan dengan id mencakup insting seksual dan insting agresif.Id membutuhkan pemenuhan dengan segera tanpa memperhatikan lingkungan realitas secara objektif.Freud menyebutnya sebagai prinsip kenikmatan.Ego sadar akan realitas. Oleh karena itu, Freud menyebutnya sebagai prinsip realitas.Ego menyesuaikan diri dengan realitas.Superego mengontrol mana perilaku yang boleh dilakukan, mana yang tidak.Oleh karena itum Freud menyebutnya sebagai prinsip moral.Superego berkembang pada permulaan masa anak sewaktu peraturan-peraturan diberikan oleh orang tua dengan menggunakan hadiah dan hukuman.Perbuatan anak semula dikontrol orang tuanya, tetapi setelah superego terbentuk, maka control dari superegonya sendiri (Walgito, 2004:77).
Menurut Freud (Walgito, 2004:78) insting dibedakan menjadi dua kategori, yaitu insting untuk hidup dan insting untuk mati.Insting untuk hidup mencakup lapar, haus, dan seks.Insting ini merupakan kekuatan yang kreatif dan bermanifestasi yang disebut libido.Sebaliknya, insting untuk mati merupakan kukuatan destruktif, yang dapat ditujukan pada diri sendiri, seperti menyakiti diri, bunuh diri, atau ditujukan ke luar sebagai bentuk agresi.
Mengenai kecemasan (anxiety), Freud (Walgito, 2004:78) mengemukakan adanya tiga macam kecemasan, yaitu kecemasan objektif, neuretik, dan moral.Kecemasan objektif timbul dari ketakutan terhadap bahaya yang nyata. Kecemasan neuretik merupakan ketakutan akan mendapat hukuman untuk ekspresi keinginan yang impulsif. Kecemasan moral timbul ketika seseorang melanggar norma-norma moral yang ada.
E.     Pembahasan
1.      Psikologi gelandangan dalam bertahan hidup di kota besar pada lakon Rt Nol Rw Nol Karya Iwan Simatupang.
Dalam analisis Psikologi Gelandangan Untuk Bertahan Hidup Di Ibu Kota Dalam Lakon RT Nol RW Nol Karya Iwan Simatupang, akan di bahas dengan menggunakan teori Psikologi pada tokoh karya sastra yang di kemukakan oleh Freund. Id, ego, dan superego sebagai struktur kepribadian, insting dan kecemasan akan menjadi fokus utama dalam tindak analisis.
a.      Seperti di jelaskan oleh freund diatas id berkaitan dengan kekuatan yang mencakup insting seksual dan insting agresif. Dalam pemenuhannya bersifat segera dan tidak memandang ligkungan realitas seacar objektif. Freund menyebut id sebagai prinsip kenikmatan. Keterangan ini tercermin dari percakapan Ani kepada Pincang.
Ani            : Saham? Kau hingga kini kontan mencicipi hasil sahammu yang setengah semua itu.cih, labu siam, labu prei, beras menir, dan ubi yang semunya setengah atau malah semua busuk. Dan itu kau anggap senilai dengan tubuh panas wanita semalam suntuk, hah?! Kau anggap apa si Ina ini? Kau anggap apa kami wanita ini, hah? (insting seksual).
b.      Superego megontrol mana perilaku yang boleh dilakukan, dan mana yang tidak. Freund menyebut superego sebagai prinsip moral. Dalam lakon RT Nol RW Nol Karya Iwan Simatupang, prinsip moral terrekam pada percakapan antara Kakaek dan Bopeng.
Kakek        : ada punting?
Bopeng      : sabar, rokok sungguhpun ada, malah sebungkus utuh. Juga aku bawa nasi rames empat bungkus.
Kakak        : na…. nasi rames? Kau kan tak merampok hari ini?
Bopeng      :syukur, belum sejauh itu aku merendahkan diriku, kek.
Dalam Lakon RT Nol RW Nol Karya Iwan Simatupang ini, sebagai pembaca menangkap adanya insting yang masuk dalam katagori insting untuk hidup.dimana dalam kehidupan gelandangan dalam naskah drama terlihat usaha keras untuk memenuhi kebutuhan jasmani. Pincang dan Kakek yang rela memakan masakan yang serba setengah busuk atau hampir busuk. Ani dan Ina yang bekerja sebagai pelacur demi makan nasi panas, sepotong daging rending, telor balado, dan segelas penuh tes manis panas. Dan kebutuhan seks yang di terpenuhi dengan cara kumpul kebo sesame penghuni kolong jembatan kota besar. Pincang yang berpasangan dengan Ina, dan Ani yang berpasangan dengan Bopeng.
Freund juga telah menjelaskan ada tiga jenis kecemasan, yaitu kecemasan objektif, neuretik, dan moral.dalamLakon RT Nol RW Nol Karya Iwan Simatupang, ketiga jenis kecemasan yang di kemukakan oleh Freund terangkum dalam rekaman ketika Ani dan Ina yang cemas tertangkap razia polisi ketika sedang melakukan operasi, di giring ketruk terbuka. Dengan kesadaran penuh telah melakukan hal yang menyalahi hukum negeri maupun adat.Kecemasan semakin menggila karena tidak memiliki kartu identitas/ atau kartu penduduk.
2.      Upaya yang dilakukan sebagai gelandangan untuk bertahan hidup di kota besar pada lakon Rt Nol Rw Nol Karya Iwan Simatupang.
Gelandangan kota besar masih tetap sebagai manusia yang memiliki akal dan pikiran. Bekal terakhir untuk hidup.Menggerakan langkah untuk mencari makan pengisi perut-perut yang wajib terpenuhi. Begitupun gelandagan yang terdapat dalam Lakon RT Nol RW Nol Karya Iwan Simatupang, yang dapat dijelaskan sebagai berikut:
Ø  Pincang dan Kekek memakan makanan yang setengah busuk atau malah semua busuk untuk bertahan hidup;
Ø  Ani dan Ina menjadi wanita malam untuk dapat membeli makanan yang diinginkan; dan
Ø  Bopeng bernasib baik menjadi kelasi kapal yang berkesempatan meninggalkan dunia gelandangan di bawah jembatan.
3.      Sikap lingkungan terhadap gelandangan kota besar pada lakon Rt Nol Rw Nol Karya Iwan Simatupang
Lakon RT Nol RW Nol Karya Iwan Simatupang menjelaskan bahwa masyarakat tidak memberi kesempatan kepada para gelandangan untuk bekerja seperti manusia normal pada umumnya. Hal ini semakin mendorong para gelandangan tidak terlepas dari komunitas yang di pandang kasta terendah di kota besar. Berikut ini percakapan antara Kakek dan picang yang menjelaskan ketidak pedulian masyarakat terhadap para gelandangan yang ingin mendapat hidup lebih baik.
Kakak              : kalau tidak salah kau tidak henti-hentinya cari kerja?
Pincang           : ya, tapi tak pernah dapat.
Kakek              : alasannya?
Pincang           : masyarakat punya prasangka-prasangka tertentu terhadap jenis manusia seperti kita ini.
Kakek              : eh, bagaimana rupanya seperti kita ini?
Pincang           : masyarakat telah mempunyai keyakikan yang berakar dalam, bahwa, manusia gelandangan seperti kita sudah tak mungkin bekerja lagi dalam arti yang sebenarnya.
Kakek              : menurut mereka, kita Cuma bisa apa?
Pincang           : tidak banyak, kecuali barang kali sekedar mempertahankan hidup taraf sekedar tidak mati saja. Dengan batok kotor kita yang kita tengadahkan kepada siapa saja, kearah mana saja.Mereka anggap kita ini sebagai suatu kasta tersendiri.Kasta paing hina, paling rendah.

Sekuen Naskah Drama Lakon Malam Jahanam Karya Motinggo Buesje


Analisis Struktur Teks (konstruksi plot atau satuan peristiwa) pada lakon Malam Jahanam Karya Motinggo Buesje.

Prolog              : Menceritakan kondisi masyarakat kampung nelayan di pinggiran laut kota mulai dari sikap, kebiasaan sampai cara berpakaian.
1.      Mendeskripsikan keadaan rumah Mat Kontan dan Soleman yang saling berhadapan/bersebrangan. Serta menceritakan kebiasaan yang sering dilakukan keduanya di depan rumah.
2.      Paijah dan Utai/ teras rumah Mat Kontan
Di depan teras rumah Paijah menunggu Mat Kontan suaminya yang dari pagi tadi belum pulang. Paijah ditemani oleh Utai.
3.      Soleman, Paijah, Utai, dan Tukang Pijat/ teras rumah Mat Kontan
Soleman menghampiri Paijah yang keluar dari dalam rumah. Paijah hawatir pada si kontan kecil yang sakit dan Mat Kontan yang belum pulang. Soleman menunjukan kepeduliannya terhadap Paijah dan si Kontan kecil.
4.      Mat Kontan, Soleman, dan Paijah / di pekarangan rumah
Mat Kontan pulang dengan membawa burung perkutut yang dibanggakannya, tanpa ada rasa khawatir sedikitpun dengan keadaan si Kontan Kecil yang sakit dan terhadap Paijah yang dari tadi menunggunya pulang. Kemudian, Mat Kontan berbincang-bincang di teras rumah bersama Soleman tentang perjalanannya ke kota Agung untuk membanggakan kepunyaannya yakni istri cantik dan si Kecil Kontan sebagai bukti dirinya tidak mandul. Berbicara tentang pasir boblos yang hampir merenggut nyawa Mat Kontan serta membicarakan Paijah dan tak lupa si Kontan kecil.
5.      Mat Kontan, Utai, dan Paijah / di pekarangan rumah Mat Kontan
Mat Kontan histeris mengetahui burung beo kesayangannya hilang, yang diketahui Utai telah meniggal di dekat sumur dengan leher berdarah. Mat Kontan bermaksud ke tukang nujum untuk mencari tahu siapa yang telah memotong leher burung kebanggaannya. Paijah sadar Mat Kontan lebih perduli pada burung beonya dari pada pada si Kontan Kecil yang sakit panas.
6.      Paijah dan Soleman / Di rumah Soleman
Paijah mendatangi Soleman di rumahnya ketika Mat Kontan pergi bersama Utai ke tukang nujum. Paijah mengutarakan kecemasannya pada Soleman bahwa takut dituduh Mat Kontan, ia yang telah membunuh burung beo kesayangan suaminya. Dan di sisi lain Paijah takut perbuatan jahanamnya dengan Soleman diketahui Maat Kontan. Paijah yang ingin memiliki seorang anak akhirnya melakukan perbuatan jahanam setelah Soleman bersedia mewujudkan permintaanya dan Si Kontan kecil pun lahir.
Tak diduga Soleman berkata jujur pada Paijah bahwa dia merupakan keturunan jahanam. Bapak dan Ibunya melakukan perbuatan Jahanam meskipun keduanya telah sah emnjadi suami istri. Soleman pun berjanji pada Paijah akan melindunginya jika Mat Kontan melakukan sesuatu terhadapnya. Soleman mengaku pada Paijah bahwa dia yang telah membunuh burung beo Mat Kontan karena kesal dengan ejekan beo Mat kontan terhadapnya yang meniru perkataan Paijah ketika dia mengganggu/ memegang tangan paijah “jangan ganggu saya”.
7.      Mat Kontan, Paijah, Soleman, dan Utai / Teras Rumah
Mat Kontan dan Utai tidak berhasil menemui tukang nujum langganannya Mat Kontan karena tukang nujum ternyata sudah meninggal. Soleman yang menghampiri berusaha menenangkan Mat Kontan tapi seketika Mat Kontan langsung menuju Paijah yang telah membunuh beo kebanggaannya. Pertengkaran suami istri dengan tangis si Kontan kecil yang sakit pun terjadi di dalam rumah yang disaksikan oleh Soleman dan Utai. Paijah  mengancam minggat pada Mat Kontan dengan menggendong si Kontan kecil yang menangis. Dengan setengah takut Paijah lari kebangku dan duduk.
8.      Mat Kontan, Soleman, dan Paijah/ teras rumah Mat Kontan
Pertengkaran masih berlanjut. Paijah mengungkapkan kesedihannya yang merasa tidak diperdulikan oleh Mat Kontan. Paijah mencari perlindungan pada Soleman tetapi Soleman mematung terdiam dan itu membuat Paijah muak terhadapnya. Akhirnya Paijah mengaku dia yang telah memotong leher beo kesayangan suaminya dengan alasan seperti yang diungkapkan Soleman kepadanya.
9.      Mat Kontan, Soleman dan Paijah/ di teras rumah Mat Kontan
Soleman tetap terdiam dengan pengakuan Paijah pada Mat Kontan. Tapi akhirnya Soleman mengaku bahwa dia yang telah memotong leher beo Mat Kontan  dan mengaku perbuatan jahanamnya dengan Paijah pada Mat Kontan dan si Kontan kecil pun di akui Soleman sebagai anaknya. Mat Kontan marah besar tapi marahnya Mat Kontan diredam oleh Soleman dengan mengungkit kembali kejadian di pantai pasir boblos dengan Mat Kontan pun tersungkur lemas. Mat Kontan bangkit dan ia merelakan Paijah dan si Kontan kecil untuk dimiliki oleh Soleman. Mat Kontan pun pergi.
10.  Soleman, Paijah/ di teras rumah Soleman
Soleman menyesal atas perbuatannya terhadap sahabatnya Mat Kontan. Ia bermaksud mengembalikan Paijah dan si Kontan kecil pada Mat Kontan tapi Paijah menahannya. Soleman merujuk pada Paijah untuk membawa si Kontan kecil yang menangis untuk dibawa ke pak Mangun dan kedunya pun masuk ke rumah Paijah.
11.  Mat Kontan dan Utai / datang dari arah pantai yang gelap.
Mat Kontan dan Utai kembali pada Soleman dengan membawa golok yang dipersiapkannya untuk Soleman. Soleman memandangi keduanya dari depan rumah Mat Kontan dan menghampiri keduanya.
12.  Mat Kontan Paijah/ ruamh Mat Kontan
Mat Kontan datang pada Paijah dan menceritakan kejadian yang terjadi pada utai dan Soleman. Utai meninggal dengan leher terputus dan Soleman selamat sampai ke gerbong kereta api dan kemudian menghilang. Utai meninggal untuk menutupi aib keluarga Mat Kontan.
13.  Mat Kontan dan Tukang Pijat/ teras rumah Mat Kontan
Tukang pijat memberi kabar pada Mat Kontan tentang kematian Utai. Mat Kontan pergi dalam kegelapan.
14.  Paijah dan Tukang Pijat/ teras rumah Mat Kontan
Paijah memberi kabar pada Tukang Pijat bahwa anaknya telah meninggal.

Dari sekuen yang telah dibuat di atas maka dapat disimpulkan:
Prolog sampai sekuen 3 merupakan pengenalan cerita atau eksposisi;
Sekuen 4 sampai 7 merupakan komplikasi atau pertikaian awal;
Sekuen 8 sampai 9 merupakan klimaks atau puncak cerita;
Sekuen  10 sampai 11 merupakan bagian anti klimak;
Sekuen 12 sampai 14 merupakan penyelesaian klimak.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar