Selasa, 08 Oktober 2013

Maemunah (2222112419)



1.         Analisis Struktur, Anatomi Serta Konstruksi Plot Dalam

Ø  Tema
Tema dari naskah drama RT nol Rw nol ini adalah realita sosial perjuangan hidup. Terlihat dari dialog-dialog yang idealis dan lebih menonjolkan sifat pantang menyerah.
Ø  Amanat
Amanat dalam naskah RT nol Rw nol ini yaitu sebagai manusia kita harus selalu berusaha dan berjuang dalam menjalani hidup tanpa ada keputusan dalam hidup.
Ø  Alur
Adapun alur yang terdapat pada drama RT nol Rw nol adalah alur maju atau alur lurus. Dimana penulis naskah drama menceritakan dari awal mula adegan sampai pada akhir adegan.
Ø  Latar
Yang terdapat pada drama ini yaitu latar tempat dan latar waktu. Latar tempat yang terdapat pada drama ini berlatar dibawah jembatan besar. Penulis dalam naskah drama ini dengan jelas menuliskan latar yang terdapat pada dalam drama ini.
Ø  Sudut pandang : orang prtama dan orang ketiga.
Ø  Suasana             :
·         Tegang
Kutipan “ kalau maksudmu, bahwa gara-gara ucapanku yang barusan kita terpaksa berkelahi. Ayo berkelahi!”
·         Bahagia
Kutipan: “aku berharap, suatu hari dapat melihat kau lewat, naik becak suamimu, kau dan anakmu sehat dan montok-montok. Selamat jalan, Naik.

Ø  Tokoh dan Penokohan :
1.      Kakek                    : Bijaksana
Kutipannya : “Jangan bingungkan dirimu lebih lama lagi dalam kerangka kerangka kata-kata mu yang meawang itu.”
Penyabar   
Kutipannya :”Kelenggangan disebabkan perpisahan, terkadang lebih parah dari kematian sendiri. Mengapa pula kita, manusia-manusia gelandangan, berbuat seolah tak mengerti itu?”
2.      Pincang                  : Pemarah
Kutipannya  :”Apa aku harus menutup mulutku terus? Mengapa setiap ucapanku kau anggap cari fasal saja?”
3.      Ni                            : Keras kepala
Kutipannya  :”semuanya ini akan kami nikmati malam ini. Cara apapun akan kami jalani, asal kami dapat menemukannya malam ini. Ya, malam ini juga!”
Pantang menyerah
Kutipannya  :” Terus, pantang mundur! Kita bukan dari garam, kan?”
4.      Bopeng                   : Rendah Hati
Kutipannya  :”Sabar. Rokok sungguhpun ada. Malah sebungkus utuh.”
5.      Ina                          : Penyabar
Kutipannya  :”Sudahlah Kak. Hujan atau tak hujan, kita tetap keluar.”
6.      Ati                          : Pemalu
Kutipannya  :”Malu Kek. Kami berangkat dari sana dengan pesta dan doa. Segala pakaian dan perhiasan emasku didalamnya, telah dia bawa kabur.”

2.         SINOPSIS
Disebuah kota besar hiruk-pikuk kendaraan yang melintas di atas jembatan yang tidak begitu besar, hidup beberapa orang di bawahnya. Seseorang Kakek tinggal di bawah kolong jembatan itu dia adalah mantan klasi kapal, ada pula Si pincang dengan kondisi fisiknya yang kurang telah mencari kerja kemana-mana yang tidak pernah mendapatkan hasil yang memuaskan, dengan ditemani Ani dan Ina kakak beradik yang kerja sebagai PSK (Pekerja Seks Komersial)mereka menatapi kejamnya kota besar. Yang kemudian membawa sebuah permasalahan pelik diantara mereka, Pincang telahputus asa dengan kehidupan yang telah Ia alami, karena tidak pernah satupun ia berhasil mendapatkan sebuah pekerjaan yang dapat menunjang kebutuhan hidupnya.
 Datinglah seorang laki-laki bernama Bopeng, Ia adalah mantan penghuni kolong jembatan tempat tinggal kakek, Pincang, Ani dan Ina telah bekerja sebuah kapal Klasi Kapal, tapi Ia membawa seorang wanita bersamanya yang bernama Ati. Ati adalah sosok wanita yang mencari suaminya yang entah kemana telah menghilang dan kemudian Ia tersesat dan kehabisan uang untuk pulang ke kampungnya.
Karena iri hati Pincang pun selalu memojokkan Bopeng, karena pada awal bertemu dengan Ati, Bopeng berjanji untuk mengantarkannya pulang ke kampung tetapi karena adanya panggilan kerja sebagai klasi kapal mengurungkan niat tersebut. Setelah pertengkaran argument antara si Pincang dan si Bopeng, akhirnya kakek pun menengahi pertegkaran mereka, selang beberapa waktu Ani dan Ina pun datang setelah bekerja dengan membawa kabar bahwa mereka akan dinikahi oleh Pria yang menjadi langganan mereka. Akhirnya mereka meninggalkan kolong jembatan yang mejadi tempat mereka tinggal. di susul oleh si bopeng dan si pincang yang akan berjuang mengantarkan Ati kembali ke kampung halamannya dan berjanji mencari pekerjaan kembali dan menikahi Ati. Akhirnya cerita tinggalah Kakek sendiri di bawah jembatan itu yang mereka semua memberi nama tempat tinggal mereka RT nol RW nol .

3.         Rumusan Masalah
1)         Apa makna sebenarnya dari judul drama RT nol RW nol yang diciptakan oleh pengarang?
2)         Mengapa pengarang mengambil judul seperti itu?
3)         Mengapa pengarang menggunakan sentuhan falsafat tentang kehidupan sosial yang menjadi realitas dalam negri ini dalam drama RT nol RW nol?
4)         Kritik sosial seperti apa yang ingin dilontarkan oleh pengarang lewat karyanya ini terhadap pemerintah di tahun itu?
5)         Bagaimana situasi dan suasana sosial kaum gelandangan dan tunawisma yang natabene tersingkir karena tidak memiliki tempat tinggal dalam naska drama RT nol RW nol ?
6)         Seperti apa diskriminasi terhadap para pencari kerja yang notabane adalah seorang gelandangan yang dianggap tidak pantas untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik?


4.         Hasil Analisis
Menurut saya, makna dari judul RT nol RW nol yaitu dapat ditangkap makna utamanya berupa cerita tentang ketimpangan kehidupan sosial yang ada di Indonesia. tema dari naskah Rt nol Rw nol ini diangkat dari realita sosial tentang perjuangan hidup orang-orang yang merasa terpinggir dan terasingkan. Naskah dram ini di lengkapi dengan dialog-dialog yang idealis dari para tokoh-tokoh yang diceritakan dan lebih menonjolkan sikap pantang menyerah. Rt nol Rw nol yang dipakai dalam judul drama Iwan Simatupang tersebut tidak hanya sekedar sebuah nama. Naskah drama yang menurut catatan dibuat sekitar tahun 1966 ini memiliki tema tentang perjuangan hidup seseorang untuk mendapatkan kehidupan yang layak dan lebih baik. Penggunaan tokoh gelandangan dan PSK menunjukan masyarakat kaum bawah yang miskin dan menderita.
Judul RT nol RW nol merupakan sebuah simbol. yakni untuk melambangkan para gelandangan dan orang-orang yang tidak memiliki Kartu Tanda Penduduk, bahkan keberadaan mereka di negri ini seolah-olah diabaikan oleh masyarakat.
Bagi saya, dibalik judul itu memiliki arti bahwa RT nol RW nol itu menunjukan bahwa para tokoh yang memerankan drama tersebut diceritakan tidak mempunyai tempat tinggal bahkan tidak diakui sebagai penduduk sebuah Negara. Mereka bahkan mungkin tidak mempunyai tidak mempunyai kartu penduduk. Pengarang menggambarkan kehidupan para gelandangan tersebut dengan lugas dan tegas. Pengarang mengangkat tema tentang kisah hidup seorang gelandangan yang tinggal di kolong-kolong jembatan yang setiap waktu bias saja digusur oleh pemerintah jika mereka mau. Sungguh sebuah penggambaran yang realistis diantara hinggar bingarnya kehidupan perkotaan yang menyediakan banyak sekali kemewahan yang sama sekali tidak dirasakan oleh tokoh-tokoh yang secara jelas digambarkan oleh pengarang lewat drama ini. Pengarang dalam tulisannya seolah mengerti bagaimana pergolakan batin para tokoh yang diceritakannya bahwa sebenarnya para gelandangan tersebut juga ingin diakui oleh pemerintah sebagai bagian dari sebuah negara terlihat percakapan tokohnya yang menginginkan kehidupan yang lebih baik dan tempat tinggal yang layak untuk dihuni, mempunyai alamat tetap, dan tentu saja mempunyai kartu penduduk. Menurut saya, pengarang di sini mengambil begitu banyak sisi yang berbeda dari tokoh yang digambarkannya. Tokoh-tokoh yang dijadikan inspirasi pengarang dalam menggambarkan dramanya mewakili betapa betapa semrawutnya keadaan negara ini. Kritik sosial terhadap pemerintah jelas dilontarkan oleh pengarang lewat karyanya ini.
Pengarang dalam drama ini menggunakan sentuhan falsafat tentang kehidupan sosial yang menjadi realitas dalam negri ini. Hal ini jelas terlihat diawal drama tentang pandangan kritis dari tokoh Kakek dan Ani yang mempunyai latar belakang seorang gelandang, namun memiliki pandangan yang jeli untuk mengkritik dan menghujat tingkah polah pemerintah negri ini. Pada bagian belakang drama, pembaca diajak untuk mengikuti kisah kehidupan para tokoh gelandangan ini yang pada akhirnya menemukan kehidupannya yang baru, kemudian meninggalkan RT nol RW nol yang selama ini mereka tinggali. Ditempat itu hanya tersisa seorang kakek tua yang senantiasa hidup di bawah kolong jembatan itu seumur hidupnya. Kakek itu tidak mau pindah dari tempat itu karena merasa bahwa memang di situlah kehidupannya dimulai dan diakhiri nantinya. Kakek itu tidak mau meninggalkan tempat yang ia namai RT nol RW nol tersebut meskipun tempat itu bukan miliknya.
Jika ditinjau dari judulnya, sebenarnya naskah drama ini sudah menunjukan adanya kritik sosial. Judul ‘Rt Nol Rw Nol’ artinya tidak memiliki alamat. Dari judulnya terlihat bahwa pengarang sebenarnya ingin menanggapi tentang keberadaan orang-orang pinggiran yang dalam naskah drama ini diwujudkan pada sosok gelandangan dan PSK yang menghuni Rt Nol Rw Nol. Orang-orang in sebenarnya ingin diakui dan diperhatikan oleh negara, mereka ingin memiliki alamat tetap dan Kartu Tanda Penduduk tetap. Akan terasa sangat menyakitkan jika keberadaan mereka tidak diperhatikan. Padahal mereka juga bagian dari negara ini.
Pengarang menggambarkan kritiknya mulai dari ketidakpedulian pemerintah terhadap para gelandangan, diskriminasi terhadap para pencari kerja yang notabane adalah seorang gelandangan dianggap tidak pantas untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Tokoh si pincang misalnya, ia digambarkan sebagai potret laki-laki yang cacat fisiknya, sedangkan putus asa dalam mencari pekerjaan karena pada kenyataannya tak seorangpun mau memperkerjakan orang cacat. Inilah salah satu kritik yang realistis dari diri pengarang kepada para diskriminan-diskriminan di negara ini. Hal ini tentunya akan menimbulkan reaksi negatif dari para gelandangan seperti yang dijelaskan oleh para pengarang bahwa pemerintah seolah tidak mau tahu tentang kehidupan rakyatnya yang berada di bawah kolong jembatan. Bahkan KTP pun mereka tidak memilikinya. Tanah yang mereka tempati juga sepenuhnya milik pemerintah. Oleh karena itu, mereka menganggap kalau tempat yang mereka tinggali memiliki RW nol RT nol. Pengarang menjelaskan bahwa yang berada dalam benak seorang gelandangan hanyalah bisa makan enak keesokan harinya dengan cara apapun. Sekalipun itu harus merampok. Secara implisit seorang berpikir bahwa uang telah membuat orang menjadi gelap mata. Seperti pada tokoh kakak beradik Ani dan Ina pun datang membawa kabar bahwa mereka akan dinikahi oleh Pria yang menjadi langganan mereka. Akhirnya meninggalkan kolong jembatan yang menjadi tempat mereka tinggal. Pengarang disini jelas mengatakan bahwa uang mampu mempermainkan logika seseorang untuk melakukan sauatu hal yang tidak lazim dan masuk akal untuk diterima. Inilah salah satu gaya penceritaan yang berbeda dari pengarang yang ingin ditonjolkan.
Pengarang mengambil tempat kolong jembatan sebuah kota metropolitan yang besar penuh dengan kemewahan, namun ia justru menceritakan tokoh-tokoh yang terasing mungkin sama sekali tidak dianggap keberadaannya oleh sebagian besar orang. Ide drama yang diangkat oleh pengarang sangat dekat sekali dengan dunia keseharian kita, dimana banyak sekali kita temui gelandangan-gelandangan yang sama sibuknya dengan kegiatan oknum pemerintah untuk mampu menyambung hidupnya lebih panjang lagi. Dalam drama ini, pengarang menekankan pada situasi dan suasana sosial kaum gelandangan dan tunawisma yang notabane tersingkir karena tidak memiliki tempat tinggal. Oleh sebab itu, dalam cuplikan dialog dalam naskah drama ini banyak mengungkap tentang pemikiran-pemikiran kaum gelandangan yang sebenarnya sangat mengharapkan adanya pengakuan dari pemerintah.
Drama ini merupakan darama yang mengandung kritik tajam terhadap kesenjangan sosial dengan mengangkat para kaum gelandangan yang hidup tidak dengan sewajarnya di bawah kolong jembatan. Pengarang ingin menyinggung dan mengecam mengenai realita sosial yang ada di negara ini, yakni tentang banyaknya pelanggaran-pelanggaran yang ada diberbagai aspek, yang membuat rakyat kecil menderita. Pelanggaran-pelanggaran yang ada ini akhirnya membuat aparat yang bersangkutan menjadi sibuk. Kata busuk merunjuk pada sesuatu yang sudah tidak layak, rusak dan berbau, pengarang seperti ingin menunjukan kepada kita khususnya pembaca betapa kejamnya hidup yang dihadapi oleh orang-orang pinngiran seperti mereka. Mereka sebenarnya juga mendambakan hidup yang layak dan lebih baik.
Dalam drama ini, pengarang seolah ingin semakin memantapkan pandangannya kepada pembaca mengenai kejamnya kehidupan yang dialami oleh orang-orang pinggiran ini. Pengarang sebenarnya ingin menyinggung kondisi masyarakat di negri ini yang sering menganggap bahwa orang-orang pinggiran ini tidak pantas mempunyai harga diri, tidak pantas untuk memilki pekerjaan yang layak. Mereka seolah lupa bahwa orang-orang pinggiran ini adalah manusia juga yang ingin hidup lebih baik. mempertegas sindirian dan kecaman pengarang terhadap persepsi yang ada di dalam masyarakat yang menilai bahwa orang-orang pinggiran ini adalah kasta yang paling hina dan paling rendah, yang dianggap sudah tidak mampu bekerja. Persepsi-persepsi demikian memang sesuai dengan realita sosial yang ada di negara ini, seringkali orang-orang yang memiliki nasib lebih beruntung merendahkan orang-orang pinggiran dan miskin dan tinggal di kolong jembatan. Persepsi-persepsi yang seperti demikian itu sebenarnya terasa sangat menyakitkan bagi mereka, jika boleh memilih tentu tidak ada orang yang menginginkan memiliki nasib demikian. Bahkan dalam kutipan dialog paling akhir, mereka yang tercermin dalam si pincang, siap memprtaruhkan apa saja asal dapat meninggalkan kedudukan sebagai manusia gelandangan. Dari sini juga terlihat bahwa mereka sebenarnya masih memiliki harga diri dan tidak mau untuk di rendahkan terus-menerus.
Pengarang dalam naskah drama ini mengkritik adanya sekelompok orang yang bekerja secara tidak halal, namun uang hasil kerja tersebut justru digunakan untuk beribadah agar orang tersebut memiliki kedudukan yang terhormat dimata orang lain. Pengarang ingin menunjukan bahwa orang-orang pinggiran itu rela hidup lebih menderita demi mendapatkan kedudukan yang tetap, baik status maupun tempat tinggal. Mereka sebenarnya juga ingin menunjukan kepada masyarakat bahwa mereka masih memiliki eksistensi di balik status sosialnya yang sebelumnya di anggap rendah.


5.         Kesimpulan
Secara keseluruhan, saya menyimpulkan bahwa naskah drama ini merupakan sebuah karya sastra yang luar biasa. Pengarang mampu menangkap realita-realita sosial yang ada secara tepat, kemudian menanggapinya dengan melakukan sendirian-sendirian yang tertuang dalam naskah drama ini. Tema dari naskah drama yang membahas tentang perjuangan hidup masyarakat kalangan bawah untuk lepas dari penderitaan ini, rasanya juga sudah cukup untuk menyindir  akibat buruk adanya krisis ekonomi yang membuat masyarakat benar-benar menderita. Pembaca juga diajak oleh pengarang untuk lebih peduli dan memperhatikan, serta tidak merendahkan orang-orang pinggiran ini. Keunikan dari karya ini adalah kritik-kritik social yang ada dalamnya masih relavan dengan keadaan yang ada saat ini. Berarti dapat dikatakan bahwa sikap masyarakat saat ini secara garis besar tidak berbeda jauh dengan stengah abad yang lalu, meskipun modernisasi perlahan-lahan sudah mengubah pola piker saat ini.
Pengarang melalui kritik social di dalam drama ini seolah-olah mengajak pembaca untuk lebih peduli dan memperhatikan keberadaan mereka. Pengarang ingin menyampaikan bahwa mereka sebenarnya masih memiliki ekstansi, mereka berusaha menunjukan eksistensinya dengan melakukan usaha-usaha untuk mengangkat derajat mereka. Tidak sepatutnya mereka direndahkan oleh manusia yang lain, karena sebenarnya mereka masih mempunyai harga diri, mereka ingin hidup layak dan berada dalam kepastian.
Drama ini sedikit banyak telah membuka mata kita tentang realitas kehidupan negara Indonesia yang bisa disebut sebagai negara gelandangan, khususnya di kota-kota metropolitan. Kerasanya hidup yang dialami oleh para gelandangan ini memaksa mereka untuk melawan hukum dan membenci pemerintah karena menganggap bahwa nasib buruk yang mereka terima karena ulah pemerintah juga. Bahkan, mereka dengan lantang melanggar peraturan pemerintah tanpa rasa takut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar