Selasa, 08 Oktober 2013

Umroh Tunnisa (2222112504)



Nama  : Umroh Tunnisa
Nim     : 2222112504
Kelas   : 5D
Judul  : Analisis Drama “ RT NOL RW NOL’’ Karya Irwan Simatupang

Ø  Sinopsis
suatu kehidupan penduduk yang berada disebuah kolong jembatan, dimana tempat itu sangat kotor dan berantakan maklum disini adalah tempat berkumpulnya kaum glandangan. Tempat yang kumuh, berantakan kotor dan bau yang sangat menusuk hidung. Di sini si pincang sedang asik menunggui tungku yang menyala dan berasap, dan si kakek pun sama sedang menunggui tungku yang satunya lagi. Sedangkan peran wanita didrama ini selalu sibuk berdandan mungkin mereka akan berpergian. Kedua wanita itu Ani dan Ina mereka sibuk memegang cermin yang sudah pecah ditangan masing-masing. Di atas jembatan terdengan gemuruh petir yang bertanda akan turun hujan. Hujanpun akhirnya turun mengiringi kisah mereka. Si pincang dan si kakek sedang makan disebuah kaleng, mereka memakan hasil masakan mereka sendiri. Si pincang sudah selesai makan dan membuang kaleng itu, lalu si kakek mengambilnya kembali karena dia merasa masih ada sisa makanan dikaleng si pincang. selesai makan si kake bercerita kepada si pincang tentang kenangan hidupnya masa dulu. Hujan mulai reda gemuruh petir yag dari tadi terdengar terlah hilang dan digantikan oleh gemuruh suara kendaraan diatas jembatan. Ketika si pincang dan kakek sedang asik mengobrol tiba tiba bopeng datang dengan seorang perempuan yang dia temukan dipelabuhan sana. Ati namanya, bopeng memberikan nasi bungkus kepada si pincang dan kakek, sambil makan mereka mengobrol dengan asiknya. Namun entah apa yang terjadi bopeng malah marah dan menerkam si pincang, si kake dengan nafas tersengal sengal berusaha memisahkan bopeng dan si pincang. Bopeng pun pergi keluar dan duduk sambil bersandar dibatu jembatan. Ati menghampirinya dengan penuh takut sedangkan pincang dan kakek asik melanjutkan makannya kembali.
Terdengar bunyi becak datang ke pemukiman itu, dan turun dari becak itu Ina dengan menenteng makanan yang dibawanya. Kali ini Ina datang tidak  bersama kakanya yang bernama Ani, karena Ani telah dilamar oleh kekasih hatinya. Ina memberikan makanannya kepada kakek yang keluar dari bilik gelapnya, lalu Ina pun melihat Ati yang berada disana.
Ati dan Ina pun mengobrol mereka mengobrol tentang bagaimana Ati dan Bopeng bisa bertemu dipelabuhan. Lalu bopeng menceritakan bahwa Ati adalah wanita yang akan diajaknya berlayar besok, ketika Ina mendengar kata berlayar Ina langsung gembira dan langsung menanyakannya kepada Bopeng,dan bopeng membenarkan bahwa dia telah diterima untuk berlayar. terdengar bunyi lonceng berkali kali Ina pun terkejut dan langsung mencari suara lonceng tersebut di luar kolong jembatan. Ternyata si abang becak yang menjemputnya, kali ini abang becak menjemputnya bukan untuk menjadi pelangganya, melainkan untuk menjadikan Ina sebagai istrinya. Ina pergi tanpa membawa sedikitpun peralatan rumahnya, yang ada Ina meminta kepada penghuni kolong jembatan untuk memakain peralatannya itu jika mau, tapi jika tak mau ya sudah dibuang saja, suasana semakin sedih ketika satu demi satu penghuni kolong jembatan itu mengucapkan selamat tinggal kepada ina, dan Ina pun berpamitan kepada mereka semua dengan meminta maaf yang sebesar besarnya kepada semuanya. Terdenagr kembali bunyi lonceng becak itu namun kini bunyi lonceng itu sedikit keras suaranya, mungkin si abang becak itu sudah tak sabar ingin segera membawa Ina keluar dari pemukiman tersebut. Ina pun berlari menghampiri bunyi bel itu, lalu dia berhenti dan membalikan badannya, dengan badan yang lemas dan air mata yang berlinag Ina mengucapkan selamat tinggal Rt nol rw nol. Terdengar jelas deru lalu lintas diatas jembatan, bunyi malam seperti jangkir kodok dan binatang lainnya yang mencoba memberikan sedikit keramaian dikolong jembatan itu. Dikolong jembatan masih terdengar suara obrolan dari penghuninya, ternyata Ati Kakek Bopeng dan Pncang masih terjaga di bawah jembatan. Kakek berkata malam semakin larut mari kita istirahat untuk menyambut hari esok, lalu Bopeng dan Kakek tidur berpisah dari Pincang dan Ati, tapi entah kenapa Pincang merasa tersinggung dengan sikap Kakek dan Bopeng itu dan menyangka mereka telah mengolok oloknya. Kemudian kakek mendekati si Pincang lalu kemudian memeluknya, Ati yang sedari tadi hanya diam pun mulain mendaki Pincang, dia meraba raba jemari Pincang lalu digenggam dan ciumnya jemari Pincang penuh kasih dan sayang yang begitu murni dari hatinya. Kemudian Kakek melepaskan pelukannya dan meninggalkan Pincang untuk kembali merebahkan badanya yang renta untuk tidur dan beristirahat. Bopeng dan Pincang pergi ke sudut lainnya di kolong jembatan itu, untuk tidur dan istirahat, sementara Ati masih duduk di dekat Kakek,hanya suara jangkrik dan kodok yang terdengar disana, dan aliran air sungai yang mengalir ditambah suara lalu lintas yang masih menderu diatas jembatan. Sebenarnya Ati ingin sekali mengajak kakek untuk ikut dengannya ke kampung halaman, Ati merasa tak tega melihat kakek yang akan tinggal sendirian dikolong jembatan itu. Namun Kakek tetap tidak mau ikut karena dia merasa kolong jembatan itu dalah segalanya bagi dia, Kakek merasa segan untuk meninggalkan kolong jembatan itu, karena sudah bertahun tahun kakek menghuninya.
Apresiasi
Ø   Tema
Naskah drama yang berjudul Rt nol Rw nol ini adalah tentang perjuangan hidup  dan didalam cerita ini juga lebih menonjolkan sikap pantang menyerah dapat di lihat dari setiap adegannya.
Ø   Alur
Dari alur drama Rt nol Rw nol terdapat alur maju atau alur lurus. Di mana naskah drama Rt nol Rw nol itu menceritakan dari awal mula adegan sampai pada akhir adegan tersebut.
Ø   Latar
 Latar Rt nol Rw nol ini terdapat latar tempat dan latar waktu. Latar tempat yaitu berlatar di bawah jembatan besar dan penulis naskah drama Rt nol Rw nol dengan jelas dalam penulisan latar yang terdapat drama Rt nol Rw nol ini.
Ø   Sudut Pandang
Orang pertama dan orang ketiga

Ø   Sussana
Dalam naskah drama ini terdapat suasana tegang dan bahagia. Dalam adegan tegang “Kalau maksudmu, bahwa gara-gara ucapanku yang barusan kita terpaksa berkelahi. Ayo berkelahi!”. Dan dalam adegan bahagia “ aku berharap, suatu hari dapat melihat kau lewat, naik becak suamimu, kau dan anaku sehat dan montok-montok. Selamat jalan, Nak”.
Ø   Tokoh dan penokohan 
·   Tokoh  ani : keras kepala dalam kutipan naskah dramanya “ Semuanya itu akan kami  nikmati malam ini. Cara apapun  akan kami jalani. Asal kami dapat menemukannya malam ini. Ya, malam ini juga!”. Dalam tokoh Ani juga mempunyai pantang menyerah dalam kutipan naskah dramanya “T erus, pantang mundur! Kita bukan dari garam, kan?”.
·      Tokoh Ati : Tokoh Ati mempunyai sifat pemalu dalam kutipan naskah dramanya “ Malu Kek. Kami berangkat dari sana dengan pesta dan doa. Segala pakaian dan perhiasan emasku didalamnya, telah dibawa kabur”.
·      Tokoh Bopeng : Mempunyai sifat yang rendah hati dalam kitipan naskah dramanya “ Sabar. Rokok sungguhpun ada. Malah sebungkus utuh.”
·      Tokoh Kake : Tokoh kakek mempunyai sifat yang bijaksana dalam kutipan naskah dramanya “ Jangan bingungkan dirimu lebih lama lagi dalam kerangka-kerangka kata-kata mu yang merawang itu.
Dalam tokoh Kakek juga  penyabar dalam kutipan naskah dramanya “ kelenggangan disebabkan perpisahan, terkadang lebih parah dari kematian sendiri. Mengapa pula  kita, manusia- manusia gelandangan, berbuat seolah tak mengerti itu?”
·      Tokoh Pincang  : Tokoh pincang Pemarah dalam kutipan naskah dramanya “ Apa aku harus menutup mulutku terus? Mengapa setiap ucapanku kau anggap sebagai cari fasal saja?”
·      Tokoh Ina : tokoh Ina mempunyai sifat penyabar dalam kutipan naskah dramanya “ sudahkah Kak. Hujan atau tak hujan, kita tetap keluar.”

Ø   Amanat : Untuk memenuhi kebutuhan hidup tidak selalu melakukan hal-hal yang negative seperti menjual diri. Selain itu jangan terlalu mudah percaya dengan orang lain apa lagi sampai pergi ke kota lain dengan pria yang belum tau asal-usulnya seperti tokoh Ati. Sebagai mahluk ciptaan Allah SWT kita wajib bersyukur dengan apa yang Allah berikan pada umat-nya, karena sesungguhnya “Allah tidak akan merubah suatu kaum apabila kaumnya itu sendiri tidak merubahnya”.

Ø   Rumusan Masalah :
o  Bagaimana asal-usul tokoh kakek sebenarnya?
o  Mengapa para tokoh yang ada dalam drama tersebut lebih memilih tinggal di kolong jembatan daripada mengontrak rumah atau menyewa rumah?




Tidak ada komentar:

Posting Komentar