Nama :
Ria Istikomah (2222112050)
Kelas : VD
ANATOMI
DRAMA Rt Nol Rw Nol
Naskah drama
ini menceritakan tentang nasib dari
beberapa orang gelandangan dan dua wanita penghibur yang hidup di dalam satu
lokasi, mereka semua tinggal di kolong jembatan. Dari kolong jembatan inilah
cerita dimulai dan berakhir. Cerita ini dimulai
dengan perbincangan antara Kakek, Si pincang, Ina, dan Ani di bawah
kolong jembatan yang ramai oleh hiruk pikuk lalu lintas. Kakek adalah seorang
mantan kelasi kapal, Si pincang adalah seseorang yang memiliki kekurangan
kondisi fisik, yang selalu gagal mendapatkan pekerjaan yang memuaskan.
Sedangkan Ani dan Ina adalah kakak-beradik yang bekerja sebagai wanita
penghibur. Mereka meratapi kejamnya kota besar. Setiap hari Ani dan Ina pergi mencari
pelanggan dengan ditemani oleh seorang tukang becak yang bertugas mencarikan
dan mengantarkan mereka kepada pelanggannya. Ani dan Ina selalu berharap dari
pekerjaannya ini mereka akan hidup lebih baik.
Setelah Ani
dan Ina pergi bekerja, datanglah laki-laki bernama Bopeng. Bopeng juga
merupakan penghuni kolong jembatan itu, namun hari itu Bopeng mengisyaratkan
bahwa ini adalah hari terakhirnya tinggal di kolong jembatan, karena ia telah
diterima bekerja sebagai kelasi kapal. Hari itu Bopeng datang ke kolong
jembatan bersama seorang wanita bernama Ati. Ati adalah seorang wanita yang
ditinggal oleh suaminya ketika di pelabuhan. Ati tersesat dan tak tahu arah
jalan pulang, ia juga kehabisan uang untuk pulang ke kampungnya hingga akhirnya
bertemu dengan Bopeng.
Karena
merasa iri hati, pincang menyudutkan Bopeng, hingga membuat Bopeng tersinggung.
Akhirnya terjadilah pertengkaran argumen diantara mereka, kemudian kakek
memisahkan mereka berdua. Ati yang gundah hatinya ingin ikut Bopeng berlayar,
namun Bopeng menolaknya dan menyuruh Ati untuk pulang ke kampung halamannya.
Beberapa saat kemudian Ina datang dan membawa kabar bahwa Ani akan dinikahi
oleh salah satu pelanggannya, Ina sendiri juga membawa kabar bahwa ia akan
menikah dengan Si tukang becak. Hal ini mengisyaratkan bahwa Ani dan Ina akan
segera meninggalkan kolong jembatan itu untuk hidup yang lebih baik. Singkat
cerita, Si pincang akhirnya juga sepakat untuk mengantarkan Ati ke kampung
halamannya, dan berjanji akan kembali bekerja, kemudian menikahi Ati. Ati
sebenarnya juga mengajak Kakek untuk pulang ke kampung, namun kakek menolaknya
dan memilih tetap tinggal di kolong jembatan itu, yang sering mereka sebut
dengan Rt nol Rw nol.
Naskah drama
yang menurut catatan dibuat sekitar tahun 1966 ini memiliki tema tentang
perjuangan hidup seseorang untuk mendapatkan kehidupan yang layak dan lebih
baik. Penggunaan tokoh gelandangan dan PSK menunjukkan masyarakat kaum bawah,
yang miskin dan menderita. Jika kembali diputar ke masa lalu saat naskah ini di
tulis, yakni pada tahun 1966, angka inflasi di Indonesia sangat tinggi,
disebabkan oleh menumpuknya defisit APBN dari tahun 1950an hingga pertengahan
1960an, akibatnya Indonesia mengalami krisis ekonomi yang meresahkan. Krisis
ekonomi inilah yang yang menyebabkan masyarakat menderita. Naskah drama ini
seolah-olah merupakan sindiran terhadap keadaan sosial-ekonomi saat itu yang
sedang berada di bawah.
Selain itu
naskah drama ini juga memberikan banyak kritik sosial yang terjadi di Indonesia
saat itu. Bahkan saat ini, kritik sosial yang ada di dalam naskah drama ini
sebenarnya masih cukup relevan. Secara sederhana kritik sosial merupakan
tanggapan atau kecaman terhadap kondisi yang ada di dalam suatu masyarakat.
Jika ditinjau dari judulnya, sebenarnya naskah drama ini sudah menunjukkan
adanya kritik sosial. Judul ‘Rt Nol Rw Nol’ artinya tidak memiliki alamat. Dari
judulnya terlihat bahwa pengarang sebenarnya ingin menanggapi tentang
keberadaan orang-orang pinggiran yang dalam naskah drama ini diwujudkan pada
sosok gelandangan dan PSK yang menghuni
Rt Nol Rw Nol. Orang-orang ini sebenarnya ingin diakui dan diperhatikan oleh
negara, mereka ingin memiliki alamat tetap dan Kartu Tanda Penduduk tetap. Akan
terasa sangat menyakitkan jika keberadaan mereka tidak diperhatikan. Padahal
mereka juga bagian dari negara ini.
UNSUR INTRINSIK
1.
Tema :
Tema
adalah gagasan, ide, atau pikiran utama yang mendasari suatu karya sastra itu
(Sudjiman, 1991: 50). Tema dari naskah drama Rt 0/ Rw 0 ini adalah realita
sosial perjuangan hidup. Terlihat dari dialog-dialog yang yang idealis dan
lebih menonjolkan sikap pantang
menyerah.
2. Amanat :
Amanat
dalam naskah RT NOL RW NOL ini yaitu sebagai manusia harus selalu berusaha dan
berjuang dalam menjalani hidup tanpa ada keputusasaan dalam hidup.
3. Alur :
Alur
adalah rangkaian peristiwa yang satu sama lain dihubungkan dengan hukum
sebab-akibat (Sumardjo, 1994: 139). Alur merupakan salah satu aspek penting
dalam drama karena alur merupakan pembentuk kerangka cerita. Aristoteles bahkan
menyatakan bahwa alur adalah roh drama (Sumardjo, 1994: 141). Adapun alur yang
terdapat pada drama RT NOL RW NOL adalah alur maju atau alur lurus. Dimana
penulis naskah drama menceritakan dari awal mula adegan sampai pada akhir
adegan..
4. Latar :
Latar
adalah segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu,
ruang, dan suasana terjadinya peristiwa dalam suatu karya yang membangun cerita
(Sudiman dalam Teeuw, 2003: 44). Latar dibedakan atas dua macam yaitu latar
sosial dan latar fisik atau material (Hudson dalam Teeuw, 2003: 44). Latar
sosial mencakup penggambaran keadaan masyarakat, kelompok-kelompok sosial dan
sikapnya, adat kebiasaan, cara hidup, dan bahasa. Latar fisik adalah tempat di
dalam wujud fisiknya, yaitu ruang, bangunan, lokasi dan sebagainya. Latar
yang terdapat pada drama ini terdapat latar tempat dan latar waktu. Latar
tempat yang terdapat pada drama ini berlatar dibawah jembatan besar. Penulis
naskah ini dengan jelas menuliskan latar yang terdapat dalam drama ini.
5. Sudut
pandang: orang pertama
dan orang ketiga.
6. Suasana
:
· Tegang
Kutipan: “Kalau maksudmu, bahwa
gara-gara ucapanku yang barusan kita terpaksa berkelahi. Ayo berkelahi!”
·
Bahagia
Kutipan: “Aku berharap, suatu hari
dapat melihat kau lewat, naik becak suamimu, kau dan anakmu sehat dan
montok-montok. Selamat jalan, Nak.”
7. Tokoh dan
Penokohan :
Penokohan
adalah penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh (Sudjiman dalam
Sudjiman, 1991: 23). Metode penyajian penokohan dapat dibagi menjadi metode
langsung, tak langsung, dan kontekstual. Metode langsung dipakai pengarang yang
langsung mengisahkan sifat-sifat tokoh hasrat, pikiran, dan perasaannya. Jika
pembaca harus menyimpulkan watak tokoh dari pikiran, cakapan, dan lakuan,
metode yang dipakai adalah metode tak langsung. Metode kontekstual adalah
metode yang dapat menyimpulkan watak tokoh dari bahasa pengarang. Malam
Jahanam menggunakan metode langsung dan tak langsung.
Tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau
berlakuan di dalam berbagai peristiwa cerita (Sudjiman, 1991: 16). Tokoh-tokoh
dalam drama ini adalah Kakek, Pincang,
Ani, Bopeng, Ina, dan ati. Berdasarkan fungsinya, tokoh dapat dibedakan
menjadi tokoh sentral dan tokoh bawahan. Tokoh sentral dapat dibagi menjadi
tokoh protagonis, antagonis, dan wirawan atau wirawati.
Tokoh protagonis adalah tokoh yang memegang peran pimpinan
atau tokoh utama dan menjadi pusat sorotan dalam kisahan. Tokoh antagonis
adalah tokoh yang merupakan penentang utama dari protagonis. Tokoh wirawan atau
wirawati juga merupakan tokoh penting yang cenderung dapat menggeser kedudukan
tokoh utama. Tokoh bawahan adalah tokoh yang tidak sentral kedudukannya di
dalam cerita tetapi kehadirannya sangat diperlukan untuk menunjang atau
mendukung tokoh utama.
Tokoh antagonis dan protagonis
adalah sebagai berikut:
a. Kakek :
- Bijaksana
Kutipannya : “Jangan bingungkan
dirimu lebih lama lagi dalam kerangka-kerangka kata-kata mu yang meawang itu.”
-
Penyabar
Kutipannya: “kelenggangan disebabkan
perpisahan, terkadang lebih parah dari kematian sendiri. Mengapa pula kita,
manusia-manusia gelandangan, berbuat seolah tak mengerti itu?”
b. Pincang :
- Pemarah
Kutipannya: “Apa aku harus menutup mulutku terus? Mengapa
setiap ucapanku kau anggap sebagai cari fasal saja?”
c. Ani :
- Keras
kepala
Kutipannya: “Semuanya itu akan kami nikmati mala mini. Cara
apapun akan kami jalani, asal kami dapat menemukannya malam ini. Ya, mala mini
juga!”
-
Pantang menyerah
Kutipannya: “Terus, pantang mundur!
Kita bukan dari garam, kan?”
d. Bopeng :
- Rendah
Hati
Kutipannya: “Sabar. Rokok sungguhpun
ada. Malah sebungkus utuh.”
e. Ina :
- Penyabar
Kutipannya: “Sudahlah Kak. Hujan
atau tak hujan, kita tetap keluar.”
f.
Ati :
-
Pemalu
Kutipannya: “Malu Kek. Kami
berangkat dari sana dengan pesta dan doa. Segala pakaian dan perhiasan emasku
didalamnya, telah dia bawa kabur.”
Rumusan
Masalah
1. Apa yang menyebabkan Ani dan Ina
menjadi perempuan malam?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar