Selasa, 08 Oktober 2013

Ami Misfah Faris Kamaya (2222102495)



Nama      : Ami Misfah Faris Kamaya
Nim         : 2222102495
Semester : V.D
MK          : Kajian Drama



Analisis Drama “Domba-domba Revolusi” karya B. Soelarto


            Si pengamen mengalami peristiwa yang cukup dramatis ketika menginap pada sebuah losmen di kota yang sedang dikepung oleh para tentara Belanda selama beberapa hari. Ia mencintai seorang wanita pemilik losmen tersebut dan sempat melayang nyawanya. Hal ini mebuatnya ikut angkat senjata melawan pasukan tentara Belanda, secara tidak langsung menimbulkan semangat patriotiknya. Namun ia tidak ingin menyebut dirinya seorang partisan maupun orang berjasa. Pengamen ini begitu rendah hati sehingga dalam Domba-domba revolusi disebut sebagai seorang penyair. Inilah eksistensi seniman sebagai seorang yang rendah hati.

1. Tokoh-tokoh “Domba-domba Revolusi”

Perempuan      : Seorang pemilik losmen yang menggambarkan tokoh yang baik.

Penyair            : Seorang Tokoh yang paling dianggap benar, berani, dan suci.

Pedagang        : Seorang yang licik, oportunistik, pemeras, dan mempunyai niat                              buruk mengambil keuntungan dari revolusi kemerdekaan.


2. Sinopsis “ Domba-domba Revolusi “

            Drama Domba-domba revolusi ini mengetengahkan tiga orang dalam satu babak, para pelakunya yaitu perempuan, penyair, dan pedagang yang terdampar pada sebuah losmen di kota yang sedang dikepung tentara Belanda dan hampir direbut pada tahun 1948. Pedagang di sini digambarkan sebagai seorang yang licik, oportunistik, pemeras, dan mempunyai niat buruk mengambil keuntungan dari revolusi kemerdekaan. Mereka hanya memikirkan keselamatan dirinya sendiri. Namun dirinya mati terbunuh. Sedangkan perempuan pemilik losmen tersebut adalah tokoh baik-baik namun terpaksa membunuh juga demi keselamatannya. Hanya penyairlah yang paling dianggap benar, berani, suci seolah menjadi perlambang cita-cita revolusi tersebut.
            Bermula ketika beberapa orang terjebak dalam sebuah losmen di sudut kota yang sedang dilanda perang. Situasi yang serba sulit, ruang gerak yang terbatas. Tidak ada yang berani keluar dari losmen guna mencari informasi tentang perkembangan situasi di kota selain si penyair. Mereka hanya memikirkan bagaimana mendapat keuntungan dari situasi yang sedang terjadi. Konflik di antara mereka semakin rumit setelah mulai tumbuh benih-benih asmara antara si penyair dengan si perempuan pemilik losmen. Di saat si penyair meninggalkan losmen, si pedagang menggunakan segala kelicikan dan memanfaatkan situasi yang terjadi itu. Pedagang menghasut seluruh penghuni losmen dan mempropaganda. Timbullah permukaan konflik, amarah dan rasa curiga kepada para penghuni losmen. Polemik hadir dan memperburuk suasana, membunuh atau terbunuh, menjebak satu sama lain, menjadi jargon yang dihembuskan suara-suara dusta kelicikan dari si pedagang.
            Dalam kondisi seperti itu tetap saja tak dapat menolak kehadiran benih-benih cinta anata si penyair dengan perempuan pemilik losmen. Bukan hanya pujaan hatinya yang mati diberondong senapan serdadu musuh tapi tak disangka ternyata perempuan yang dicintainya tadi tak lain adalah ibu dari si penyair. "Tuhan, ampunilah arwah mereka yang kubunuh dan akan membunuh aku, ampunilah arwah domba-domba revolusi yang sesat."

3. Unsur intrinsik dalam naskah “Domba-domba Revolusi”

            Drama ini terkesan melodramatik. Dari segi premis, Soelarto mantap dengan tema “Terpaan keadaan gawat, akan menampilkan keaslian mental dan kualitas manusia. Yang emas tetap emas. Yang loyang, tetap loyang”. Penulisan lakon dalam Domba-domba revolusi dititikberatkan dalam segi dialog, jadi bahasanya teramat verbal. Unsur suspence dan klimaks kurang terasa hidup akibat verbalistik dalam pelukisan cerita. Pelakunya di dalam lakon tersebut hanya ditampilkan secara en profil. Jadi tidak tersedia pendalaman satu-persatu watak pada setiap pelakunya. Memerlukan tempo kurang lebih satu bulan untuk merampungkan lakon pertama. Itupun setelah bagian akhirnya dirubah beberapa kali, namun secara keseluruhan bobotnya masih terasa ngambang, dan inilah hasil maksimal yang bisa dicapai oleh sebuah lakon bergaya sketsa.

 1)  Alur/Plot

  Alur disebut juga plot. Alur adalah jalinan atau rangkaian peristiwa berdasarkan hubungan waktu dan hubungan sebab- akibat. Sebuah alur cerita juga harus menggambarkan jalannya cerita dari awal (pengenalan) sampai akhir (penyelesaian). Alur cerita terjalin dari rangkaian ketiga unsur, yaitu dialog, petunjuk laku, dan latar/setting. Sebuah alur dapat dikelompokkan dalam beberapa tahapan, sebagai berikut.  



  a.  Pengenalan

            Pengenalan merupakan bagian permulaan pementasan drama, pengenalan para tokoh (terutama tokoh utama), latar pentas, dan pengungkapan masalah yang akan dihadapi penonton.

  Perhatikan penggalan teks drama berikut ini! .
           
Di suatu pagi, sekira jam delapan tiga puluh menit,
si Penyair sudah tiba kembali di Losmen setelah
keluar untuk mencari berita tentang keadaan di luar
sejak pagi-pagi.
  Dia mengambil tempat duduk seenakknya
di ruang tamu Losmen yang terletak di bagian depan.
Tatkala dia sedang enak mencari nada-nada
dan lirik syaire lagunya,
Muncullah si Pemilik Losmen dari pintu luar
dalam dia yang dibalas senyum oleh Penyair.
Dengan senyum sejuk serta anggukan kepala
sambil menerima hidangannya.

b.  Pertikaian

            Setelah tahap pengenalan, drama bergerak menuju pertikaian yaitu pelukisan pelaku yang mulai terlibat ke dalam masalah pokok.
 
Perhatikan penggalan teks drama berikut ini!

PEDAGANG      :Astaga. . . . Aku menemukan sesuatu. . . . (dengan nafas terengah-engah)

PEREMPUAN    :Ada apa ? Pertanda bahayakah. . .??

PENYAIR          :Ada yang mengikutimu ? (Sambil memeriksa keadaan luar)

            Pada kutipan di atas terlihat bahwa drama sudah mulai masuk ke dalam tahap pertikaian atau konflik. Penggambaran masalah sudah semakin jelas bahwa ada bahaya yang menghampiri mereka.


c. Puncak

     Pada tahap ini pelaku mulai terlibat dalam masalah-masalah pokok dan keadaan dibina untuk menjadi lebih rumit lagi. Keadaan yang mulai rumit ini, berkembang hingga  menjadi krisis. Pada tahap ini penonton dibuat berdebar, penasaran  ingin mengetahui  penyelesaiannya.

Perhatikan  petikan drama berikut ini!

PENYAIR          :       Jarak tentara dekat sekali dengan kita, kita ada dalam           bahaya,            sekalipun                             mereka membela kita ! tapi kita ingin terbebas darinya bukan .. . . ? Tapi. . Tak   mungkin rasanya.

PEREMPUAN    :Jadi maksudmu ?

PEDAGANG      :Kita. . . .

PEREMPUAN    :Kita ikut didalamnya. Dalam mempertahankan kota Tengah?

 PEDAGANG     :Begitu maksudmu . . . ??

 PENYAIR         :Ya. . . Tepat sekali, tak ada jalan lain, setidaknya kita dapat        dipercaya.

  Pada kutipan di atas dapat dilihat bahwa puncak masalah itu  adalah terjebaknya mereka hingga harus mencari cara atau jalan keluar untuk dapat selamat.


d.  Penyelesaian

            Pada tahap ini dilukiskan bagaimana sebuah drama berakhir dengan penyelesaian yang menggembirakan atau menyedihkan.  Bahkan dapat pula diakhiri dengan hal yang bersifat samar sehingga mendorong  penonton untuk mengira-ngira dan memikirkan sendiri akhir sebuah cerita.

  Perhatikan penggalan teks  drama berikut ini!

            Suara Bom, tembakan, derap langkah Tentara membuka pintu Losmen terbuka dengan kerasnya. . . .

            Pada tahap penyelesaian drama ini dapat dilihat bahwa drama ini berakhir dengan tanda tanya karena permasalahan itu di akhiri dengan suara bom dan tembakan tanpa diketahui bagaimana nyawa mereka.


2)  Perwatakan atau karakter tokoh

            Tokoh adalah orang-orang yang berperan dalam drama. Dalam cerita, umumnya terdapat tokoh baik (protagonis) dan tokoh jahat (antagonis). Tokoh-tokoh drama disertai penjelasan mengenai nama, umur, jenis kelamin, ciri-ciri fisik, jabatan, dan keadaan kejiwaannya. Watak tokoh akan jelas terbaca dalam dialog dan catatan samping. Watak tokoh dapat dibaca melalui gerak-gerik, suara, jenis kalimat, dan ungkapan yang digunakan.

Perhatikan penggalan teks drama berikut ini!

PENYAIR          :Dalam desakan dan kemiskinan kali ini akal semakin cerik saja, Kau    berniat untuk memperjual belikannya ?? Tak berotak dan meras berotot kau      rupanya. . .?
PEDAGANG      :Aku hanya berusaha bertahan hidup dengan caraku. Dan, hanya ini yang           aku bisa.

PEREMPUAN    :Masuk akal begitu ?? Siapa yang akan membeli ?? dan pastilah para       tentara akan curiga dengan barang-barang jualanku kelak !! Bodoh kau. . .


3) Dialog

     Ciri khas suatu drama adalah naskah tersebut berbentuk percakapan atau dialog. Penulis naskah drama harus memerhatikan pembicaraan yang akan diucapkan. Ragam bahasa dalam dialog antartokoh merupakan ragam lisan yang komunikatif.

Perhatikan penggalan teks drama berikut ini!  

PENYAIR          :Kedengarannya memang aneh. Akan tetapi, begitulah…

PEREMPUAN    :Lalu apa yang Anda kagumi ?

PENYAIR          :Pernyataan saudari tadi.

PEREMPUAN    :Aku tidak mengerti. Coba jelaskan…

            Disebut dialog karena percakapan itu minimal dilakukan oleh dua orang. Kutipan teks drama di atas dapat disebut sebagai dialog karena diucapkan secara bergantian oleh tokoh yang bernama penyair dan perempuan. Selain dialog, dalam drama juga dikenal istilah monolog (adegan sandiwara dengan pelaku tunggal yang membawakan percakapan seorang diri; pembicaraan yang dilakukan dengan diri sendiri), prolog (pembukaan atau pengantar naskah yang berisi keterangan atau pendapat pengarang tentang cerita yang akan disajikan), dan epilog (bagian penutup pada karya sastra yang fungsinya menyampaikan intisari atau kesimpulan pengarang mengenai cerita yang disajikan).


4)  Petunjuk laku

            Petunjuk laku atau catatan pinggir berisi penjelasan kepada pembaca atau para pendukung pementasan mengenai keadaan, suasana, peristiwa, atau perbuatan, tokoh, dan unsur-unsur cerita lainnya. Petunjuk laku sangat diperlukan dalam naskah drama. Petunjuk laku berisi petunjuk teknis tentang tokoh, waktu, suasana, pentas, suara, keluar masuknya aktor atau aktris, keras lemahnya dialog, dan sebagainya. Petunjuk laku ini biasanya ditulis dengan menggunakan huruf yang dicetak miring atau huruf besar semua. Di dalam dialog, petunjuk laku ditulis dengan cara diberi tanda kurung di depan dan di belakang kata atau kalimat yang menjadi petunjuk laku).

Perhatikan petikan drama berikut!

            Penyair menaruh buku dan harmonikanya lalu minum wedang beberapa teguk. Kemudian, pandangannya terarah pada si Pemilik Losmen, dengan sorot mata penuh arti, di tandai dengan senyumannya.

PENYAIR          :Hemm. . . Bagaimana cara aku untuk menjelaskan. (bingung)

PEREMPUAN    :Apa tidak dapat Bung menjelaskan dengan cara-cara yang sederhana saja ??

PENYAIR          :Hemm.. Begini. Maksudku pernyataanmu tadi mengandung unsur-        unsur rasa kasih sayang begitu murni.

PEREMPUAN    :       Oo Begitu ??


5)  Latar atau setting

      Latar atau tempat kejadian sering disebut latar cerita. Pada umumnya, latar menyangkut tiga unsur, yaitu tempat, ruang, dan waktu.

Perhatikan penggalan teks drama berikut ini!

PENYAIR          :Haa. . . Pintar juga mengelak bicara ya. . . jika keadaan di luar sana        menarik perhatianmu, baiklah. Keadaan di luar tambah gawat. Kota ini       praktis dikosongkan sama sekali. Beberapa regu Tentara dan Laska yang          kemarin masih berjaga di beberapa tikungan jalan raya, kini sudah lenyap.

PEREMPUAN    :Sedang menyusun strategi rupanya mereka. . .?

PENYAIR          :Semoga saja, Aku tak yakin akan ketahanan kota tengah ini. Seperti     yang kau tahu saja, sekarang hanya kau yang mau dan mampu untuk tetap         tinggal di kampong halamanmu ini. Kota ini nyaris mati . . . . .

            Dari penggalan teks  drama di atas  dapat diketahui bahwa latar cerita tersebut adalah di ssbuah kota yang bernama Kota Tengah. Hal ini ditunjukkan dengan  kata-kata  tercetak tebal yang  menunjukkan bahwa dialog tersebut dilakukan di sebuah kota.





6)  Tema

            Tema merupakan gagasan pokok yang terkandung di dalam drama. Tema dikembangkan melalui alur dramatik melalui dialog tokoh-tokohnya. Tema drama misalnya kehidupan, persahabatan, kesedihan, dan kemiskinan.

Perhatikan penggalan teks drama berikut ini !

PENYAIR          :Hemm. . . Bagaimana cara aku untuk menjelaskan.

PEREMPUAN    :Apa tidak dapat Bung menjelaskan dengan cara-cara yang sederhana saja ??

PENYAIR          :Hemm.. Begini. Maksudku pernyataanmu tadi mengandung unsur-        unsur rasa kasih sayang begitu murni.

7)  Amanat

            Dalam karyanya, pengarang pasti menyampaikan sebuah amanat.  Amanat merupakan pesan atau nilai-nilai moral  yang bermanfaat  yang terdapat   dalam drama. Amanat dalam drama bisa diungkapkan secara langsung (tersurat), bisa juga tidak langsung atau memerlukan pemahaman lebih lanjut (tersirat). Apabila penonton menyaksikan drama dengan teliti, dia dapat menangkap pesan atau nilai-nilai moral tersebut. Amanat akan lebih mudah ditangkap jika drama tersebut dipentaskan.

Perhatikan penggalan  teks drama berikut ini !

PENYAIR          :Ya.. Begitu. Dan baru pertama kali aku merasa bahwa ada seseorang yang         menaruh perhatian terhadap keselamatan diriku. Dan yang memperhatikannya adalah Wanita.

PEREMPUAN    :Ah Bung ini bicara yang bukan-bukan saja.

PENYAIR          :Tapi bagiku tidak. Pernyataan barusan tadi adalah kata hati yang            tulus.. Bukan Omong iseng. Benar Demikian….?

            Tema kutipan teks drama di atas adalah tentang percintaan antara penyair dan perempuan. Tema dalam sebuah cerita, baik novel, maupun drama, tidak semua seperti contoh di atas yang langsung diungkapkan oleh pengarang. Namun, lebih banyak tema sebuah cerita dapat ditentukan setelah membaca keseluruhan cerita.


4.  Contoh Naskah Drama “Domba-domba revolusi”

          Di suatu pagi, sekira jam delapan tiga puluh menit, si Penyair sudah tiba kembali di Losmen setelah keluar untuk mencari berita tentang keadaan di luar sejak pagi-pagi.
          Dia mengambil tempat duduk seenakknya di ruang tamu Losmen yang terletak di bagian depan. Tatkala dia sedang enak mencari nada-nada dan lirik syaire lagunya, Muncullah si Pemilik Losmen dari pintu luar dalam dia yang dibalas senyum oleh Penyair. Dengan senyum sejuk serta anggukan kepala sambil menerima hidangannya.

PEREMPUAN    : Sudah kuduga, Bung tentu pulang dengan selamat seperti          kemarin pagi. Kalau Bung keluar, aku selalu cemas-cemas           harap. siapa tahu…Bung ditimpa malang. Maklumlah dalam            keadaan begini ada peluru yang sering jatuh salah alamat.

PENYAIR          :Itulah yang menjadi aku kagum.

PEREMPUAN    : Bahwa Bung selalu selamat selama ini ?

PENYAIR          :Bukan, bukan itu. Sebab terus terang saja, aku sendiri     sebenarnya tidak begitu peduli dengan keselamatanku.

PEREMPUAN    : Aneh…

PENYAIR          :Kedengarannya memang aneh. Akan tetapi, begitulah…

PEREMPUAN    :Lalu apa yang Anda kagumi ?

PENYAIR          :Pernyataan saudari tadi.

PEREMPUAN    :Aku tidak mengerti. Coba jelaskan…

PENYAIR          :Maksudku pernyataan saudari itu. . . .

PEREMPUAN    :Ya.. Mengapa ??

PENYAIR          :Hikmahnya terasa begitu puitis.

PEREMPUAN    : Apa itu Pu-i-tis ???


Tidak ada komentar:

Posting Komentar