Selasa, 08 Oktober 2013

Ria Istikomah (2222112050)



Nama  : Ria Istikomah (2222112050)
Kelas   : VD

ANATOMI DRAMA Rt Nol Rw Nol
Naskah drama ini menceritakan tentang  nasib dari beberapa orang gelandangan dan dua wanita penghibur yang hidup di dalam satu lokasi, mereka semua tinggal di kolong jembatan. Dari kolong jembatan inilah cerita dimulai dan berakhir. Cerita ini dimulai  dengan perbincangan antara Kakek, Si pincang, Ina, dan Ani di bawah kolong jembatan yang ramai oleh hiruk pikuk lalu lintas. Kakek adalah seorang mantan kelasi kapal, Si pincang adalah seseorang yang memiliki kekurangan kondisi fisik, yang selalu gagal mendapatkan pekerjaan yang memuaskan. Sedangkan Ani dan Ina adalah kakak-beradik yang bekerja sebagai wanita penghibur. Mereka meratapi kejamnya kota besar. Setiap hari Ani dan Ina pergi mencari pelanggan dengan ditemani oleh seorang tukang becak yang bertugas mencarikan dan mengantarkan mereka kepada pelanggannya. Ani dan Ina selalu berharap dari pekerjaannya ini mereka akan hidup lebih baik.
Setelah Ani dan Ina pergi bekerja, datanglah laki-laki bernama Bopeng. Bopeng juga merupakan penghuni kolong jembatan itu, namun hari itu Bopeng mengisyaratkan bahwa ini adalah hari terakhirnya tinggal di kolong jembatan, karena ia telah diterima bekerja sebagai kelasi kapal. Hari itu Bopeng datang ke kolong jembatan bersama seorang wanita bernama Ati. Ati adalah seorang wanita yang ditinggal oleh suaminya ketika di pelabuhan. Ati tersesat dan tak tahu arah jalan pulang, ia juga kehabisan uang untuk pulang ke kampungnya hingga akhirnya bertemu dengan Bopeng.
Karena merasa iri hati, pincang menyudutkan Bopeng, hingga membuat Bopeng tersinggung. Akhirnya terjadilah pertengkaran argumen diantara mereka, kemudian kakek memisahkan mereka berdua. Ati yang gundah hatinya ingin ikut Bopeng berlayar, namun Bopeng menolaknya dan menyuruh Ati untuk pulang ke kampung halamannya. Beberapa saat kemudian Ina datang dan membawa kabar bahwa Ani akan dinikahi oleh salah satu pelanggannya, Ina sendiri juga membawa kabar bahwa ia akan menikah dengan Si tukang becak. Hal ini mengisyaratkan bahwa Ani dan Ina akan segera meninggalkan kolong jembatan itu untuk hidup yang lebih baik. Singkat cerita, Si pincang akhirnya juga sepakat untuk mengantarkan Ati ke kampung halamannya, dan berjanji akan kembali bekerja, kemudian menikahi Ati. Ati sebenarnya juga mengajak Kakek untuk pulang ke kampung, namun kakek menolaknya dan memilih tetap tinggal di kolong jembatan itu, yang sering mereka sebut dengan Rt nol Rw nol.
Naskah drama yang menurut catatan dibuat sekitar tahun 1966 ini memiliki tema tentang perjuangan hidup seseorang untuk mendapatkan kehidupan yang layak dan lebih baik. Penggunaan tokoh gelandangan dan PSK menunjukkan masyarakat kaum bawah, yang miskin dan menderita. Jika kembali diputar ke masa lalu saat naskah ini di tulis, yakni pada tahun 1966, angka inflasi di Indonesia sangat tinggi, disebabkan oleh menumpuknya defisit APBN dari tahun 1950an hingga pertengahan 1960an, akibatnya Indonesia mengalami krisis ekonomi yang meresahkan. Krisis ekonomi inilah yang yang menyebabkan masyarakat menderita. Naskah drama ini seolah-olah merupakan sindiran terhadap keadaan sosial-ekonomi saat itu yang sedang berada di bawah.
Selain itu naskah drama ini juga memberikan banyak kritik sosial yang terjadi di Indonesia saat itu. Bahkan saat ini, kritik sosial yang ada di dalam naskah drama ini sebenarnya masih cukup relevan. Secara sederhana kritik sosial merupakan tanggapan atau kecaman terhadap kondisi yang ada di dalam suatu masyarakat. Jika ditinjau dari judulnya, sebenarnya naskah drama ini sudah menunjukkan adanya kritik sosial. Judul ‘Rt Nol Rw Nol’ artinya tidak memiliki alamat. Dari judulnya terlihat bahwa pengarang sebenarnya ingin menanggapi tentang keberadaan orang-orang pinggiran yang dalam naskah drama ini diwujudkan pada sosok  gelandangan dan PSK yang menghuni Rt Nol Rw Nol. Orang-orang ini sebenarnya ingin diakui dan diperhatikan oleh negara, mereka ingin memiliki alamat tetap dan Kartu Tanda Penduduk tetap. Akan terasa sangat menyakitkan jika keberadaan mereka tidak diperhatikan. Padahal mereka juga bagian dari negara ini.

UNSUR INTRINSIK
1.    Tema :
Tema adalah gagasan, ide, atau pikiran utama yang mendasari suatu karya sastra itu (Sudjiman, 1991: 50). Tema dari naskah drama Rt 0/ Rw 0 ini adalah realita sosial perjuangan hidup. Terlihat dari dialog-dialog yang yang idealis dan lebih menonjolkan sikap pantang     menyerah.

2.    Amanat :
Amanat dalam naskah RT NOL RW NOL ini yaitu sebagai manusia harus selalu berusaha dan berjuang dalam menjalani hidup tanpa ada keputusasaan dalam hidup.

3.    Alur :
Alur adalah rangkaian peristiwa yang satu sama lain dihubungkan dengan hukum sebab-akibat (Sumardjo, 1994: 139). Alur merupakan salah satu aspek penting dalam drama karena alur merupakan pembentuk kerangka cerita. Aristoteles bahkan menyatakan bahwa alur adalah roh drama (Sumardjo, 1994: 141). Adapun alur yang terdapat pada drama RT NOL RW NOL adalah alur maju atau alur lurus. Dimana penulis naskah drama menceritakan dari awal mula adegan sampai pada akhir adegan..

4.    Latar :
Latar adalah segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya peristiwa dalam suatu karya yang membangun cerita (Sudiman dalam Teeuw, 2003: 44). Latar dibedakan atas dua macam yaitu latar sosial dan latar fisik atau material (Hudson dalam Teeuw, 2003: 44). Latar sosial mencakup penggambaran keadaan masyarakat, kelompok-kelompok sosial dan sikapnya, adat kebiasaan, cara hidup, dan bahasa. Latar fisik adalah tempat di dalam wujud fisiknya, yaitu ruang, bangunan, lokasi dan sebagainya.  Latar yang terdapat pada drama ini terdapat latar tempat dan latar waktu. Latar tempat yang terdapat pada drama ini berlatar dibawah jembatan besar. Penulis naskah ini dengan jelas menuliskan latar yang terdapat dalam drama ini.

5.    Sudut pandang: orang pertama dan orang ketiga.

6.    Suasana    :
·      Tegang
Kutipan: “Kalau maksudmu, bahwa gara-gara ucapanku yang barusan kita terpaksa berkelahi. Ayo berkelahi!”
·      Bahagia
Kutipan: “Aku berharap, suatu hari dapat melihat kau lewat, naik becak suamimu, kau dan anakmu sehat dan montok-montok. Selamat jalan, Nak.”

7.    Tokoh dan Penokohan :
Penokohan adalah penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh (Sudjiman dalam Sudjiman, 1991: 23). Metode penyajian penokohan dapat dibagi menjadi metode langsung, tak langsung, dan kontekstual. Metode langsung dipakai pengarang yang langsung mengisahkan sifat-sifat tokoh hasrat, pikiran, dan perasaannya. Jika pembaca harus menyimpulkan watak tokoh dari pikiran, cakapan, dan lakuan, metode yang dipakai adalah metode tak langsung. Metode kontekstual adalah metode yang dapat menyimpulkan watak tokoh dari bahasa pengarang. Malam Jahanam menggunakan metode langsung dan tak langsung.
Tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berlakuan di dalam berbagai peristiwa cerita (Sudjiman, 1991: 16). Tokoh-tokoh dalam drama ini adalah Kakek, Pincang,  Ani, Bopeng, Ina, dan ati. Berdasarkan fungsinya, tokoh dapat dibedakan menjadi tokoh sentral dan tokoh bawahan. Tokoh sentral dapat dibagi menjadi tokoh protagonis, antagonis, dan wirawan atau wirawati.
Tokoh protagonis adalah tokoh yang memegang peran pimpinan atau tokoh utama dan menjadi pusat sorotan dalam kisahan. Tokoh antagonis adalah tokoh yang merupakan penentang utama dari protagonis. Tokoh wirawan atau wirawati juga merupakan tokoh penting yang cenderung dapat menggeser kedudukan tokoh utama. Tokoh bawahan adalah tokoh yang tidak sentral kedudukannya di dalam cerita tetapi kehadirannya sangat diperlukan untuk menunjang atau mendukung tokoh utama.
Tokoh antagonis dan protagonis adalah sebagai berikut:
a.    Kakek :
-       Bijaksana
Kutipannya : “Jangan bingungkan dirimu lebih lama lagi dalam kerangka-kerangka kata-kata mu yang meawang itu.”
-       Penyabar
Kutipannya: “kelenggangan disebabkan perpisahan, terkadang lebih parah dari kematian sendiri. Mengapa pula kita, manusia-manusia gelandangan, berbuat seolah tak mengerti itu?”
b.    Pincang :
-       Pemarah
Kutipannya: “Apa aku harus menutup mulutku terus? Mengapa setiap ucapanku kau anggap sebagai cari fasal saja?”
c.    Ani :
-       Keras kepala
Kutipannya: “Semuanya itu akan kami nikmati mala mini. Cara apapun akan kami jalani, asal kami dapat menemukannya malam ini. Ya, mala mini juga!”
-       Pantang menyerah
Kutipannya: “Terus, pantang mundur! Kita bukan dari garam, kan?”
d.   Bopeng :
-       Rendah Hati
Kutipannya: “Sabar. Rokok sungguhpun ada. Malah sebungkus utuh.”
e.    Ina :
-       Penyabar
Kutipannya: “Sudahlah Kak. Hujan atau tak hujan, kita tetap keluar.”
f.     Ati :
-       Pemalu
Kutipannya: “Malu Kek. Kami berangkat dari sana dengan pesta dan doa. Segala pakaian dan perhiasan emasku didalamnya, telah dia bawa kabur.”

Rumusan Masalah
1.      Apa yang menyebabkan Ani dan Ina menjadi perempuan malam?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar