1.
Analisis
Struktur, Anatomi Serta Konstruksi Plot Dalam
Ø Tema
Tema dari naskah drama RT nol Rw nol ini adalah
realita sosial perjuangan hidup. Terlihat dari dialog-dialog yang idealis dan
lebih menonjolkan sifat pantang menyerah.
Ø Amanat
Amanat dalam naskah RT nol Rw nol ini yaitu sebagai
manusia kita harus selalu berusaha dan berjuang dalam menjalani hidup tanpa ada
keputusan dalam hidup.
Ø Alur
Adapun alur yang terdapat pada drama RT nol Rw nol
adalah alur maju atau alur lurus. Dimana penulis naskah drama menceritakan dari
awal mula adegan sampai pada akhir adegan.
Ø Latar
Yang terdapat pada drama ini yaitu latar tempat dan
latar waktu. Latar tempat yang terdapat pada drama ini berlatar dibawah
jembatan besar. Penulis dalam naskah drama ini dengan jelas menuliskan latar
yang terdapat pada dalam drama ini.
Ø Sudut pandang : orang
prtama dan orang ketiga.
Ø Suasana :
·
Tegang
Kutipan “ kalau maksudmu, bahwa gara-gara ucapanku
yang barusan kita terpaksa berkelahi. Ayo berkelahi!”
·
Bahagia
Kutipan:
“aku berharap, suatu hari dapat melihat kau lewat, naik becak suamimu, kau dan
anakmu sehat dan montok-montok. Selamat jalan, Naik.
Ø Tokoh dan Penokohan :
1. Kakek : Bijaksana
Kutipannya
: “Jangan bingungkan dirimu lebih lama lagi dalam kerangka kerangka kata-kata
mu yang meawang itu.”
Penyabar
Kutipannya
:”Kelenggangan disebabkan perpisahan, terkadang lebih parah dari kematian
sendiri. Mengapa pula kita, manusia-manusia gelandangan, berbuat seolah tak
mengerti itu?”
2.
Pincang
: Pemarah
Kutipannya :”Apa aku harus menutup mulutku terus? Mengapa
setiap ucapanku kau anggap cari fasal saja?”
3.
Ni
: Keras kepala
Kutipannya :”semuanya ini akan kami nikmati malam ini.
Cara apapun akan kami jalani, asal kami dapat menemukannya malam ini. Ya, malam
ini juga!”
Pantang menyerah
Kutipannya :” Terus, pantang mundur! Kita bukan dari
garam, kan?”
4.
Bopeng
: Rendah Hati
Kutipannya :”Sabar. Rokok sungguhpun ada. Malah
sebungkus utuh.”
5.
Ina
: Penyabar
Kutipannya :”Sudahlah Kak. Hujan atau tak hujan, kita
tetap keluar.”
6.
Ati
: Pemalu
Kutipannya :”Malu Kek. Kami berangkat dari sana dengan
pesta dan doa. Segala pakaian dan perhiasan emasku didalamnya, telah dia bawa
kabur.”
2.
SINOPSIS
Disebuah
kota besar hiruk-pikuk kendaraan yang melintas di atas jembatan yang tidak
begitu besar, hidup beberapa orang di bawahnya. Seseorang Kakek tinggal di
bawah kolong jembatan itu dia adalah mantan klasi kapal, ada pula Si pincang
dengan kondisi fisiknya yang kurang telah mencari kerja kemana-mana yang tidak
pernah mendapatkan hasil yang memuaskan, dengan ditemani Ani dan Ina kakak
beradik yang kerja sebagai PSK (Pekerja Seks Komersial)mereka menatapi kejamnya
kota besar. Yang kemudian membawa sebuah permasalahan pelik diantara mereka,
Pincang telahputus asa dengan kehidupan yang telah Ia alami, karena tidak
pernah satupun ia berhasil mendapatkan sebuah pekerjaan yang dapat menunjang
kebutuhan hidupnya.
Datinglah seorang laki-laki bernama Bopeng, Ia
adalah mantan penghuni kolong jembatan tempat tinggal kakek, Pincang, Ani dan
Ina telah bekerja sebuah kapal Klasi Kapal, tapi Ia membawa seorang wanita
bersamanya yang bernama Ati. Ati adalah sosok wanita yang mencari suaminya yang
entah kemana telah menghilang dan kemudian Ia tersesat dan kehabisan uang untuk
pulang ke kampungnya.
Karena
iri hati Pincang pun selalu memojokkan Bopeng, karena pada awal bertemu dengan
Ati, Bopeng berjanji untuk mengantarkannya pulang ke kampung tetapi karena
adanya panggilan kerja sebagai klasi kapal mengurungkan niat tersebut. Setelah
pertengkaran argument antara si Pincang dan si Bopeng, akhirnya kakek pun
menengahi pertegkaran mereka, selang beberapa waktu Ani dan Ina pun datang
setelah bekerja dengan membawa kabar bahwa mereka akan dinikahi oleh Pria yang
menjadi langganan mereka. Akhirnya mereka meninggalkan kolong jembatan yang
mejadi tempat mereka tinggal. di susul oleh si bopeng dan si pincang yang akan
berjuang mengantarkan Ati kembali ke kampung halamannya dan berjanji mencari
pekerjaan kembali dan menikahi Ati. Akhirnya cerita tinggalah Kakek sendiri di
bawah jembatan itu yang mereka semua memberi nama tempat tinggal mereka RT nol
RW nol .
3.
Rumusan
Masalah
1)
Apa makna sebenarnya dari judul drama RT
nol RW nol yang diciptakan oleh pengarang?
2)
Mengapa pengarang mengambil judul
seperti itu?
3)
Mengapa pengarang menggunakan sentuhan
falsafat tentang kehidupan sosial yang menjadi realitas dalam negri ini dalam
drama RT nol RW nol?
4)
Kritik sosial seperti apa yang ingin
dilontarkan oleh pengarang lewat karyanya ini terhadap pemerintah di tahun itu?
5)
Bagaimana situasi dan suasana sosial
kaum gelandangan dan tunawisma yang natabene tersingkir karena tidak memiliki
tempat tinggal dalam naska drama RT nol RW nol ?
6)
Seperti apa diskriminasi terhadap para
pencari kerja yang notabane adalah seorang gelandangan yang dianggap tidak
pantas untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik?
4.
Hasil
Analisis
Menurut
saya, makna dari judul RT nol RW nol yaitu dapat ditangkap makna utamanya
berupa cerita tentang ketimpangan kehidupan sosial yang ada di Indonesia. tema
dari naskah Rt nol Rw nol ini diangkat dari realita sosial tentang perjuangan
hidup orang-orang yang merasa terpinggir dan terasingkan. Naskah dram ini di
lengkapi dengan dialog-dialog yang idealis dari para tokoh-tokoh yang
diceritakan dan lebih menonjolkan sikap pantang menyerah. Rt nol Rw nol yang
dipakai dalam judul drama Iwan Simatupang tersebut tidak hanya sekedar sebuah
nama. Naskah drama yang menurut catatan dibuat sekitar tahun 1966 ini memiliki
tema tentang perjuangan hidup seseorang untuk mendapatkan kehidupan yang layak
dan lebih baik. Penggunaan tokoh gelandangan dan PSK menunjukan masyarakat kaum
bawah yang miskin dan menderita.
Judul
RT nol RW nol merupakan sebuah simbol. yakni untuk melambangkan para
gelandangan dan orang-orang yang tidak memiliki Kartu Tanda Penduduk, bahkan
keberadaan mereka di negri ini seolah-olah diabaikan oleh masyarakat.
Bagi
saya, dibalik judul itu memiliki arti bahwa RT nol RW nol itu menunjukan bahwa
para tokoh yang memerankan drama tersebut diceritakan tidak mempunyai tempat
tinggal bahkan tidak diakui sebagai penduduk sebuah Negara. Mereka bahkan
mungkin tidak mempunyai tidak mempunyai kartu penduduk. Pengarang menggambarkan
kehidupan para gelandangan tersebut dengan lugas dan tegas. Pengarang
mengangkat tema tentang kisah hidup seorang gelandangan yang tinggal di
kolong-kolong jembatan yang setiap waktu bias saja digusur oleh pemerintah jika
mereka mau. Sungguh sebuah penggambaran yang realistis diantara hinggar
bingarnya kehidupan perkotaan yang menyediakan banyak sekali kemewahan yang
sama sekali tidak dirasakan oleh tokoh-tokoh yang secara jelas digambarkan oleh
pengarang lewat drama ini. Pengarang dalam tulisannya seolah mengerti bagaimana
pergolakan batin para tokoh yang diceritakannya bahwa sebenarnya para
gelandangan tersebut juga ingin diakui oleh pemerintah sebagai bagian dari
sebuah negara terlihat percakapan tokohnya yang menginginkan kehidupan yang
lebih baik dan tempat tinggal yang layak untuk dihuni, mempunyai alamat tetap,
dan tentu saja mempunyai kartu penduduk. Menurut saya, pengarang di sini
mengambil begitu banyak sisi yang berbeda dari tokoh yang digambarkannya. Tokoh-tokoh
yang dijadikan inspirasi pengarang dalam menggambarkan dramanya mewakili betapa
betapa semrawutnya keadaan negara ini. Kritik sosial terhadap pemerintah jelas
dilontarkan oleh pengarang lewat karyanya ini.
Pengarang
dalam drama ini menggunakan sentuhan falsafat tentang kehidupan sosial yang
menjadi realitas dalam negri ini. Hal ini jelas terlihat diawal drama tentang
pandangan kritis dari tokoh Kakek dan Ani yang mempunyai latar belakang seorang
gelandang, namun memiliki pandangan yang jeli untuk mengkritik dan menghujat
tingkah polah pemerintah negri ini. Pada bagian belakang drama, pembaca diajak
untuk mengikuti kisah kehidupan para tokoh gelandangan ini yang pada akhirnya
menemukan kehidupannya yang baru, kemudian meninggalkan RT nol RW nol yang
selama ini mereka tinggali. Ditempat itu hanya tersisa seorang kakek tua yang
senantiasa hidup di bawah kolong jembatan itu seumur hidupnya. Kakek itu tidak
mau pindah dari tempat itu karena merasa bahwa memang di situlah kehidupannya
dimulai dan diakhiri nantinya. Kakek itu tidak mau meninggalkan tempat yang ia
namai RT nol RW nol tersebut meskipun tempat itu bukan miliknya.
Jika ditinjau dari judulnya,
sebenarnya naskah drama ini sudah menunjukan adanya kritik sosial. Judul ‘Rt Nol
Rw Nol’ artinya tidak memiliki alamat. Dari judulnya terlihat bahwa pengarang
sebenarnya ingin menanggapi tentang keberadaan orang-orang pinggiran yang dalam
naskah drama ini diwujudkan pada sosok gelandangan dan PSK yang menghuni Rt Nol
Rw Nol. Orang-orang in sebenarnya ingin diakui dan diperhatikan oleh negara,
mereka ingin memiliki alamat tetap dan Kartu Tanda Penduduk tetap. Akan terasa
sangat menyakitkan jika keberadaan mereka tidak diperhatikan. Padahal mereka
juga bagian dari negara ini.
Pengarang menggambarkan kritiknya
mulai dari ketidakpedulian pemerintah terhadap para gelandangan, diskriminasi
terhadap para pencari kerja yang notabane adalah seorang gelandangan dianggap
tidak pantas untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Tokoh si pincang
misalnya, ia digambarkan sebagai potret laki-laki yang cacat fisiknya,
sedangkan putus asa dalam mencari pekerjaan karena pada kenyataannya tak
seorangpun mau memperkerjakan orang cacat. Inilah salah satu kritik yang
realistis dari diri pengarang kepada para diskriminan-diskriminan di negara
ini. Hal ini tentunya akan menimbulkan reaksi negatif dari para gelandangan
seperti yang dijelaskan oleh para pengarang bahwa pemerintah seolah tidak mau
tahu tentang kehidupan rakyatnya yang berada di bawah kolong jembatan. Bahkan
KTP pun mereka tidak memilikinya. Tanah yang mereka tempati juga sepenuhnya
milik pemerintah. Oleh karena itu, mereka menganggap kalau tempat yang mereka
tinggali memiliki RW nol RT nol. Pengarang menjelaskan bahwa yang berada dalam
benak seorang gelandangan hanyalah bisa makan enak keesokan harinya dengan cara
apapun. Sekalipun itu harus merampok. Secara implisit seorang berpikir bahwa
uang telah membuat orang menjadi gelap mata. Seperti pada tokoh kakak beradik
Ani dan Ina pun datang membawa kabar bahwa mereka akan dinikahi oleh Pria yang
menjadi langganan mereka. Akhirnya meninggalkan kolong jembatan yang menjadi
tempat mereka tinggal. Pengarang disini jelas mengatakan bahwa uang mampu
mempermainkan logika seseorang untuk melakukan sauatu hal yang tidak lazim dan
masuk akal untuk diterima. Inilah salah satu gaya penceritaan yang berbeda dari
pengarang yang ingin ditonjolkan.
Pengarang mengambil tempat kolong
jembatan sebuah kota metropolitan yang besar penuh dengan kemewahan, namun ia
justru menceritakan tokoh-tokoh yang terasing mungkin sama sekali tidak
dianggap keberadaannya oleh sebagian besar orang. Ide drama yang diangkat oleh
pengarang sangat dekat sekali dengan dunia keseharian kita, dimana banyak
sekali kita temui gelandangan-gelandangan yang sama sibuknya dengan kegiatan
oknum pemerintah untuk mampu menyambung hidupnya lebih panjang lagi. Dalam
drama ini, pengarang menekankan pada situasi dan suasana sosial kaum
gelandangan dan tunawisma yang notabane tersingkir karena tidak memiliki tempat
tinggal. Oleh sebab itu, dalam cuplikan dialog dalam naskah drama ini banyak
mengungkap tentang pemikiran-pemikiran kaum gelandangan yang sebenarnya sangat
mengharapkan adanya pengakuan dari pemerintah.
Drama ini merupakan darama yang
mengandung kritik tajam terhadap kesenjangan sosial dengan mengangkat para kaum
gelandangan yang hidup tidak dengan sewajarnya di bawah kolong jembatan.
Pengarang ingin menyinggung dan mengecam mengenai realita sosial yang ada di
negara ini, yakni tentang banyaknya pelanggaran-pelanggaran yang ada diberbagai
aspek, yang membuat rakyat kecil menderita. Pelanggaran-pelanggaran yang ada
ini akhirnya membuat aparat yang bersangkutan menjadi sibuk. Kata busuk
merunjuk pada sesuatu yang sudah tidak layak, rusak dan berbau, pengarang
seperti ingin menunjukan kepada kita khususnya pembaca betapa kejamnya hidup
yang dihadapi oleh orang-orang pinngiran seperti mereka. Mereka sebenarnya juga
mendambakan hidup yang layak dan lebih baik.
Dalam drama ini, pengarang seolah
ingin semakin memantapkan pandangannya kepada pembaca mengenai kejamnya
kehidupan yang dialami oleh orang-orang pinggiran ini. Pengarang sebenarnya
ingin menyinggung kondisi masyarakat di negri ini yang sering menganggap bahwa
orang-orang pinggiran ini tidak pantas mempunyai harga diri, tidak pantas untuk
memilki pekerjaan yang layak. Mereka seolah lupa bahwa orang-orang pinggiran
ini adalah manusia juga yang ingin hidup lebih baik. mempertegas sindirian dan
kecaman pengarang terhadap persepsi yang ada di dalam masyarakat yang menilai
bahwa orang-orang pinggiran ini adalah kasta yang paling hina dan paling
rendah, yang dianggap sudah tidak mampu bekerja. Persepsi-persepsi demikian
memang sesuai dengan realita sosial yang ada di negara ini, seringkali
orang-orang yang memiliki nasib lebih beruntung merendahkan orang-orang
pinggiran dan miskin dan tinggal di kolong jembatan. Persepsi-persepsi yang
seperti demikian itu sebenarnya terasa sangat menyakitkan bagi mereka, jika
boleh memilih tentu tidak ada orang yang menginginkan memiliki nasib demikian.
Bahkan dalam kutipan dialog paling akhir, mereka yang tercermin dalam si
pincang, siap memprtaruhkan apa saja asal dapat meninggalkan kedudukan sebagai
manusia gelandangan. Dari sini juga terlihat bahwa mereka sebenarnya masih
memiliki harga diri dan tidak mau untuk di rendahkan terus-menerus.
Pengarang dalam naskah drama ini
mengkritik adanya sekelompok orang yang bekerja secara tidak halal, namun uang
hasil kerja tersebut justru digunakan untuk beribadah agar orang tersebut
memiliki kedudukan yang terhormat dimata orang lain. Pengarang ingin menunjukan
bahwa orang-orang pinggiran itu rela hidup lebih menderita demi mendapatkan
kedudukan yang tetap, baik status maupun tempat tinggal. Mereka sebenarnya juga
ingin menunjukan kepada masyarakat bahwa mereka masih memiliki eksistensi di
balik status sosialnya yang sebelumnya di anggap rendah.
5.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, saya menyimpulkan
bahwa naskah drama ini merupakan sebuah karya sastra yang luar biasa. Pengarang
mampu menangkap realita-realita sosial yang ada secara tepat, kemudian
menanggapinya dengan melakukan sendirian-sendirian yang tertuang dalam naskah
drama ini. Tema dari naskah drama yang membahas tentang perjuangan hidup masyarakat
kalangan bawah untuk lepas dari penderitaan ini, rasanya juga sudah cukup untuk
menyindir akibat buruk adanya krisis
ekonomi yang membuat masyarakat benar-benar menderita. Pembaca juga diajak oleh
pengarang untuk lebih peduli dan memperhatikan, serta tidak merendahkan
orang-orang pinggiran ini. Keunikan dari karya ini adalah kritik-kritik social
yang ada dalamnya masih relavan dengan keadaan yang ada saat ini. Berarti dapat
dikatakan bahwa sikap masyarakat saat ini secara garis besar tidak berbeda jauh
dengan stengah abad yang lalu, meskipun modernisasi perlahan-lahan sudah
mengubah pola piker saat ini.
Pengarang melalui kritik social di
dalam drama ini seolah-olah mengajak pembaca untuk lebih peduli dan
memperhatikan keberadaan mereka. Pengarang ingin menyampaikan bahwa mereka
sebenarnya masih memiliki ekstansi, mereka berusaha menunjukan eksistensinya
dengan melakukan usaha-usaha untuk mengangkat derajat mereka. Tidak sepatutnya
mereka direndahkan oleh manusia yang lain, karena sebenarnya mereka masih
mempunyai harga diri, mereka ingin hidup layak dan berada dalam kepastian.
Drama ini sedikit banyak telah
membuka mata kita tentang realitas kehidupan negara Indonesia yang bisa disebut
sebagai negara gelandangan, khususnya di kota-kota metropolitan. Kerasanya
hidup yang dialami oleh para gelandangan ini memaksa mereka untuk melawan hukum
dan membenci pemerintah karena menganggap bahwa nasib buruk yang mereka terima
karena ulah pemerintah juga. Bahkan, mereka dengan lantang melanggar peraturan
pemerintah tanpa rasa takut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar