Selasa, 08 Oktober 2013

Rika Noviana (2222112309)



Nama : Rika Noviana
Kelas : V D
Nim : 2222112309
Analisis Struktural pada Naskah Drama Domba-Domba Revolusi

1.      Tokoh-tokoh “Domba-domba Revolusi”

Perempuan      : Seorang pemilik losmen yang menggambarkan tokoh yang baik.

Penyair            : Seorang Tokoh yang paling dianggap benar, berani, dan suci.

Pedagang        : Seorang yang licik, pemeras, dan mempunyai niat buruk mengambil keuntungan dari revolusi kemerdekaan.


2.      Sinopsis “ Domba-domba Revolusi “

            Drama Domba-domba revolusi ini mengetengahkan tiga orang dalam satu babak, para pelakunya yaitu perempuan, penyair, dan pedagang yang terdampar pada sebuah losmen di kota yang sedang dikepung tentara Belanda dan hampir direbut pada tahun 1948. Pedagang di sini digambarkan sebagai seorang yang licik, oportunistik, pemeras, dan mempunyai niat buruk mengambil keuntungan dari revolusi kemerdekaan mereka hanya memikirkan keselamatan dirinya sendiri namun dirinya mati terbunuh sedangkan perempuan pemilik losmen tersebut adalah tokoh baik-baik namun terpaksa membunuh juga demi keselamatannya hanya penyairlah yang paling dianggap benar, berani, suci seolah menjadi perlambang cita-cita revolusi tersebut.
            Bermula ketika beberapa orang terjebak dalam sebuah losmen di sudut kota yang sedang dilanda perang situasi yang serba sulit, ruang gerak yang terbatas tidak ada yang berani keluar dari losmen guna mencari informasi tentang perkembangan situasi di kota selain si penyair mereka hanya memikirkan bagaimana mendapat keuntungan dari situasi yang sedang terjadi konflik di antara mereka semakin rumit setelah mulai tumbuh benih-benih asmara antara si penyair dengan si perempuan pemilik losmen disaat si penyair meninggalkan losmen, si pedagang menggunakan segala kelicikan dan memanfaatkan situasi yang terjadi itu. Pedagang menghasut seluruh penghuni losmen dan mempropaganda timbullah permukaan konflik, amarah dan rasa curiga kepada para penghuni losmen polemik hadir dan memperburuk suasana, membunuh atau terbunuh, menjebak satu sama lain, menjadi jargon yang dihembuskan suara-suara dusta kelicikan dari si pedagang. Dalam kondisi seperti itu tetap saja tak dapat menolak kehadiran benih-benih cinta anata si penyair dengan perempuan pemilik losmen bukan hanya pujaan hatinya yang mati diberondong senapan serdadu musuh tapi tak disangka ternyata perempuan yang dicintainya tadi tak lain adalah ibu dari si penyair. "Tuhan, ampunilah arwah mereka yang kubunuh dan akan membunuh aku, ampunilah arwah domba-domba revolusi yang sesat."

3.      Analisis struktural pada naskah drama domba-domba revolusi
Drama ini terlihat drama yang berkesan melodramatik, penulisan lakon dalam domba-domba revolusi dititik beratkan dalam segi dialog jadi dalam kebahasaannya sedikit verbal. Unsur suspence dan klimaks kurang terasa hidup karena verbalistik dalam pelukisan cerita. Pelakunya di dalam  tersebut hanya ditampilkan secara profil. Jadi tidak tersedia pendalaman satu-persatu watak pada setiap pelakunya.

·         Alur/Plot
Dalam drama “Domba-domba Revolusi” karya B. Soelarto ini alur yang digunakan adalah alur maju cerita berjalan sesuai dengan langkah-langkhanya dimulai dari perkenalan, konflik awal, puncak konflik, klimaks, dan penyelesaian perkenalan dimulia ketika Perempuan (pemilik) losmen kedatangan tamu-tamu dari luar (penyair, pedagang, petualang, dan politikus) kemudian terjadi konflik awal antara masing-masing tokoh yang memiliki karakter berbeda puncak konflik terjadi saat perempuan mencoba memberikan tanda pada penyair yang menutarakan rasa cintanya berlajut dengan kedatangan kembali petualang setelah berhasil menyingkirkan kuedua rekan komplotannya (pedangang dan politisi) klimaksnya ketika petualang juga mencoba menipu perempuan, seperti yang ia lakukakan pada kedua teman komlotannya terakhir penyelesaian pada darama ini ketika si perempuan membunuh serdadu dan mencoba membunuh petualang yang dianggapnya sebagai pengkhianat bangsa alur maju mempermudah penonton untuk memahami dan menarik amanat  pada drama ini secara tekstual, alur maju juga mempermudah pembaca untuk memberikan interpretasi terhadap teks yang dikajinya.

·         Pewatakan atau penokohan
 Pada drama “Domba-domba Revolusi” karya B. Soelarto ini ada enam tokoh utamanya. Masing-masing adalah Perempuan, Penyair, Petualang, Pedagang, Politikus, dan Serdadu. Tokoh Perempuan mewakili karakter pejuang perempuan. Dalam drama ini, perempuan memiliki sifat yang begitu keras dan tidak akut terhadap ancaman dari laki-laki. Hal inilah yang kemudian membawa perempuan menajdi tokoh sentral dalam drama ini tokoh selanjutnya adalah penyair sosok yang digambarkan sebagai manusia yang tidak jelas dan agak “ugal-ugalan” dari penampilnnya namun, penampilanya itu bertolah belakng dengan sikapnya dibandingkan tokoh lain yang digambarkan dengan penampilan nasionalis, sosok penyair justru lebih. Ia membawa sebuah paradigma baru bahwa tidak selamanya sesuatu yang diluarnya jelek itu, mewakili isi dalamnya buktinya penyair yang diluarnya jelek, namun di dalam hatinya begitu mulia dan sangat nasionalis.
Tokoh selanjutnya adalah Petualang. Dalam drama ini, sosok antagonis sangat tepat disarangkan pada tokoh ini. Kelicikanya begitu terlihat pada drama ini sosok berikutnya adalah pedagang dan politikus. Kedua tokoh ini memiliki pean yang sama keduanya sama-sama menjadi “tameng” untuk melancarkan niat busuk Petualang. Dan akhirnya, kedua tokoh ini harus meninggal karena kebodohannya. Tokoh selanjutnya yang merupakan tokoh pelangkap adalah serdadu perannya kurang terlihat pada drama ini fungsinya lebih menjurus untuk mewakili sikap bangsa penjajah yang suka “menikmati” perempuan Indonesia kelebihan pada drama ini terletak pada kemampuan penulis memainkan karakter tokoh penulis mampu menganalogikan antara tokoh pada drama dengan realitas. Dalam drama ini, tokoh-tokoh yang ada mewakili realitas orang-orang yang ada pada masa perjuangan merebut kemerdekaan ada yang nasionalis dan ada pula yang hanya mementingkan dirinya sendiri.

           
·         Latar atau setting

            Dari penggalan teks  drama di atas  dapat diketahui bahwa latar cerita tersebut adalah di sebuah kota yang bernama Kota Tengah. Hal ini ditunjukkan dengan  kata-kata  yang ada dinaskah drama tersebut. Latar yang digunakan pada drama ini kurang sesuai jika coba menggambarkan keadaan mempertahankan kemerdekaan. Pada drama ini, settingnya dilakukan di dalam sebuah losmen tua tidak terlalau banyak interaksi dengan lingkungan yang menggambarkan perang kemerdekaan hanya desing peluru dan bom yang ada, itupun terjadi diluar losmen hal ini membuat drama ini kurang menarik namun inti nya masih dapat dipetik fokus drama ini memang sebatas doktrin nasionalis yang ditonjolkan bukan pada settingnya.
·         Tema
Pada aspek tema, sepertinya tidak ada hal yang perlu di kritisi drama ini sudah sesuai dengan tema yang telah di konstruksi oleh penulisnya secara keseluruhan drama ini bertemakan para pengkhiat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

4.      Keterangan
          Dengan mempelajari sastra kita akan mengenal yang namanya karya sastra karya sastra pada umumnya berisi tentang permasalahan yang melengkapi kehidupan manusia permasalahan itu dapat berupa permasalahan yang terjadi dalam dirinya sendiri dari permasalahan tersebut, dibuatlah suatu cerita prosa yang fiktif dalam panjang tertentu yang melukiskan para tokoh, gerak serta adegan kehidupan nyata yang representatif dalam suatu alur atau suatu keadaan yang agak kacau atau kusut disebut drama.
     Hasil analisis naskah drama menunjukan bahwa pada drama yang berjudul Domba-domba Revolusi karya B. Soelarto ini memiliki suatu aspek tentang kejiwaan, dimana keseluruhan isi drama dibahas dengan menggunakan pendekatan Psikologi Sastra hal atau bagian pada naskah drama yang kentara dengan pendekatan yang diterapkan tersebut, bisa dilihat pada peristiwa ketika penyair harus memutuskan apakah ia harus mengambil jalan untuk berperang atau malah berbalik serang.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar