Selasa, 08 Oktober 2013

Abdul Salam (2222112109)



Nama: Abdul Salam
Nim: 2222112109
Kelas: 5 D

Setelah saya membaca drama
Drama itu Dunia
Sebelum saya mendefinisikan apa itu drama, jujur saya katakan, selama duduk di bangku sekolah SMP, saya jarang membaca naskah drama, terkecuali untuk kepentingan pentas hiburan pada acara Isra Miraj di sekolah pada tahun 2007-an dengan memainkan peran pembantu pada pergelaran drama “Geger Cilegon”  dan “Malam Jahanam” Motinggo Busye. Setelah itu, lama sekali saya tak pernah membaca naskah drama. Baru membaca kembali naskah drama beberapa bulan yang lalu, tepatnya semester empat ketika ada mata kuliah “Apresiais Drama” diajar oleh Farid Ibnu Wahid, sedangkan untuk menonton drama sendiri saya senang dan lebih sering.
Drama Itu Dunia
Satu minggu yang lalu, Pak Nandang, dosen kajian drama menugaskan pada seluruh mahasiswa semester lima, kelas D, untuk membaca naskah drama dan mendefinisikan apa itu drama dari pengalaman empirik setelah melakukan pembacaan. Kata Nandang, di depan para mahasiswa, “kita harus berani untuk mengemukakan teori sendiri. Selama ini kita terus mengikuti teori dari Barat!” untuk itulah, saya mencoba untuk mendefinisikan drama dari hasil bacaan saya, walaupun tak banyak pengalaman saya di dunia drama.
Tetapi mudah-mudahan, pengalaman saya membaca naskah drama, jikapun akhirnya tidak bisa mendefinisikan drama secara gambalang, mudah-mudahan bisa mewakili pengertian drama itu sendiri. Ya, setelah membaca dan menyelesaikan “Mahkamah” karya Asrul Sani— dalam kitab drama terbitan Horison tahun 2002, saya mengambil kesimpulan bahwa drama adalah sebuah dunia rekaan atau tiruan dari realitas, tak jauh berbeda dengan karya-karya sastra yang lain. Akan tetapi, dunia drama sering tidak berhenti pada poisi teks. Sedangkan karya-karya sastra yang lain lebih banyak berhenti pada poisi tekas.    
Babak:
Dalam naskah drama “Mahkamah” karya Asrul Sani, dimunculkan hanya satu babak namun sangat panjang dan menegangkan.  
Adegan:
Dalam naskah drama “Makahah” adegan yang sering muncul yakni si tokoh Murni yang lemas dan  terpaku di atas kursi persidangan. Cerita ini terasa statis, karena tokoh-tokoh yang terlibat dalam cerita hanya mengeluarkan kata-kata dan suara saja, sedangakan posisi fisik itu sendri tidak beranjak dari kursi persidangan.   
Petunjuk Pengarang:
Dalam naskah drama “mahkamah” penulis banyak menggunakan petunjuk, untuk memudahkan sutradara ketika akan diperankan di atas panggung. Setelah dibedah terdapat sekitar 17 petunjuk yang dibuat oleh dramawan Asrul Sani dalam naskah drama “Mahkamah” 
Epilog: 
Dalam cerita “Mahkamah” hakim tidak bisa memutuskan Bahri bersalah, yang dituduh membunuh Anwar. Sebaliknya, pembela mangatakan, dalam kasus itu sebenarnya yang dapat menghakimi adalah pelaku itu sendiri. Persidangan ditunda untuk beberapa waktu yang tak dijelaskan kapan persidangan itu akan dimulai kembali. Karena cerita ternyata sudah diakhiri.  
Eksposisi: Pengenalan Tokoh
Pengenalan tokoh pada cerita Mahkamah karya Asrul Sani, dimulai dari deskripsi tentang ruangan persidangan yang hambar, tidak gelap juga tidak begitu terang. Tokoh dalam cerita ini melibatkan, Murni (Sitri dari Anwar dan Bahri), Bahri, adalah seorang Mayor yang dituduh menjatuhkan hukuman mati pada  Anwar. Anwar sendiri sorang Kapten sekaligus korban, Pembela, hakim dan jaksa penuntut umum.
Konflik:
Konfilk dimulai ketika Bahri dituduh dan masuk dalam persidangan dengan menghadirkan saksi Murni, istri Bahri. Masalah selanjutnya berkembang dan melebar ketika jaksa menuduh bahwa Murni seorang perempuan yang gatal dan perempuan penggoda sehingga memacu konflik terjadinya pembunuhan dengan memakan korban Anwar, sumi pertama Murni.
Komplikasi:
masalah semakin memuncak, ketika hakim menemukan bukti Bahri pernah mengatakan akan membunuh Anwar pada suatu hari, karena cinta Bahri waktu itu ditolak oleh Murni. Murni yang saat itu sudah mempunyai pujaan hati bernama Anwar. Inilah titik pijak yang menjadikan hakim menuduh Bahri  satu-satunya orang yang menjadi sorotan  atas meninggalnya Anwar.
Klimaks:
Masalah menemu puncaknya, pada saat pembela mengajukan bukti-bukti dengan mengeluarkan surat yang pernah ditulis oleh Bahri yang ditunjukan untuk Murni, perempuan yang dicintainya. Surat itu dikirimkan oleh Bahri lewat seorang prajurit, tapi sangat disayangkan sebelum surat itu sampai pada tangan Murni, prajurit itu terbunuh di jalan. Surat inilah yang menguatkan bahwa Bahri belum tentu orang yang membunuh Anwar. Suart itu berisi, Bahri sangat menyesal ketika mengatakan pada Murni akan membunuh Anwar. Yang terjadi sebaliknya, Bahri akhirnya merelakan Murni untuk menikah dengan Anwar, karena mereka saling mencintai.
Anti Klimaks:
Persolan akhirnya dapat dicapai kesepakatan antara jaksa penuntut dan pembela setelah menemukan bukti surat yang ditulis oleh Bahri, yang dikirimkan lewat seorang prajurit. Siding pun akhirnya ditunda dan orang-orang yang menyaksikan itu semuanya bubar.
Solusi:
Cerita selesai setalah bukti-bukti yang diajukan jaksa penuntut kurang lengkap. Hingga akhirnya persidangan ditunda untuk beberapa waktu.
Rumusan Masalah:    
- Siapakah sebenarnya yang membunuh Anwar?
- Apakah betul Murni adalah perempuan yang gatal seperti yang dikatakan hakim?
-Benarkah Murni Bahagia setelah menikah dengan Bahri?





 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar