KAJIAN DRAMA INDONESIA
ANALISIS NASKAH DRAMA MALAM JAHANAM
KARYA MOTINGGO BOESJE
![]() |
A. Definisi Drama
Setelah
membaca naskah drama, saya dapat menyimpulkan bahwa drama adalah salah satu
karya sastra yang berbentuk dialog dengan menekankan unsur visualisasi bagi pembacanya,
dan petunjuk pengarang dalam menggambarkan situasi dan kondisi yang terjadi
pada cerita yang terdapat di dalam drama cukup berpengaruh.Sedangkan dalam
pertunjukan drama, setelah saya menyaksikan pementasan drama yang berjudul Sandiwara Malin Kundang, bahwa segala
unsur yang ditampillkan sangat berpengaruh terhadap kesan yang ditinggalkan
untuk para penonton drama.Misalnya saja, ketika para tokoh anak-anak yang
memiliki karakter beragam itu memakai konsum unik berwarna-warni dengan memakai
wig warna pelangi.Menurut saya darama yang berkesan ialah yang menarik dan
unik, seperti drama Sandiwara Malin
Kundang itu.
B.
Anatomi
drama
1. Babak
2. Adegan
3. Petunjuk
pengarang
4. Prolog
5. Epilog
a)
Contoh
Babak 1 pada naskah drama Malam Jahanam karya
Motinggo Boesje:
Malam ini, perkampungan nelayan
itu, dirumah mat kontan dan soleman tampak sepi. Barangkali hampir seisi
kampung melihat ubruk, sebab bunyi ubruk
disebelah timur begitu sayu menikam-nikam.
Hanya ujung atap dan tonggak bambu
rumah soleman saja yang tampak dikiri.Dekat tonggak bambu itu tergantung sebuah
lentera yang diombang-ambing angin barat.Ada sebuah bangku dibawah lentera itu,
biasa dipakai oleh soleman untuk duduk-duduk, tapi malam ini bangku itu kosong.
Rumah yang dihadapan rumah soleman
itulah rumahnya mat kontan, seorang yang terkenal sombong di kampung itu. Pintu
rumahnya tertutup. Biasanya, disebelah kanan pintu itu ia duduk di sebuah
bangku bambu panjang. Dengan menaiki bangku itu ia sering bersiul mempermainkan
perkututnya di dalam sangkar yang tergantung pada ujung atap.
Dikiri pintu ada beberapa pelepah kelapa teronggok. Sebuah tiang jemuran di
depan rumah masih disangkuti pakaian, perlahan terhembus oleh bias yang
berhembus dari balik rumahnya bersama kertas-kertas.
Di kejauhan kelam, samar buntut
perahu, beberapa tiang temali perahu mengabur. Sunyi makin tertekan karena
suara ubruk di kejauhan itu semakin mengeras.
b)
Contoh
Adegan dalam Babak 2 pada naskah drama Malam
Jahanam karya Motinggo Boesje:
Paijah:
Kurang
ajar! Kurang ajar! Kurang ajar, si Utai sinting!
Matanya
melihat jemuran dan mengambil satu persatu jemuran itu, tetapi ia masih juga
mencari-cari si utai. ketawa si utai meledak.
Utai:
Ampun!
Ampun!
Muncul
dari persembunyiannya sambil menggaruk kepala.
Paijah:
Babi!
(tapi kemudian tertawa lucu). Ayo
bawa pakaian si kecil ini ke jemuran! Eh, edan! Eh, ke jemuran (latah), Eh, bukan! Ke dalam!
Utai:
Saya
kira saya mau dipukul tadi! (mengambil
pakaian) Saya sudah panas dingin (sambil
tertawa ia masuk)
Paijah berjalan menuju bangku di
muka rumahnya, duduk, bernafas lega. Tak
lama kemudian keluar utai tertawa geli.
c) Dari
adegan di atas, kata-kata yang terdapat dalam tanda kurung merupakan petunjuk
pengarang dalam sebuah drama.
d)
Prolog
dalam naskah drama Malam Jahanam
karya Motinggo Boesje:
Dipinggiran laut kota kami, para
nelayan tampak selalu gembira meskipun miskin. Rumah mereka terdiri dari gubuk,
tiang bambu beratap daun kelapa.Suara mereka yang keras dan gurauan kasar
mereka, seolah mengesankan bahwa mereka kurang ajar.Begitu pula pakaian mereka,
yang lelaki bercelana katok dan berbaju kaos hitam denang golok diikat di
pinggang.
Kain sarung terselempang, berkopiah
dan mata yang tajam mengesankan darah yang keras.
Perermpuan di sini berbicara pedas,
penuh gairah dan pahit.Pakaian mereka mencolok di tubuh padatnya, mencolok
seperti ketawanya yang keras, sambil bibir bergincu itu melemparkan senyum yang
seolah-olah kurang ajar.
Tetapi betapun sebenarnya, mereka,
seperti dimana-mana mempunyai juga kelembutan hati dan ketulusan, biarpun
mungkin ketulusan yang agak bodoh.
Malam ini semua itu terjadi.
e)
Epilog dalam naskah drama Malam Jahanam karya Motinggo Boesje:
Tangis
bayi yang makin meninggi menyebabkan tukang pijat itu mendekat.Tapi kemudian
tangis itu terhenti di dalam puncaknya.Terdengar raung perempuan di dalam.
Kemudian pintu terhempas keluarlah Paijah dalam rambut kusut masai. Hampir
menabrak tukang pijat.Tangis Paijah terdekam ke dadanya. Berhenti ia menangis
dari tempat kelam itu. Lambat ia berjalan menuju tukang pijat, setengah
berteriak.
Paijah:
Pak! Anakku mati Pak!
Si
Tua belum sempat bertanya, perempuan itu melarikan diri ke arah Mat Kontan
telah menghilang.***
C.
Sinopsis
Drama Malam Jahanam:
Di sebuah perkampungan nelayan,
Mat Kontan dan istrinya (Paijah) serta anaknya (Mat Kontan Kecil).Soleman,
teman dekat Mat Kontan, tinggal di seberang rumah mereka.Mat
Kontan memiliki peliharaan burung beo, dan seolah lebih cinta burungnya
daripada istrinya, Paijah. Apalagi terdengar kabar bahwa Mat Kontan
mandul.Paijah yang sering kesepian karena ditinggal suaminya main kartu atau
menyabung ayam, dengan begitu berkemungkinan Paijah menjadi akrab dengan
Soleman.
Akhirnya,
kemungkinan itu menjadi kenyataan, di suatu malam jahanam, terjadilah apa yang
mestinya tak pantas terjadi. Paijah hamil. Mat Kontan senang karena terbukti
bahwa dia tak mandul. Tapi Paijah dikejar kecemasan dan ketakutan kalau sampai rahasianya
terbongkar, bahkan sampai setelah bayinya lahir. Kekhawatiran itu membuat
Soleman membunuh burung beo kesayangan Mat Kontan di malam jahaman yang lain.
Mat Kontan sangat marah. Maka, teranglah segala rahasia yang tersembunyi.Setelah
sebuah perkelahian, Mat Kontan kembali akur dengan istrinya.Mat Kontan kembali ke rumahnya
dan masih mau hidup dengan Paijah serta anak Soleman. Dia bahkan mulai
memerhatikan anak itu dan pergi memanggil dukun untuk mengobati
penyakitnya.Sayangnya, malam itu juga si bayi meninggal dunia.
D. Analisis unsur intrinsik naskah
drama Malam Jahanam karya Motinggo
Boesje:
Tema:
Perselingkuhan
Alur:
Maju
Peristiwa
yang dialami oleh tokoh cerita tersusun menurut urutan waktu terjadinya secara berurutan. Hal ini bisa dibuktikan
dalam narasi pada babak 3 yaitu:
Soleman
muncul dari rumahnya.Ia tahu kemana utai pergi. Kemudian ia melihat sekeliling.
Ia duduk-duduk di bangkunya dengan lutut menutup mukanya, tapi asap rokok
mengepul dari balik lutut itu. Kini matanya menatap ke pintu rumah mat kontan
lama-lama sambil membetulkan sarung yang melingkari lehernya. Sebentar-bentar
kopiahnya ditekan-tekan, tapi kemudian menoleh mendengar suara dikejauhan.
Suara itu adalah suara tukang pijat, seorang buta yang sering melintas sambil
menyeret kaleng bekas susu. Baru kemudian ia muncul disamping rumah mat kontan,
tapi tak begitu jelas karena disana agak gelap.
Setting:
-
Tempat :
Di perkarangan rumah dan didalam rumah.
1.
Tiba-tiba
sunyi itu dipecahkan oleh suara tertawa pendek geli dari si utai setengah
pandir yang baru keluar dari pintu rumah
Mat Kontan. Ia terus berlari dan bersembunyi di dekat pojokan rumah
soleman. Tertawanya tertinggal di sana. Tak lama sesudah itu keluar paijah
istri mat kontan berteriak sambil mencari-cari.
2. Utai:
(melihat sesuatu terbang) Kalau
tidak, menangkap kumbang.
Melompat Dan berputar-putar
di halaman sambil tangannya
menangkap sesuatu tapi tidak kena-kena.
3. Paijah:
Si Kontan, lakiku. Mat Kontan.
Suara tangis bayi di dalam rumahmengagetkan Paijah.
-
Waktu: Malam
Malam ini, perkampungan
nelayan itu, dirumah mat kontan dan soleman tampak sepi. Barangkali hampir
seisi kampung melihat ubruk, sebab bunyi
ubruk disebelah timur begitu sayu menikam-nikam.
-
Suasana: Tegang
Paijah:(setelah berfikir sebentar,
tiba-tiba ia kaget). Man!
Soleman:
Apa?
Paijah:
Sebentar lagi
tentu mereka datang. Man, saya takut Man!
Soleman:
Tenang saja.
Tenang saja.
-
Tokoh dan penokohan
1. Tokoh
Antagonis : Mat Kontan
2. Tokoh
Protagonis : Paijah
3. Tokoh
Tritagonis : Soleman
4. Tokoh
tambahan : Utai dan Tukang pijit
Karakter Tokoh
1. Watak Mat
Kontan
Mat Kontan
adalah seorang lelaki yang telah memiliki seorang istri dan juga seorang anak.
Mat Kontan memiliki sifat yang sombong, egois, emosional, dan sok tahu, Mat Kontan
termasuk orang yang tidak bisa menerima kenyataan yang tidak sesuai dengan
keinginannya.
2. Watak
Paijah
Seorang
perempuan yang telah bersuami dan memiliki seorang anak yang masih bayi. Paijah
seorang wanita yang berwatak pencemas dan tidak setia. Tokoh Paijah ini
cenderung dilanda ketakutan karena perselingkuhan yang telah dilakukannya
bersama tokoh Soleman.
3. Watak
Soleman
Soleman
adalah seorang lelaki yang belum menikah, tinggal di seberang rumah Mat Kontan
dan Paijah.Soleman adalah sahabat dari Mat Kontan.Soleman seorang lelaki yang
berwatak tidak peduli, pengkhianat, dan berani mengambil resiko.
4. Watak
Utai
Lelaki
yang sangat bergantung pada Mat Kontan, memiliki watak yang setia. Tokoh utai
cenderung menggambarkan seseorang yang lemah dan mudah untuk dimanfaatkan.
5. Tukang
Pijat
Seorang
lelaki tuna netra, Tukang Pijat ini sering melintas di sekitar rumah Soleman
dan Mat Kontan sambil menyeret kaleng bekas susu.
E.
Amanat
Kisah yang diangkat
dalam naskah drama Malam Jahanam ini memberikan pencerahan dan kesan yang cukup
berarti, tentang betapa pentingnya keharmonisan, kesetiaan, kejujuran dan
komunikasi yang baik dalam sebuah hubungan, khususnya sebuah pernikahan. Tokoh
Paijah merupakan gambaran seorang istri yang tidak bias menjaga kehormatan
dirinya dan suaminya, karena telah melakukan penyelewengan dalam arti
perselingkuhan dengan lelaki lain yaitu tokoh Soleman. Sedangkan Soleman yang
merupakan sahabat Mat kontan, suami Paijah, dengan tidak berpikir panjang bisa melakukan
pengkhianatan dengan bermain api bersama Paijah di suatu malam. Dan Mat kontan,
adalah lelaki yang memiliki watak keras, sombong, dan selalu ingin menjadi
pemenang, seolah menggambarkan alasan mengapa Paijah sampai hati untuk
mengkhianati cintanya.
Pesan moral yang bisa
diambil, tentu saja sebagai seorang istri bukan sekadar harus mampu menjaga
dirinya dari godaan lelaki manapu, tetapi sudahlah sebagai kewajiban yang mesti
dijalani untuk menjaga kesetiaan terhadap suaminya, meskipun jarang ada di rumah.
Seperti tokoh Mat Kontan yang sering meninggalkan istrinya sehingga istrinya
merasa kesepian. Selain itu, pesan yang bisa diambil dari tokoh Mat Kontan,
bahwa sebagai seorang suami jangan selalu menyalahkan orang lain, termasuk istrinya.
Sebagai suami yang baik mestinya ia mampu untuk membimbing istrinya ke jalan
yang baik. Misalnya saja, andai Paijah tidak lama ditinggal sendirian, dengan
ketika ada Mat Kontan, suaminya itu jarang bersikap manis. Sedangkan untuk
Soleman, pesan yang bisa diambil ialah sebagai seorang sahabat tidak
sepantasnya mengkhianati apalagi merebut istri sahabatnya sendiri. Karena sahabat
yang baik tidak akan pernah menyakiti sahabatnya sedemikian dalam.
Pada intinya, dalam
kehidupan yang penuh fatamorgana yang menggoyahkan kebaikan, kita mesti
berhati-hati agar tidak terjebak dalam kenikmatan sesaat yang akhirnya
menyisakan penyesalan. Semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung dalam
kebaikan di kehidupan berliku ini.***
Rumusan
Masalah
1.
Mengapa
Paijah sampai hati mengkhianati suaminya yaitu Mat Kontan?
2.
Apa
latar belakang Soleman tega melakukan ‘malam jahanm’ bersama istri sahabatnya
sendiri, yaitu Mat Kontan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar