Nama : Ami Misfah Faris Kamaya
Nim : 2222102495
Semester : V.D
MK : Kajian Drama
Analisis Drama “Domba-domba
Revolusi” karya B. Soelarto
Si pengamen mengalami peristiwa yang
cukup dramatis ketika menginap pada sebuah losmen di kota yang sedang dikepung
oleh para tentara Belanda selama beberapa hari. Ia mencintai seorang wanita
pemilik losmen tersebut dan sempat melayang nyawanya. Hal ini mebuatnya ikut
angkat senjata melawan pasukan tentara Belanda, secara tidak langsung menimbulkan
semangat patriotiknya. Namun ia tidak ingin menyebut dirinya seorang partisan
maupun orang berjasa. Pengamen ini begitu rendah hati sehingga dalam
Domba-domba revolusi disebut sebagai seorang penyair. Inilah eksistensi seniman
sebagai seorang yang rendah hati.
1. Tokoh-tokoh “Domba-domba Revolusi”
Perempuan : Seorang pemilik losmen yang
menggambarkan tokoh yang baik.
Penyair : Seorang Tokoh yang paling dianggap
benar, berani, dan suci.
Pedagang : Seorang yang licik, oportunistik,
pemeras, dan mempunyai niat buruk
mengambil keuntungan dari revolusi kemerdekaan.
2. Sinopsis “ Domba-domba
Revolusi “
Drama Domba-domba revolusi ini mengetengahkan tiga orang dalam satu babak, para pelakunya yaitu perempuan, penyair, dan pedagang yang terdampar pada sebuah losmen di kota yang sedang dikepung tentara Belanda dan hampir direbut pada tahun 1948. Pedagang di sini digambarkan sebagai seorang yang licik, oportunistik, pemeras, dan mempunyai niat buruk mengambil keuntungan dari revolusi kemerdekaan. Mereka hanya memikirkan keselamatan dirinya sendiri. Namun dirinya mati terbunuh. Sedangkan perempuan pemilik losmen tersebut adalah tokoh baik-baik namun terpaksa membunuh juga demi keselamatannya. Hanya penyairlah yang paling dianggap benar, berani, suci seolah menjadi perlambang cita-cita revolusi tersebut.
Bermula ketika beberapa orang
terjebak dalam sebuah losmen di sudut kota yang sedang dilanda perang. Situasi
yang serba sulit, ruang gerak yang terbatas. Tidak ada yang berani keluar dari
losmen guna mencari informasi tentang perkembangan situasi di kota selain si
penyair. Mereka hanya memikirkan bagaimana mendapat keuntungan dari situasi
yang sedang terjadi. Konflik di antara mereka semakin rumit setelah mulai
tumbuh benih-benih asmara antara si penyair dengan si perempuan pemilik losmen.
Di saat si penyair meninggalkan losmen, si pedagang menggunakan segala
kelicikan dan memanfaatkan situasi yang terjadi itu. Pedagang menghasut seluruh
penghuni losmen dan mempropaganda. Timbullah permukaan konflik, amarah dan rasa
curiga kepada para penghuni losmen. Polemik hadir dan memperburuk suasana,
membunuh atau terbunuh, menjebak satu sama lain, menjadi jargon yang
dihembuskan suara-suara dusta kelicikan dari si pedagang.
Dalam kondisi seperti itu tetap saja
tak dapat menolak kehadiran benih-benih cinta anata si penyair dengan perempuan
pemilik losmen. Bukan hanya pujaan hatinya yang mati diberondong senapan
serdadu musuh tapi tak disangka ternyata perempuan yang dicintainya tadi tak
lain adalah ibu dari si penyair. "Tuhan, ampunilah arwah mereka yang
kubunuh dan akan membunuh aku, ampunilah arwah domba-domba revolusi yang
sesat."
3. Unsur intrinsik dalam
naskah “Domba-domba Revolusi”
Drama ini terkesan melodramatik. Dari segi premis, Soelarto mantap dengan tema “Terpaan keadaan gawat, akan menampilkan keaslian mental dan kualitas manusia. Yang emas tetap emas. Yang loyang, tetap loyang”. Penulisan lakon dalam Domba-domba revolusi dititikberatkan dalam segi dialog, jadi bahasanya teramat verbal. Unsur suspence dan klimaks kurang terasa hidup akibat verbalistik dalam pelukisan cerita. Pelakunya di dalam lakon tersebut hanya ditampilkan secara en profil. Jadi tidak tersedia pendalaman satu-persatu watak pada setiap pelakunya. Memerlukan tempo kurang lebih satu bulan untuk merampungkan lakon pertama. Itupun setelah bagian akhirnya dirubah beberapa kali, namun secara keseluruhan bobotnya masih terasa ngambang, dan inilah hasil maksimal yang bisa dicapai oleh sebuah lakon bergaya sketsa.
1)
Alur/Plot
Alur disebut juga plot. Alur adalah jalinan
atau rangkaian peristiwa berdasarkan hubungan waktu dan hubungan sebab- akibat.
Sebuah alur cerita juga harus menggambarkan jalannya cerita dari awal
(pengenalan) sampai akhir (penyelesaian). Alur cerita terjalin dari rangkaian
ketiga unsur, yaitu dialog, petunjuk laku, dan latar/setting. Sebuah alur dapat
dikelompokkan dalam beberapa tahapan, sebagai berikut.
a. Pengenalan
Pengenalan merupakan bagian permulaan pementasan drama, pengenalan para tokoh (terutama tokoh utama), latar pentas, dan pengungkapan masalah yang akan dihadapi penonton.
Perhatikan penggalan teks drama berikut ini! .
Di suatu pagi, sekira jam delapan tiga puluh
menit,
si Penyair sudah tiba kembali di Losmen
setelah
keluar untuk mencari berita tentang keadaan
di luar
sejak pagi-pagi.
Dia mengambil tempat duduk seenakknya
di ruang tamu Losmen yang terletak di bagian
depan.
Tatkala dia sedang enak mencari nada-nada
dan lirik syaire lagunya,
Muncullah si Pemilik Losmen dari pintu luar
dalam dia yang dibalas senyum oleh Penyair.
Dengan senyum sejuk serta anggukan kepala
sambil menerima hidangannya.
b. Pertikaian
Setelah tahap pengenalan, drama bergerak menuju pertikaian yaitu pelukisan pelaku yang mulai terlibat ke dalam masalah pokok.
Perhatikan penggalan teks drama berikut ini!
PEDAGANG :Astaga.
. . . Aku menemukan sesuatu. . . . (dengan nafas terengah-engah)
PEREMPUAN :Ada apa ? Pertanda bahayakah. . .??
PENYAIR :Ada yang mengikutimu ? (Sambil memeriksa keadaan luar)
Pada
kutipan di atas terlihat bahwa drama sudah mulai masuk ke dalam tahap
pertikaian atau konflik. Penggambaran masalah sudah semakin jelas bahwa ada
bahaya yang menghampiri mereka.
c.
Puncak
Pada tahap ini pelaku mulai terlibat dalam masalah-masalah pokok dan keadaan dibina untuk menjadi lebih rumit lagi. Keadaan yang mulai rumit ini, berkembang hingga menjadi krisis. Pada tahap ini penonton dibuat berdebar, penasaran ingin mengetahui penyelesaiannya.
Perhatikan petikan drama berikut ini!
PENYAIR : Jarak tentara dekat sekali dengan kita,
kita ada dalam bahaya, sekalipun mereka membela kita ! tapi kita ingin
terbebas darinya bukan .. . . ? Tapi. . Tak mungkin
rasanya.
PEREMPUAN :Jadi maksudmu ?
PEDAGANG :Kita. . . .
PEREMPUAN :Kita
ikut didalamnya. Dalam mempertahankan kota Tengah?
PEDAGANG :Begitu maksudmu . . . ??
PENYAIR :Ya. . . Tepat sekali, tak ada jalan lain, setidaknya kita dapat dipercaya.
Pada kutipan di atas dapat dilihat bahwa
puncak masalah itu adalah terjebaknya mereka hingga harus mencari cara
atau jalan keluar untuk dapat selamat.
d. Penyelesaian
Pada
tahap ini dilukiskan bagaimana sebuah drama berakhir dengan penyelesaian yang
menggembirakan atau menyedihkan. Bahkan dapat pula diakhiri dengan hal
yang bersifat samar sehingga mendorong penonton untuk mengira-ngira dan
memikirkan sendiri akhir sebuah cerita.
Perhatikan penggalan teks drama berikut ini!
Suara
Bom, tembakan, derap langkah Tentara membuka pintu Losmen terbuka dengan
kerasnya. . . .
Pada
tahap penyelesaian drama ini dapat dilihat bahwa drama ini berakhir dengan
tanda tanya karena permasalahan itu di akhiri dengan suara bom dan tembakan
tanpa diketahui bagaimana nyawa mereka.
2) Perwatakan atau karakter tokoh
Tokoh
adalah orang-orang yang berperan dalam drama. Dalam cerita, umumnya terdapat
tokoh baik (protagonis) dan tokoh jahat (antagonis). Tokoh-tokoh drama disertai
penjelasan mengenai nama, umur, jenis kelamin, ciri-ciri fisik, jabatan, dan
keadaan kejiwaannya. Watak tokoh akan jelas terbaca dalam dialog dan catatan
samping. Watak tokoh dapat dibaca melalui gerak-gerik, suara, jenis kalimat,
dan ungkapan yang digunakan.
Perhatikan penggalan teks drama berikut ini!
PENYAIR :Dalam
desakan dan kemiskinan kali ini akal
semakin cerik saja, Kau berniat
untuk memperjual belikannya ?? Tak berotak dan meras berotot kau rupanya. . .?
PEDAGANG :Aku
hanya berusaha bertahan hidup dengan caraku. Dan, hanya ini yang aku bisa.
PEREMPUAN :Masuk akal begitu ?? Siapa yang akan membeli ?? dan pastilah para tentara akan curiga dengan barang-barang jualanku kelak !! Bodoh kau. . .
3)
Dialog
Ciri khas
suatu drama adalah naskah tersebut berbentuk percakapan atau dialog. Penulis
naskah drama harus memerhatikan pembicaraan yang akan diucapkan. Ragam bahasa
dalam dialog antartokoh merupakan ragam lisan yang komunikatif.
Perhatikan penggalan teks drama berikut ini!
PENYAIR :Kedengarannya
memang aneh. Akan tetapi, begitulah…
PEREMPUAN :Lalu apa yang Anda kagumi ?
PENYAIR :Pernyataan saudari tadi.
PEREMPUAN :Aku tidak mengerti. Coba jelaskan…
Disebut
dialog karena percakapan itu minimal dilakukan oleh dua orang. Kutipan teks
drama di atas dapat disebut sebagai dialog karena diucapkan secara bergantian
oleh tokoh yang bernama penyair dan perempuan. Selain dialog, dalam drama juga
dikenal istilah monolog (adegan sandiwara dengan pelaku tunggal yang membawakan
percakapan seorang diri; pembicaraan yang dilakukan dengan diri sendiri),
prolog (pembukaan atau pengantar naskah yang berisi keterangan atau pendapat
pengarang tentang cerita yang akan disajikan), dan epilog (bagian penutup pada
karya sastra yang fungsinya menyampaikan intisari atau kesimpulan pengarang
mengenai cerita yang disajikan).
4) Petunjuk laku
Petunjuk
laku atau catatan pinggir berisi penjelasan kepada pembaca atau para pendukung
pementasan mengenai keadaan, suasana, peristiwa, atau perbuatan, tokoh, dan
unsur-unsur cerita lainnya. Petunjuk laku sangat diperlukan dalam naskah drama.
Petunjuk laku berisi petunjuk teknis tentang tokoh, waktu, suasana, pentas,
suara, keluar masuknya aktor atau aktris, keras lemahnya dialog, dan
sebagainya. Petunjuk laku ini biasanya ditulis dengan menggunakan huruf yang
dicetak miring atau huruf besar semua. Di dalam dialog, petunjuk laku ditulis
dengan cara diberi tanda kurung di depan dan di belakang kata atau kalimat yang
menjadi petunjuk laku).
Perhatikan petikan drama berikut!
Penyair
menaruh buku dan harmonikanya lalu minum wedang beberapa teguk. Kemudian, pandangannya
terarah pada si Pemilik Losmen, dengan sorot mata penuh arti, di tandai dengan
senyumannya.
PENYAIR :Hemm. . . Bagaimana cara aku untuk menjelaskan. (bingung)
PEREMPUAN :Apa tidak dapat Bung menjelaskan dengan cara-cara yang sederhana saja ??
PENYAIR :Hemm.. Begini. Maksudku pernyataanmu tadi mengandung unsur- unsur rasa kasih sayang begitu murni.
PEREMPUAN : Oo Begitu ??
5)
Latar atau setting
Latar atau
tempat kejadian sering disebut latar cerita. Pada umumnya, latar menyangkut
tiga unsur, yaitu tempat, ruang, dan waktu.
Perhatikan penggalan teks drama berikut ini!
PENYAIR :Haa.
. . Pintar juga mengelak bicara ya. . . jika keadaan di luar sana menarik perhatianmu, baiklah. Keadaan di
luar tambah gawat. Kota ini praktis
dikosongkan sama sekali. Beberapa regu Tentara dan Laska yang kemarin masih berjaga di beberapa
tikungan jalan raya, kini sudah lenyap.
PEREMPUAN :Sedang
menyusun strategi rupanya mereka. . .?
PENYAIR :Semoga saja, Aku tak yakin akan ketahanan kota tengah ini. Seperti yang kau tahu saja, sekarang hanya kau yang mau dan mampu untuk tetap tinggal di kampong halamanmu ini. Kota ini nyaris mati . . . . .
Dari
penggalan teks drama di atas dapat diketahui bahwa latar cerita
tersebut adalah di ssbuah kota yang bernama Kota Tengah. Hal ini ditunjukkan
dengan kata-kata tercetak tebal yang menunjukkan bahwa
dialog tersebut dilakukan di sebuah kota.
6) Tema
Tema
merupakan gagasan pokok yang terkandung di dalam drama. Tema dikembangkan
melalui alur dramatik melalui dialog tokoh-tokohnya. Tema drama misalnya
kehidupan, persahabatan, kesedihan, dan kemiskinan.
Perhatikan penggalan teks drama berikut ini !
PENYAIR :Hemm.
. . Bagaimana cara aku untuk menjelaskan.
PEREMPUAN :Apa tidak dapat Bung menjelaskan dengan cara-cara yang sederhana saja ??
PENYAIR :Hemm..
Begini. Maksudku pernyataanmu tadi mengandung unsur- unsur rasa kasih sayang begitu murni.
7) Amanat
Dalam
karyanya, pengarang pasti menyampaikan sebuah amanat. Amanat merupakan
pesan atau nilai-nilai moral yang bermanfaat yang
terdapat dalam drama. Amanat dalam drama bisa diungkapkan secara
langsung (tersurat), bisa juga tidak langsung atau memerlukan pemahaman lebih
lanjut (tersirat). Apabila penonton menyaksikan drama dengan teliti, dia dapat
menangkap pesan atau nilai-nilai moral tersebut. Amanat akan lebih mudah
ditangkap jika drama tersebut dipentaskan.
Perhatikan penggalan teks drama berikut ini !
PENYAIR :Ya..
Begitu. Dan baru pertama kali aku merasa bahwa ada seseorang yang menaruh perhatian terhadap keselamatan
diriku. Dan yang memperhatikannya adalah
Wanita.
PEREMPUAN :Ah Bung ini bicara yang bukan-bukan saja.
PENYAIR :Tapi bagiku tidak. Pernyataan barusan tadi adalah kata hati yang tulus.. Bukan Omong iseng. Benar Demikian….?
Tema
kutipan teks drama di atas adalah tentang percintaan antara penyair dan
perempuan. Tema dalam sebuah cerita, baik novel, maupun drama, tidak semua
seperti contoh di atas yang langsung diungkapkan oleh pengarang. Namun, lebih
banyak tema sebuah cerita dapat ditentukan setelah membaca keseluruhan cerita.
4. Contoh Naskah Drama “Domba-domba revolusi”
Di suatu pagi, sekira jam delapan tiga puluh menit, si Penyair sudah tiba kembali di Losmen setelah keluar untuk mencari berita tentang keadaan di luar sejak pagi-pagi.
Dia
mengambil tempat duduk seenakknya di ruang tamu Losmen yang terletak di bagian
depan. Tatkala dia sedang enak mencari nada-nada dan lirik syaire lagunya,
Muncullah si Pemilik Losmen dari pintu luar dalam dia yang dibalas senyum oleh
Penyair. Dengan senyum sejuk serta anggukan kepala sambil menerima hidangannya.
PEREMPUAN : Sudah kuduga, Bung tentu pulang dengan selamat seperti kemarin pagi. Kalau Bung keluar, aku selalu cemas-cemas harap. siapa tahu…Bung ditimpa malang. Maklumlah dalam keadaan begini ada peluru yang sering jatuh salah alamat.
PENYAIR :Itulah yang menjadi aku kagum.
PEREMPUAN : Bahwa Bung selalu selamat selama ini ?
PENYAIR :Bukan, bukan itu. Sebab terus terang saja, aku sendiri sebenarnya tidak begitu peduli dengan keselamatanku.
PEREMPUAN : Aneh…
PENYAIR :Kedengarannya memang aneh. Akan tetapi, begitulah…
PEREMPUAN :Lalu apa yang Anda kagumi ?
PENYAIR :Pernyataan saudari tadi.
PEREMPUAN :Aku tidak mengerti. Coba jelaskan…
PENYAIR :Maksudku pernyataan saudari itu. . . .
PEREMPUAN :Ya.. Mengapa ??
PENYAIR :Hikmahnya terasa begitu puitis.
PEREMPUAN : Apa itu Pu-i-tis ???
Tidak ada komentar:
Posting Komentar