Nama: Abdul Salam
Nim: 2222112109
Kelas: 5 D
Setelah saya
membaca drama
Drama itu Dunia
Sebelum saya mendefinisikan apa itu
drama, jujur saya katakan, selama duduk di bangku sekolah SMP, saya jarang
membaca naskah drama, terkecuali untuk kepentingan pentas hiburan pada acara
Isra Miraj di sekolah pada tahun 2007-an dengan memainkan peran pembantu pada
pergelaran drama “Geger Cilegon” dan
“Malam Jahanam” Motinggo Busye. Setelah itu, lama sekali saya tak pernah
membaca naskah drama. Baru membaca kembali naskah drama beberapa bulan yang
lalu, tepatnya semester empat ketika ada mata kuliah “Apresiais Drama” diajar
oleh Farid Ibnu Wahid, sedangkan untuk menonton drama sendiri saya senang dan
lebih sering.
Drama Itu Dunia
Satu minggu yang lalu, Pak Nandang,
dosen kajian drama menugaskan pada seluruh mahasiswa semester lima, kelas D,
untuk membaca naskah drama dan mendefinisikan apa itu drama dari pengalaman
empirik setelah melakukan pembacaan. Kata Nandang, di depan para mahasiswa,
“kita harus berani untuk mengemukakan teori sendiri. Selama ini kita terus
mengikuti teori dari Barat!” untuk itulah, saya mencoba untuk mendefinisikan
drama dari hasil bacaan saya, walaupun tak banyak pengalaman saya di dunia
drama.
Tetapi mudah-mudahan, pengalaman
saya membaca naskah drama, jikapun akhirnya tidak bisa mendefinisikan drama
secara gambalang, mudah-mudahan bisa mewakili pengertian drama itu sendiri. Ya,
setelah membaca dan menyelesaikan “Mahkamah” karya Asrul Sani— dalam kitab drama
terbitan Horison tahun 2002, saya mengambil kesimpulan bahwa drama adalah
sebuah dunia rekaan atau tiruan dari realitas, tak jauh berbeda dengan
karya-karya sastra yang lain. Akan tetapi, dunia drama sering tidak berhenti
pada poisi teks. Sedangkan karya-karya sastra yang lain lebih banyak berhenti
pada poisi tekas.
Babak:
Dalam
naskah drama “Mahkamah” karya
Asrul Sani, dimunculkan hanya satu babak namun sangat panjang dan menegangkan.
Adegan:
Dalam
naskah drama “Makahah” adegan yang sering muncul yakni si tokoh Murni yang
lemas dan terpaku di atas kursi persidangan. Cerita ini
terasa statis, karena tokoh-tokoh yang terlibat dalam cerita hanya mengeluarkan
kata-kata dan suara saja, sedangakan posisi fisik itu sendri tidak
beranjak dari kursi persidangan.
Petunjuk
Pengarang:
Dalam
naskah drama “mahkamah” penulis banyak menggunakan petunjuk, untuk memudahkan sutradara ketika akan diperankan di atas
panggung. Setelah dibedah terdapat
sekitar 17 petunjuk yang dibuat
oleh dramawan Asrul Sani dalam naskah drama “Mahkamah”
Epilog:
Dalam
cerita “Mahkamah” hakim tidak bisa memutuskan
Bahri bersalah, yang dituduh
membunuh Anwar. Sebaliknya, pembela mangatakan, dalam kasus itu sebenarnya yang dapat menghakimi adalah pelaku itu sendiri. Persidangan ditunda
untuk beberapa waktu yang tak dijelaskan kapan persidangan itu akan dimulai
kembali. Karena cerita ternyata sudah diakhiri.
Eksposisi:
Pengenalan Tokoh
Pengenalan tokoh pada cerita “Mahkamah” karya Asrul
Sani, dimulai dari deskripsi tentang ruangan persidangan yang hambar, tidak
gelap juga tidak begitu terang. Tokoh dalam cerita ini melibatkan, Murni (Sitri dari
Anwar dan Bahri), Bahri, adalah seorang Mayor yang dituduh menjatuhkan hukuman
mati pada Anwar. Anwar sendiri sorang Kapten sekaligus
korban, Pembela, hakim dan jaksa penuntut umum.
Konflik:
Konfilk dimulai ketika Bahri
dituduh dan masuk dalam persidangan dengan menghadirkan saksi Murni, istri Bahri.
Masalah selanjutnya berkembang dan melebar ketika jaksa menuduh bahwa Murni
seorang perempuan
yang gatal dan perempuan
penggoda
sehingga memacu konflik
terjadinya pembunuhan dengan
memakan korban Anwar, sumi pertama Murni.
Komplikasi:
masalah semakin memuncak, ketika
hakim menemukan bukti Bahri pernah mengatakan akan membunuh Anwar pada suatu
hari, karena cinta Bahri waktu itu ditolak oleh Murni. Murni yang saat itu sudah
mempunyai pujaan hati bernama Anwar. Inilah titik pijak yang menjadikan hakim menuduh Bahri satu-satunya orang yang menjadi sorotan atas meninggalnya Anwar.
Klimaks:
Masalah menemu puncaknya, pada
saat pembela mengajukan bukti-bukti dengan mengeluarkan surat yang pernah
ditulis oleh Bahri yang ditunjukan untuk Murni, perempuan yang dicintainya.
Surat itu dikirimkan oleh Bahri lewat seorang prajurit, tapi sangat
disayangkan sebelum surat itu sampai pada tangan Murni, prajurit itu terbunuh
di jalan. Surat inilah
yang menguatkan bahwa Bahri belum tentu orang yang membunuh Anwar. Suart itu berisi, Bahri
sangat menyesal ketika mengatakan pada Murni akan membunuh Anwar. Yang terjadi sebaliknya, Bahri akhirnya
merelakan Murni untuk menikah dengan Anwar, karena mereka saling mencintai.
Anti Klimaks:
Persolan akhirnya dapat dicapai
kesepakatan antara jaksa penuntut dan pembela setelah menemukan bukti surat
yang ditulis oleh Bahri, yang dikirimkan lewat seorang prajurit. Siding pun
akhirnya ditunda dan orang-orang yang menyaksikan itu semuanya bubar.
Solusi:
Cerita selesai setalah
bukti-bukti yang diajukan jaksa penuntut kurang lengkap. Hingga akhirnya
persidangan ditunda untuk beberapa waktu.
Rumusan
Masalah:
- Siapakah sebenarnya yang membunuh Anwar?
- Apakah betul Murni adalah perempuan yang gatal seperti yang dikatakan hakim?
-Benarkah Murni Bahagia setelah menikah dengan Bahri?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar