Nama
: Rika Noviana
Kelas
: V D
Nim
: 2222112309
Analisis
Struktural pada Naskah Drama Domba-Domba Revolusi
1. Tokoh-tokoh
“Domba-domba Revolusi”
Perempuan : Seorang pemilik losmen yang
menggambarkan tokoh yang baik.
Penyair : Seorang Tokoh yang paling dianggap
benar, berani, dan suci.
Pedagang : Seorang yang licik, pemeras, dan
mempunyai niat buruk mengambil keuntungan dari revolusi kemerdekaan.
2. Sinopsis
“ Domba-domba Revolusi “
Drama Domba-domba revolusi ini mengetengahkan tiga orang dalam satu babak, para pelakunya yaitu perempuan, penyair, dan pedagang yang terdampar pada sebuah losmen di kota yang sedang dikepung tentara Belanda dan hampir direbut pada tahun 1948. Pedagang di sini digambarkan sebagai seorang yang licik, oportunistik, pemeras, dan mempunyai niat buruk mengambil keuntungan dari revolusi kemerdekaan mereka hanya memikirkan keselamatan dirinya sendiri namun dirinya mati terbunuh sedangkan perempuan pemilik losmen tersebut adalah tokoh baik-baik namun terpaksa membunuh juga demi keselamatannya hanya penyairlah yang paling dianggap benar, berani, suci seolah menjadi perlambang cita-cita revolusi tersebut.
Bermula ketika beberapa orang
terjebak dalam sebuah losmen di sudut kota yang sedang dilanda perang situasi
yang serba sulit, ruang gerak yang terbatas tidak ada yang berani keluar dari
losmen guna mencari informasi tentang perkembangan situasi di kota selain si
penyair mereka hanya memikirkan bagaimana mendapat keuntungan dari situasi yang
sedang terjadi konflik di antara mereka semakin rumit setelah mulai tumbuh
benih-benih asmara antara si penyair dengan si perempuan pemilik losmen disaat
si penyair meninggalkan losmen, si pedagang menggunakan segala kelicikan dan
memanfaatkan situasi yang terjadi itu. Pedagang menghasut seluruh penghuni losmen
dan mempropaganda timbullah permukaan konflik, amarah dan rasa curiga kepada
para penghuni losmen polemik hadir dan memperburuk suasana, membunuh atau
terbunuh, menjebak satu sama lain, menjadi jargon yang dihembuskan suara-suara
dusta kelicikan dari si pedagang. Dalam kondisi seperti itu tetap saja tak
dapat menolak kehadiran benih-benih cinta anata si penyair dengan perempuan
pemilik losmen bukan hanya pujaan hatinya yang mati diberondong senapan serdadu
musuh tapi tak disangka ternyata perempuan yang dicintainya tadi tak lain
adalah ibu dari si penyair. "Tuhan, ampunilah arwah mereka yang kubunuh
dan akan membunuh aku, ampunilah arwah domba-domba revolusi yang sesat."
3.
Analisis
struktural pada naskah drama domba-domba revolusi
Drama ini terlihat drama yang berkesan
melodramatik, penulisan lakon dalam domba-domba revolusi dititik beratkan dalam
segi dialog jadi dalam kebahasaannya sedikit verbal. Unsur suspence dan klimaks kurang terasa
hidup karena verbalistik dalam pelukisan cerita. Pelakunya di dalam tersebut hanya ditampilkan secara profil. Jadi
tidak tersedia pendalaman satu-persatu watak pada setiap pelakunya.
·
Alur/Plot
Dalam
drama “Domba-domba Revolusi” karya B. Soelarto ini alur yang digunakan
adalah alur maju cerita berjalan sesuai dengan langkah-langkhanya dimulai dari
perkenalan, konflik awal, puncak konflik, klimaks, dan penyelesaian perkenalan
dimulia ketika Perempuan (pemilik) losmen kedatangan tamu-tamu dari luar
(penyair, pedagang, petualang, dan politikus) kemudian terjadi konflik awal
antara masing-masing tokoh yang memiliki karakter berbeda puncak konflik
terjadi saat perempuan mencoba memberikan tanda pada penyair yang menutarakan
rasa cintanya berlajut dengan kedatangan kembali petualang setelah berhasil
menyingkirkan kuedua rekan komplotannya (pedangang dan politisi) klimaksnya
ketika petualang juga mencoba menipu perempuan, seperti yang ia lakukakan pada
kedua teman komlotannya terakhir penyelesaian pada darama ini ketika si
perempuan membunuh serdadu dan mencoba membunuh petualang yang dianggapnya
sebagai pengkhianat bangsa alur maju mempermudah penonton untuk memahami dan
menarik amanat pada drama ini secara tekstual, alur maju juga mempermudah
pembaca untuk memberikan interpretasi terhadap teks yang dikajinya.
·
Pewatakan
atau penokohan
Pada drama “Domba-domba Revolusi” karya
B. Soelarto ini ada enam tokoh utamanya. Masing-masing adalah Perempuan,
Penyair, Petualang, Pedagang, Politikus, dan Serdadu. Tokoh Perempuan mewakili
karakter pejuang perempuan. Dalam drama ini, perempuan memiliki sifat yang
begitu keras dan tidak akut terhadap ancaman dari laki-laki. Hal inilah yang
kemudian membawa perempuan menajdi tokoh sentral dalam drama ini tokoh
selanjutnya adalah penyair sosok yang digambarkan sebagai manusia yang tidak
jelas dan agak “ugal-ugalan” dari penampilnnya namun, penampilanya itu bertolah
belakng dengan sikapnya dibandingkan tokoh lain yang digambarkan dengan
penampilan nasionalis, sosok penyair justru lebih. Ia membawa sebuah paradigma
baru bahwa tidak selamanya sesuatu yang diluarnya jelek itu, mewakili isi
dalamnya buktinya penyair yang diluarnya jelek, namun di dalam hatinya begitu
mulia dan sangat nasionalis.
Tokoh
selanjutnya adalah Petualang. Dalam drama ini, sosok antagonis sangat tepat
disarangkan pada tokoh ini. Kelicikanya begitu terlihat pada drama ini sosok
berikutnya adalah pedagang dan politikus. Kedua tokoh ini memiliki pean yang
sama keduanya sama-sama menjadi “tameng” untuk melancarkan niat busuk
Petualang. Dan akhirnya, kedua tokoh ini harus meninggal karena kebodohannya.
Tokoh selanjutnya yang merupakan tokoh pelangkap adalah serdadu perannya kurang
terlihat pada drama ini fungsinya lebih menjurus untuk mewakili sikap bangsa
penjajah yang suka “menikmati” perempuan Indonesia kelebihan pada drama ini
terletak pada kemampuan penulis memainkan karakter tokoh penulis mampu
menganalogikan antara tokoh pada drama dengan realitas. Dalam drama ini,
tokoh-tokoh yang ada mewakili realitas orang-orang yang ada pada masa perjuangan
merebut kemerdekaan ada yang nasionalis dan ada pula yang hanya mementingkan
dirinya sendiri.
·
Latar atau setting
Dari penggalan teks drama di
atas dapat diketahui bahwa latar cerita tersebut adalah di sebuah kota
yang bernama Kota Tengah. Hal ini ditunjukkan dengan kata-kata yang
ada dinaskah drama tersebut. Latar
yang digunakan pada drama ini kurang sesuai jika coba menggambarkan keadaan
mempertahankan kemerdekaan. Pada drama ini, settingnya dilakukan di dalam
sebuah losmen tua tidak terlalau banyak interaksi dengan lingkungan yang menggambarkan
perang kemerdekaan hanya desing peluru dan bom yang ada, itupun terjadi diluar
losmen hal ini membuat drama ini kurang menarik namun inti nya masih dapat dipetik
fokus drama ini memang sebatas doktrin nasionalis yang ditonjolkan bukan pada
settingnya.
·
Tema
Pada
aspek tema, sepertinya tidak ada hal yang perlu di kritisi drama ini sudah
sesuai dengan tema yang telah di konstruksi oleh penulisnya secara keseluruhan
drama ini bertemakan para pengkhiat dalam perjuangan mempertahankan
kemerdekaan.
4. Keterangan
Dengan
mempelajari sastra kita akan mengenal yang namanya karya sastra karya sastra
pada umumnya berisi tentang permasalahan yang melengkapi kehidupan manusia permasalahan
itu dapat berupa permasalahan yang terjadi dalam dirinya sendiri dari
permasalahan tersebut, dibuatlah suatu cerita prosa yang fiktif dalam panjang
tertentu yang melukiskan para tokoh, gerak serta adegan kehidupan nyata yang
representatif dalam suatu alur atau suatu keadaan yang agak kacau atau kusut
disebut drama.
Hasil analisis
naskah drama menunjukan bahwa pada drama yang berjudul Domba-domba Revolusi karya B. Soelarto ini memiliki suatu aspek
tentang kejiwaan, dimana keseluruhan isi drama dibahas dengan menggunakan
pendekatan Psikologi Sastra hal atau
bagian pada naskah drama yang kentara dengan pendekatan yang diterapkan
tersebut, bisa dilihat pada peristiwa ketika penyair harus memutuskan apakah ia
harus mengambil jalan untuk berperang atau malah berbalik serang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar