Nama : M.Uuh Uhtuhmi M.f
Nim : 2222103435
Semester
: V.D
RT
NOL RW NOL
Karya:
Iwan Simatupang
SINOPSIS
Disebuah kota besar hiruk –
pikuk kendaraan yang melintas di atas jembatan yang tidak begitu besar, hidup
beberapa orang di bawahnya. Seorang kakek tinggal di bawah kolong
jembatan itu dia adalah mantan klasi kapal, ada pula Si pincang dengan kondisi
fisiknya yang kurang telah mencari kerja kemana – mana dan tidak pernah
mendapatkan hasil yang memuaskan, dengan di temani Ani dan Ina kakak –
beradik yang bekerja sebagai PSK ( Pekerja Seks Komersial ) mereka
meratapi kejamnya kota besar.
Yang kemudian membawa
sebuah permasalahan pelik diantara mereka, Pincang telah putus asa dengan
kehidupan yang Ia alami, karena tidak pernah satu pun ia berhasil mendapatkan
sebuah pekerjaan yang dapat menunjang kebutuhan hidupnya.
Datanglah seorang laki –
laki bernama Bopeng, Ia adalah mantan penghuni kolong jembatan tempat tinggal
kakek, pincang, Ani dan Ina. Ia telah bekerja di sebuah kapal sebagai
Klasi Kapal, tapi Ia membawa seorang wanita bersamanya yang bernama Ati. Ati
adalah sosok wanita yang mencari Suaminya yang entah kemana telah menghilang
dan kemudian Ia tersesat dan kehabisan uang untuk pulang ke kampungnya.
Karena iri hati Pincang pun
selalu memojokkan Bopeng, karena pada awal bertemu dengan Ati, Bopeng berjanji
untuk mengantarkannya pulang ke kampung tetapi karena adanya panggilan kerja
sebagai klasi kapal Bopeng mengurungkan niat tersebut.
Setelah pertengkaran
argumen antara Si Pincang dan Bopeng, akhirnya kakek pun menengahi pertengkaran
mereka, selang beberapa waktu Ani dan Ina pun datang setelah bekerja dengan
membawa kabar bahwa mereka akan dinikahi oleh Pria yang menjadi langganan
mereka. Akhirnya mereka meninggalkan kolong jembatan yang menjadi tempat mereka
tinggal. Disusul oleh bopeng dan Si pincang yang akan berjuang mengantarkan Ati
kembali ke kampung halamannya dan berjanji mencari pekerjaan kembali dan
menikahi Ati. Akhir cerita Tinggal lah Kakek sendiri di bawah jembatan itu yang
mereka semua memberi nama tempat tinggal mereka RT NOL RW NOL.
APRESIASI
1.
Tema : Tema
dari naskah drama Rt 0/ Rw 0 ini adalah realita sosial perjuangan hidup.
Terlihat dari dialog-dialog yang yang idealis dan lebih menonjolkan sikap
pantang menyerah.
2.
Amanat : Amanat dalam naskah RT NOL RW NOL ini yaitu
sebagai manusia harus selalu berusaha dan berjuang dalam menjalani hidup tanpa
ada keputusasaan dalam hidup.
3.
Alur : Adapun
alur yang terdapat pada drama RT NOL RW NOL adalah alur maju atau alur lurus.
Dimana penulis naskah drama menceritakan dari awal mula adegan sampai pada
akhir adegan.
4.
Latar : Latar
yang terdapat pada drama ini terdapat latar tempat dan latar waktu. Latar
tempat yang terdapat pada drama ini berlatar dibawah jembatan besar. Penulis
naskah ini dengan jelas menuliskan latar yang terdapat dalam drama ini.
5.
Sudut pandang: orang pertama dan orang ketiga.
6.
Suasana :
-
Tegang
Kutipan: “Kalau maksudmu,
bahwa gara-gara ucapanku yang barusan kita terpaksa berkelahi. Ayo berkelahi!”
-
Bahagia
Kutipan: “Aku berharap,
suatu hari dapat melihat kau lewat, naik becak suamimu, kau dan anakmu sehat
dan montok-montok. Selamat jalan, Nak.”
7.
Tokoh dan Penokohan :
1.
Kakek :
Bijaksana
Kutipannya : “Jangan
bingungkan dirimu lebih lama lagi dalam kerangka-kerangka kata-kata mu yang
meawang itu.”
Penyabar
Kutipannya: “kelenggangan
disebabkan perpisahan, terkadang lebih parah dari kematian sendiri. Mengapa
pula kita, manusia-manusia gelandangan, berbuat seolah tak mengerti itu?”
2.
Pincang : Pemarah
Kutipannya: “Apa aku harus
menutup mulutku terus? Mengapa setiap ucapanku kau anggap sebagai cari fasal
saja?”
3.
Ani :Keras kepala
Kutipannya: “Semuanya itu
akan kami nikmati mala mini. Cara apapun akan kami jalani, asal kami dapat
menemukannya malam ini. Ya, mala mini juga!”
Pantang menyerah
Kutipannya: “Terus, pantang
mundur! Kita bukan dari garam, kan?”
4.
Bopeng : Rendah Hati
Kutipannya: “Sabar. Rokok
sungguhpun ada. Malah sebungkus utuh.”
5.
Ina : Penyabar
Kutipannya: “Sudahlah Kak.
Hujan atau tak hujan, kita tetap keluar.”
6.
Ati : Pemalu
Kutipannya: “Malu Kek. Kami
berangkat dari sana dengan pesta dan doa. Segala pakaian dan perhiasan emasku
didalamnya, telah dia bawa kabur.”
Hal ini dapat terlihat dari
paparan penulis dari naskah tersebut.
KAKEK
Rupa-rupanya, mau hujan lebat.
Rupa-rupanya, mau hujan lebat.
PINCANG (Tertawa)
Itu kereta-gandengan lewat, kek!
Itu kereta-gandengan lewat, kek!
KAKEK
Apa?
Apa?
PINCANG
Itu, truk yang pakai gandengan, lewat.
Itu, truk yang pakai gandengan, lewat.
KAKEK (Menggeleng-Gelengkan
Kepalanya, Sambil Mengaduk Isi Kaleng Mentega Di Atas Tungku)
Gandengan lagi! Nanti roboh jembatan ini. Bukankah dilarang gandengan lewat di sini.
Gandengan lagi! Nanti roboh jembatan ini. Bukankah dilarang gandengan lewat di sini.
ANI
Lalu?
Lalu?
KAKEK
Hendaknya, peraturan itu diturutlah. ….
Hendaknya, peraturan itu diturutlah. ….
HUJAN TELAH REDA. KEMBALI
JELAS DERU-DERU LALU LINTAS DI ATAS JEMBATAN. MASUK BOPENG DAN ATI.
BOPENG
Belum tidur kalian?
Belum tidur kalian?
PINCANG
Hm, lambat juga kau pulang kali ini.
Hm, lambat juga kau pulang kali ini.
KAKEK
Ada puntung?
Ada puntung?
BOPENG (Tertawa)
Sabar. Rokok sungguhanpun ada. Malah sebungkus utuh. Juga aku bawa nasi rames empat bungkus.
Sabar. Rokok sungguhanpun ada. Malah sebungkus utuh. Juga aku bawa nasi rames empat bungkus.
KAKEK
Na… nasi rames? Kau kan tak merampok hari ini?
Na… nasi rames? Kau kan tak merampok hari ini?
BOPENG (Tertawa)
Syukur, belum sejauh itu aku perlu merendahkan diriku, Kek.
Syukur, belum sejauh itu aku perlu merendahkan diriku, Kek.
Hingga pada akhir adegan
terlihat jelas bahwa alur cerita adalah alur lurus.
KEDENGARAN SESEKALI DERU LALU LINTAS DI ATAS JEMBATAN. BUNYI-BUNYI MALAM DARI JANGKRIK, KODOK, DLL, DI BAWAH JEMBATAN.
ATI (Setelah Lama Hening)
Mengapa Abang ini harus pulang pergi mengantarkan aku?
Mengapa Abang ini harus pulang pergi mengantarkan aku?
KAKEK (Curiga)
Apa maksudmu?
Apa maksudmu?
ATI
Eh, apa salahnya dia tinggal sambil istirahat sebentar di kampungku. Siapa tahu, di sana ada kerja yang cocok untuknya.
Eh, apa salahnya dia tinggal sambil istirahat sebentar di kampungku. Siapa tahu, di sana ada kerja yang cocok untuknya.
KAKEK (Setelah Menyenggol
Pincang Keras-Keras Dengan Sikunya Di Samping)
Akur! Aku setuju banget, dia tinggal dulu sekedar istirahat di sana, asal saja orang tuamu setuju di sana, sudah tentu.
Akur! Aku setuju banget, dia tinggal dulu sekedar istirahat di sana, asal saja orang tuamu setuju di sana, sudah tentu.
Kutipan ALUR
KOLONG
SUATU JEMBATAN UKURAN SEDANG, DI SUATU KOTA BESAR. PEMANDANGAN BIASA DARI SUATU
PEMUKIMAN KAUM GELANDANGAN. LEWAT SENJA. TIKAR-TIKAR
ROBEK. PAPAN-PAPAN. PERABOT-PERABOT BEKAS RUSAK. KALENG-KALENG MENTEGA DAN SUSU
KOSONG. LAMPU-LAMPU TOMPLOK.
DUA TUNGKU, BERAPI. DI ATASNYA KALENG MENTEGA, DENGAN ISI BERASAP. SI PINCANG MENUNGGUI JONGKOK TUNGKU YANG SATU, YANG SATU LAGI DITUNGGUI OLEH KAKEK. ANI DAN INA, DALAM KAIN TERLILIT TIDAK RAPIH, DAN KUTANG BERWARNA, ASYIK DANDAN DENGAN MASING-MASING DI TANGANNYA SEBUAH CERMIN RETAK. SEKALI-KALI KEDENGARAN SUARA GEMURUH DI ATAS JEMBATAN, TANDA KENDARAAN BERAT LEWAT. SUARA GEMURUH LAGI.
DUA TUNGKU, BERAPI. DI ATASNYA KALENG MENTEGA, DENGAN ISI BERASAP. SI PINCANG MENUNGGUI JONGKOK TUNGKU YANG SATU, YANG SATU LAGI DITUNGGUI OLEH KAKEK. ANI DAN INA, DALAM KAIN TERLILIT TIDAK RAPIH, DAN KUTANG BERWARNA, ASYIK DANDAN DENGAN MASING-MASING DI TANGANNYA SEBUAH CERMIN RETAK. SEKALI-KALI KEDENGARAN SUARA GEMURUH DI ATAS JEMBATAN, TANDA KENDARAAN BERAT LEWAT. SUARA GEMURUH LAGI.
kutipan TEMA
INA
Abang selama ini telah banyak bercerita padaku tentang masa depan, tentang cita-cita dan bahagia. Tapi, aku sedikitpun tak ada melihat, bahwa Abang sungguh-sungguh ingin menebus kata-kata itu dengan perbuatan. Terus terang saja, Bang, aku memang selalu mengagumi ucapan-ucapan Abang. Sungguh dalam-dalam maknanya! Dan kata-kata, dengan mana Abang mengatakannya sungguh lain dari yang lain. Bermalam-malam aku, tergolek di samping Abang (Suara Batuk-Batuk Kakek), melanturkan angan-anganku menerawang entah kemana: Ah, sekiranya betullah semua yang diucapkan laki-laki pujaanku ini, aku pastilah jadi wanita yang paling bahagia di dunia ini.
Abang selama ini telah banyak bercerita padaku tentang masa depan, tentang cita-cita dan bahagia. Tapi, aku sedikitpun tak ada melihat, bahwa Abang sungguh-sungguh ingin menebus kata-kata itu dengan perbuatan. Terus terang saja, Bang, aku memang selalu mengagumi ucapan-ucapan Abang. Sungguh dalam-dalam maknanya! Dan kata-kata, dengan mana Abang mengatakannya sungguh lain dari yang lain. Bermalam-malam aku, tergolek di samping Abang (Suara Batuk-Batuk Kakek), melanturkan angan-anganku menerawang entah kemana: Ah, sekiranya betullah semua yang diucapkan laki-laki pujaanku ini, aku pastilah jadi wanita yang paling bahagia di dunia ini.
Tapi, dengan hati yang
pedih aku dari hari kehari melihat, dan mengalami, bahwa semua ucapan Abang itu
bakal tetap tinggal cuma kata-kata saja. Aku melihat pada diri Abang semacam
kejanggalan laku dan sikap untuk berbuat, untuk bertindak. Abang gamang berbuat
sesuatu. Abang adalah manusia khayal dan kata-kata semata, dan asing sekali di
bumi dari otot-otot, debu, deru dan keringat berkucuran. Semula masih ada
harapanku diam-diam, bahwa Abang pada suatu hari akan mengungkapkan diri Abang sebagai
seorang pengarang. Tapi, alangkah kecewanya aku melihat, betapa Abang telah
menghambur-hamburkan kerangka karangan-karangan Abang itu dalam
percakapan-percakapan kecil tentang kisah-kisah kecil yang menjemukan di kolong
jembatan ini. Ya, kolong jembatan ini telah membunuh dan mengubur tokoh
pengarang pada diri Abang itu. Dan aku, gelandangan biasa saja, yang diburu
oleh sekian kekurangan dan kenangan buruk di masa yang lampau, aku tak mampu
lagi mencernakan kata-kata Abang itu sebagaimana mestinya. Walhasil, bagiku
Abang adalah seorang aneh, tak lebih dan tak kurang dari seorang parasit…
Dan bila aku tadi menerima
lamaran bang becak itu, maka itu berarti, bahwa belum tentu aku mencintainya;
itu berarti, bahwa pada hakekatnya aku masih tetap pengagum kata-katamu yang
dalam-dalam maknanya itu. Tapi juga, Bang, bahwa aku lebih gandrung akan
kepastian, kenyataan dan kejelasan. Bukannya aku tak sadar, apa dan bagaimana
nasib seorang isteri dari seorang bang becak. Mungkin aku bukan isterinya
satu-satunya. Mungkin aku akan berhari-hari tak melihat dia, tak menerima uang
belanja. Mungkin tak lama lagi aku bakal jadi perawat dia yang sudah teruk dan
tak kuat lagi menarik becaknya, batuk-batuk darah. Tapi, itu semuanya rela
kuterima, Bang, demi – dapatnya aku memiliki sebuah kartu penduduk! (Menangis)
Kartu penduduk, yang bagiku berarti: berakhirnya segala yang tak pasti.
Berakhirnya rasa takut dan dikejar-kejar seolah setiap saat polisi datang untuk
merazia kita, membawa kita dengan truk-truk terbuka keneraka-neraka terbuka
yang di koran-koran disebut sebagai “taman-taman latihan kerja untuk kaum tuna
karya”. Gambar kita di atas truk terbuka itu dimuat besar-besar di koran. Tapi,
kemudian koran-koran bungkem saja mengenai penghinaan-penghinaan yang kita
terima di sana. Kemudian kita dengan sendirinya berusaha dapat lari dari sana,
untuk kemudian terdampar lagi di tempat-tempat seperti ini. Tidak, Bang! Mulai
sekarang, aku mengharapkan tidurku bisa nyenyak, tak lagi sebentar-sebentar
terkejut bangun, basah kuyup oleh keringat dingin.
Kemudian dialog dari si
Pincang
PINCANG
Ya, aku telah bertekad ingin memulai segala-galanya dengan benar-benar suci bersih. Aku besok mengantarnya kesana dengan tidak sedikitpun anggapan sebagai calon menantu seperti yang kalian gambarkan tadi. Apa alasanku untuk menganggap begitu saja, bahwa orang tuanya secara otomatis bakal menerima aku sebagai menantunya? Kemungkinan, bahkan hak penuh mereka untuk menolak aku, tetaplah ada dan ada baiknya sejak semula ikut diperhitungkan. Ya, aku ingin kesana, tapi dengan patokan bermula: aku benar-benar ingin kerja. Kembali kerja! Kembali merasakan keutuhan dan kedaulatan tubuhku di dalam teriknya matahari, dengan kesadaran bahwa butir-butir keringatku yang mengucur itu adalah taruhanku untuk sesuap nasi yang halal. Soal menantu, kawin, cinta… ah, hendaknya aku diperkenankan kiranya tidak dulu mempunyai urusan apa-apa dengan itu semuanya. Kerangka-kerangka yang disebut Ina tadi, ingin kukubur… setidaknya untuk sementara dulu. Aku ingin mengembalikan seluruh kedirianku kembali kekesegarannya semula, yang dulu… entah telah berapa puluh tahun yang lalu, telah hilang… oleh salahku sendiri. Aku harap, Ina, maupun orang tuanya, sudi memandang diriku dalam kerangka persoalan seperti ini, dan tidak menganggap aku di sana sebagai lebih dari itu. Aku datang sebagai pelamar kerja, pelamar keadaan dan kemungkinan hidup yang baik kembali. (Suaranya Turun, Nafasnya Satu-Satu) Sudah tentu, sudah tentu… kalian berhak menolak lamaranku…
Ya, aku telah bertekad ingin memulai segala-galanya dengan benar-benar suci bersih. Aku besok mengantarnya kesana dengan tidak sedikitpun anggapan sebagai calon menantu seperti yang kalian gambarkan tadi. Apa alasanku untuk menganggap begitu saja, bahwa orang tuanya secara otomatis bakal menerima aku sebagai menantunya? Kemungkinan, bahkan hak penuh mereka untuk menolak aku, tetaplah ada dan ada baiknya sejak semula ikut diperhitungkan. Ya, aku ingin kesana, tapi dengan patokan bermula: aku benar-benar ingin kerja. Kembali kerja! Kembali merasakan keutuhan dan kedaulatan tubuhku di dalam teriknya matahari, dengan kesadaran bahwa butir-butir keringatku yang mengucur itu adalah taruhanku untuk sesuap nasi yang halal. Soal menantu, kawin, cinta… ah, hendaknya aku diperkenankan kiranya tidak dulu mempunyai urusan apa-apa dengan itu semuanya. Kerangka-kerangka yang disebut Ina tadi, ingin kukubur… setidaknya untuk sementara dulu. Aku ingin mengembalikan seluruh kedirianku kembali kekesegarannya semula, yang dulu… entah telah berapa puluh tahun yang lalu, telah hilang… oleh salahku sendiri. Aku harap, Ina, maupun orang tuanya, sudi memandang diriku dalam kerangka persoalan seperti ini, dan tidak menganggap aku di sana sebagai lebih dari itu. Aku datang sebagai pelamar kerja, pelamar keadaan dan kemungkinan hidup yang baik kembali. (Suaranya Turun, Nafasnya Satu-Satu) Sudah tentu, sudah tentu… kalian berhak menolak lamaranku…
Dan dialog dari Kakek
KAKEK
Ah, kau tak tahu apa arti
kolong jembatan ini dalam hidupku. Sebagian dari hidupku, kuhabiskan di sini.
Memang, dia milik siapa saja yang datang kemari karena rupa-rupanya memang tak
dapat berbuat lain lagi. Ia milik manusia-manusia yang terpojok dalam hidupnya.
Yang kenangannya berjungkiran, dan tak tahu akan berbuat apa dengan
harapan-harapan dan cita-citanya. Yang meleset menangkap irama dari kurun yang
sedang berlaku. (KEMBALI MENGUAP) Pada diriku, semuanya yang kusebut tadi itu
terdapat saling tindih menindih, berlapis-lapis, dan sebagai selaput luarnya
yang makin keras: usiaku yang semakin tua! Semakin tua kita, semakin lamban
kita, semakin keluar kita dari rel… dan akhirnya: dari tuna karya, kita jadi
tuna hidup. Selanjutnya, tinggallah lagi kita jadi beban bagi kuli-kuli
kotapraja yang membawa mayat kita ke RSUP. Apabila kita mujur sedikit, maka
pada saat terakhir mayat dan tulang-tulang kita masih dapat berjasa bagi ilmu
urai kedokteran, menjadi pahlawan-pahlawan tak dikenal bagi kemanusiaan. (MENGUAP)
Ah, selamat malam…
AMANAT
Bisa dilihat dari dialog
berikut.
PINCANG
Ya, aku telah bertekad ingin memulai segala-galanya
dengan benar-benar suci bersih. Aku besok mengantarnya kesana dengan tidak
sedikitpun anggapan sebagai calon menantu seperti yang kalian gambarkan tadi.
Apa alasanku untuk menganggap begitu saja, bahwa orang tuanya secara otomatis
bakal menerima aku sebagai menantunya? Kemungkinan, bahkan hak penuh mereka
untuk menolak aku, tetaplah ada dan ada baiknya sejak semula ikut diperhitungkan.
Ya, aku ingin kesana, tapi dengan patokan bermula: aku benar-benar ingin kerja.
Kembali kerja! Kembali merasakan keutuhan dan kedaulatan tubuhku di dalam
teriknya matahari, dengan kesadaran bahwa butir-butir keringatku yang mengucur
itu adalah taruhanku untuk sesuap nasi yang halal. Soal menantu, kawin, cinta…
ah, hendaknya aku diperkenankan kiranya tidak dulu mempunyai urusan apa-apa
dengan itu semuanya. Kerangka-kerangka yang disebut Ina tadi, ingin kukubur…
setidaknya untuk sementara dulu. Aku ingin mengembalikan seluruh kedirianku
kembali kekesegarannya semula, yang dulu… entah telah berapa puluh tahun yang
lalu, telah hilang… oleh salahku sendiri. Aku harap, Ina, maupun orang tuanya,
sudi memandang diriku dalam kerangka persoalan seperti ini, dan tidak
menganggap aku di sana sebagai lebih dari itu. Aku datang sebagai pelamar
kerja, pelamar keadaan dan kemungkinan hidup yang baik kembali. (Suaranya
Turun, Nafasnya Satu-Satu) Sudah tentu, sudah tentu… kalian berhak menolak
lamaranku…
Korespodensi/ keterkaitan antara “tema, amanat dan
tokoh”
Disini
sudah sangat jelas dijelaskan sebelumnya pada pembagian unsur intrinsik, bahwa
tema yang diangkat yaitu Kehidupan dan adat istiadat penari ronggeng, diambilnya
tema ini tentunya berdasarkan kejadian yang dialami oleh tokoh-tokoh yang ada
pada novel, terutama tokoh utama yang harus menjalani kehidupannya dan
melaksanakan syarat-syarat untuk menjadi seorang ronggeng yang sah berdasarkan
budaya sebelumnya. Kemudian disini diambilnya amanat Jalani lah kehidupan
dengan sebaik-baiknya, walaupun harus mengambil resiko yang tinggi. Juga
merupakan kaitan dari tema dan yang dialami oleh tokoh utama, dimana disaat
kita sudah mengambil keputusan, maka jalani lah keputusan yang sudah diambil
itu dengan melakukan sebaik-baiknya tanpa mengenal seberapa besar resiko yang
akan kita peroleh. Karena keputusan yang kita ambil pasti merupakan keputusan
yang terbaik dari pilihan-pilihan yang ada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar