Selasa, 08 Oktober 2013

Nida Amalia (2222112087)


KAJIAN DRAMA INDONESIA
ANALISIS NASKAH DRAMA MALAM JAHANAM
KARYA MOTINGGO BOESJE


 

A.    Definisi Drama
Setelah membaca naskah drama, saya dapat menyimpulkan bahwa drama adalah salah satu karya sastra yang berbentuk dialog dengan menekankan unsur visualisasi bagi pembacanya, dan petunjuk pengarang dalam menggambarkan situasi dan kondisi yang terjadi pada cerita yang terdapat di dalam drama cukup berpengaruh.Sedangkan dalam pertunjukan drama, setelah saya menyaksikan pementasan drama yang berjudul Sandiwara Malin Kundang, bahwa segala unsur yang ditampillkan sangat berpengaruh terhadap kesan yang ditinggalkan untuk para penonton drama.Misalnya saja, ketika para tokoh anak-anak yang memiliki karakter beragam itu memakai konsum unik berwarna-warni dengan memakai wig warna pelangi.Menurut saya darama yang berkesan ialah yang menarik dan unik, seperti drama Sandiwara Malin Kundang itu.
B.     Anatomi drama
1.      Babak
2.      Adegan
3.      Petunjuk pengarang
4.      Prolog
5.      Epilog

a)   Contoh Babak 1 pada naskah drama Malam Jahanam karya Motinggo Boesje:
Malam ini, perkampungan nelayan itu, dirumah mat kontan dan soleman tampak sepi. Barangkali hampir seisi kampung melihat  ubruk, sebab bunyi ubruk disebelah timur begitu sayu menikam-nikam.
Hanya ujung atap dan tonggak bambu rumah soleman saja yang tampak dikiri.Dekat tonggak bambu itu tergantung sebuah lentera yang diombang-ambing angin barat.Ada sebuah bangku dibawah lentera itu, biasa dipakai oleh soleman untuk duduk-duduk, tapi malam ini bangku itu kosong.
Rumah yang dihadapan rumah soleman itulah rumahnya mat kontan, seorang yang terkenal sombong di kampung itu. Pintu rumahnya tertutup. Biasanya, disebelah kanan pintu itu ia duduk di sebuah bangku bambu panjang. Dengan menaiki bangku itu ia sering bersiul mempermainkan perkututnya  di dalam  sangkar yang tergantung pada ujung atap. Dikiri pintu ada beberapa pelepah kelapa teronggok. Sebuah tiang jemuran di depan rumah masih disangkuti pakaian, perlahan terhembus oleh bias yang berhembus dari balik rumahnya bersama kertas-kertas.
Di kejauhan kelam, samar buntut perahu, beberapa tiang temali perahu mengabur. Sunyi makin tertekan karena suara ubruk di kejauhan itu semakin mengeras.
b)     Contoh Adegan dalam Babak 2 pada naskah drama Malam Jahanam karya Motinggo Boesje:
Paijah: Kurang ajar! Kurang ajar! Kurang ajar, si Utai sinting!
Matanya melihat jemuran dan mengambil satu persatu jemuran itu, tetapi ia masih juga mencari-cari si utai. ketawa si utai meledak.
Utai: Ampun! Ampun!
Muncul dari persembunyiannya sambil menggaruk kepala.
Paijah: Babi! (tapi kemudian tertawa lucu). Ayo bawa pakaian si kecil ini ke jemuran! Eh, edan! Eh, ke jemuran (latah), Eh, bukan! Ke dalam!
Utai: Saya kira saya mau dipukul tadi! (mengambil pakaian) Saya sudah panas dingin (sambil tertawa ia masuk)
Paijah berjalan menuju bangku di muka rumahnya, duduk, bernafas  lega. Tak lama kemudian keluar utai tertawa geli.

c)  Dari adegan di atas, kata-kata yang terdapat dalam tanda kurung merupakan petunjuk pengarang dalam sebuah drama.
d)     Prolog dalam naskah drama Malam Jahanam karya Motinggo Boesje:
Dipinggiran laut kota kami, para nelayan tampak selalu gembira meskipun miskin. Rumah mereka terdiri dari gubuk, tiang bambu beratap daun kelapa.Suara mereka yang keras dan gurauan kasar mereka, seolah mengesankan bahwa mereka kurang ajar.Begitu pula pakaian mereka, yang lelaki bercelana katok dan berbaju kaos hitam denang golok diikat di pinggang.
Kain sarung terselempang, berkopiah dan mata yang tajam mengesankan darah yang keras.
Perermpuan di sini berbicara pedas, penuh gairah dan pahit.Pakaian mereka mencolok di tubuh padatnya, mencolok seperti ketawanya yang keras, sambil bibir bergincu itu melemparkan senyum yang seolah-olah kurang ajar.
Tetapi betapun sebenarnya, mereka, seperti dimana-mana mempunyai juga kelembutan hati dan ketulusan, biarpun mungkin ketulusan yang agak bodoh.
Malam ini semua itu terjadi.

e)    Epilog dalam naskah drama Malam Jahanam karya Motinggo Boesje:
           Tangis bayi yang makin meninggi menyebabkan tukang pijat itu mendekat.Tapi kemudian tangis itu terhenti di dalam puncaknya.Terdengar raung perempuan di dalam. Kemudian pintu terhempas keluarlah Paijah dalam rambut kusut masai. Hampir menabrak tukang pijat.Tangis Paijah terdekam ke dadanya. Berhenti ia menangis dari tempat kelam itu. Lambat ia berjalan menuju tukang pijat, setengah berteriak.
Paijah: Pak! Anakku mati Pak!
           Si Tua belum sempat bertanya, perempuan itu melarikan diri ke arah Mat Kontan telah menghilang.***

C.    Sinopsis Drama Malam Jahanam:
Di sebuah perkampungan nelayan, Mat Kontan dan istrinya (Paijah) serta anaknya (Mat Kontan Kecil).Soleman, teman dekat Mat Kontan, tinggal di seberang rumah mereka.Mat Kontan memiliki peliharaan burung beo, dan seolah lebih cinta burungnya daripada istrinya, Paijah. Apalagi terdengar kabar bahwa Mat Kontan mandul.Paijah yang sering kesepian karena ditinggal suaminya main kartu atau menyabung ayam, dengan begitu berkemungkinan Paijah menjadi akrab dengan Soleman.
Akhirnya, kemungkinan itu menjadi kenyataan, di suatu malam jahanam, terjadilah apa yang mestinya tak pantas terjadi. Paijah hamil. Mat Kontan senang karena terbukti bahwa dia tak mandul. Tapi Paijah dikejar kecemasan dan ketakutan kalau sampai rahasianya terbongkar, bahkan sampai setelah bayinya lahir. Kekhawatiran itu membuat Soleman membunuh burung beo kesayangan Mat Kontan di malam jahaman yang lain. Mat Kontan sangat marah. Maka, teranglah segala rahasia yang tersembunyi.Setelah sebuah perkelahian, Mat Kontan kembali akur dengan istrinya.Mat Kontan kembali ke rumahnya dan masih mau hidup dengan Paijah serta anak Soleman. Dia bahkan mulai memerhatikan anak itu dan pergi memanggil dukun untuk mengobati penyakitnya.Sayangnya, malam itu juga si bayi meninggal dunia.

D. Analisis unsur intrinsik naskah drama Malam Jahanam karya Motinggo Boesje:
Tema: Perselingkuhan
Alur: Maju
Peristiwa yang dialami oleh tokoh cerita tersusun menurut urutan waktu terjadinya  secara berurutan. Hal ini bisa dibuktikan dalam narasi pada babak 3 yaitu:
           Soleman muncul dari rumahnya.Ia tahu kemana utai pergi. Kemudian ia melihat sekeliling. Ia duduk-duduk di bangkunya dengan lutut menutup mukanya, tapi asap rokok mengepul dari balik lutut itu. Kini matanya menatap ke pintu rumah mat kontan lama-lama sambil membetulkan sarung yang melingkari lehernya. Sebentar-bentar kopiahnya ditekan-tekan, tapi kemudian menoleh mendengar suara dikejauhan. Suara itu adalah suara tukang pijat, seorang buta yang sering melintas sambil menyeret kaleng bekas susu. Baru kemudian ia muncul disamping rumah mat kontan, tapi tak begitu jelas karena disana agak gelap.

Setting:
-          Tempat            : Di perkarangan rumah dan didalam rumah.
1.      Tiba-tiba sunyi itu dipecahkan oleh suara tertawa pendek geli dari si utai setengah pandir yang baru keluar dari pintu rumah Mat Kontan. Ia terus berlari dan bersembunyi di dekat pojokan rumah soleman. Tertawanya tertinggal di sana. Tak lama sesudah itu keluar paijah istri mat kontan berteriak sambil mencari-cari.
2.      Utai: (melihat sesuatu terbang) Kalau tidak,  menangkap kumbang.
Melompat Dan berputar-putar di halaman sambil tangannya menangkap sesuatu tapi tidak kena-kena.
3.      Paijah: Si Kontan, lakiku. Mat Kontan.
Suara tangis bayi di dalam rumahmengagetkan Paijah.
-          Waktu: Malam
Malam ini, perkampungan nelayan itu, dirumah mat kontan dan soleman tampak sepi. Barangkali hampir seisi kampung melihat  ubruk, sebab bunyi ubruk disebelah timur begitu sayu menikam-nikam.
-          Suasana: Tegang
Paijah:(setelah berfikir sebentar, tiba-tiba ia kaget). Man!
Soleman: Apa?
Paijah: Sebentar lagi tentu mereka datang. Man, saya takut Man!
Soleman: Tenang saja. Tenang saja.
-          Tokoh dan penokohan
1.      Tokoh Antagonis        : Mat Kontan
2.      Tokoh Protagonis        : Paijah
3.      Tokoh Tritagonis         : Soleman
4.      Tokoh tambahan         : Utai dan Tukang pijit

Karakter Tokoh
1.      Watak Mat Kontan
Mat Kontan adalah seorang lelaki yang telah memiliki seorang istri dan juga seorang anak. Mat Kontan memiliki sifat yang sombong, egois, emosional, dan sok tahu, Mat Kontan termasuk orang yang tidak bisa menerima kenyataan yang tidak sesuai dengan keinginannya.
2.      Watak Paijah
Seorang perempuan yang telah bersuami dan memiliki seorang anak yang masih bayi. Paijah seorang wanita yang berwatak pencemas dan tidak setia. Tokoh Paijah ini cenderung dilanda ketakutan karena perselingkuhan yang telah dilakukannya bersama tokoh Soleman.
3.      Watak Soleman
Soleman adalah seorang lelaki yang belum menikah, tinggal di seberang rumah Mat Kontan dan Paijah.Soleman adalah sahabat dari Mat Kontan.Soleman seorang lelaki yang berwatak tidak peduli, pengkhianat, dan berani mengambil resiko.
4.      Watak Utai
Lelaki yang sangat bergantung pada Mat Kontan, memiliki watak yang setia. Tokoh utai cenderung menggambarkan seseorang yang lemah dan mudah untuk dimanfaatkan.
5.      Tukang Pijat
Seorang lelaki tuna netra, Tukang Pijat ini sering melintas di sekitar rumah Soleman dan Mat Kontan sambil menyeret kaleng bekas susu.

E.     Amanat
Kisah yang diangkat dalam naskah drama Malam Jahanam ini memberikan pencerahan dan kesan yang cukup berarti, tentang betapa pentingnya keharmonisan, kesetiaan, kejujuran dan komunikasi yang baik dalam sebuah hubungan, khususnya sebuah pernikahan. Tokoh Paijah merupakan gambaran seorang istri yang tidak bias menjaga kehormatan dirinya dan suaminya, karena telah melakukan penyelewengan dalam arti perselingkuhan dengan lelaki lain yaitu tokoh Soleman. Sedangkan Soleman yang merupakan sahabat Mat kontan, suami Paijah, dengan tidak berpikir panjang bisa melakukan pengkhianatan dengan bermain api bersama Paijah di suatu malam. Dan Mat kontan, adalah lelaki yang memiliki watak keras, sombong, dan selalu ingin menjadi pemenang, seolah menggambarkan alasan mengapa Paijah sampai hati untuk mengkhianati cintanya.
Pesan moral yang bisa diambil, tentu saja sebagai seorang istri bukan sekadar harus mampu menjaga dirinya dari godaan lelaki manapu, tetapi sudahlah sebagai kewajiban yang mesti dijalani untuk menjaga kesetiaan terhadap suaminya, meskipun jarang ada di rumah. Seperti tokoh Mat Kontan yang sering meninggalkan istrinya sehingga istrinya merasa kesepian. Selain itu, pesan yang bisa diambil dari tokoh Mat Kontan, bahwa sebagai seorang suami jangan selalu menyalahkan orang lain, termasuk istrinya. Sebagai suami yang baik mestinya ia mampu untuk membimbing istrinya ke jalan yang baik. Misalnya saja, andai Paijah tidak lama ditinggal sendirian, dengan ketika ada Mat Kontan, suaminya itu jarang bersikap manis. Sedangkan untuk Soleman, pesan yang bisa diambil ialah sebagai seorang sahabat tidak sepantasnya mengkhianati apalagi merebut istri sahabatnya sendiri. Karena sahabat yang baik tidak akan pernah menyakiti sahabatnya sedemikian dalam.
Pada intinya, dalam kehidupan yang penuh fatamorgana yang menggoyahkan kebaikan, kita mesti berhati-hati agar tidak terjebak dalam kenikmatan sesaat yang akhirnya menyisakan penyesalan. Semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung dalam kebaikan di kehidupan berliku ini.***

Rumusan Masalah
1.      Mengapa Paijah sampai hati mengkhianati suaminya yaitu Mat Kontan?
2.      Apa latar belakang Soleman tega melakukan ‘malam jahanm’ bersama istri sahabatnya sendiri, yaitu Mat Kontan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar