TUGAS
1
MALAM
JAHANAM
Penulis
naskah : Motinggo Busje
Tahun
terbit : 1 Juni 1958 di
Teluk Betung
ANATOMI
PADA TEKS DRAMA
1.
Pengertian Drama
Drama
adalah sebuah genre sastra yang penampilan fisiknya memperlihatkan secara
verbal adanya dialogue atau cakapan di anatara
tokoh-tokoh yang ada. Drama juga secara eksplisit memperlihatkan adanya
petunjuk pemanggungan yang akan memberikan gambaran tentang suasana, lokasi,
atau apa yang dilakukan tokoh (Hall dalam Wahyudi, 2006: 104).
2. Karakteristik
Drama
Karakteristik pada teks drama ini menceritakan
perselingkuhan sebagaimana adanya pada masa naskah drama ini ditulis, yaitu
pada tahun 1950-an. Penggambaran keadaan nyata yang dapat dijadikan contoh oleh
masyarakat. Penyebab dan dampak dari perselingkuhan Paijah dengan Soleman,
kematian Mat Kontan Kecil yang tragis, dan keegoisan Mat Kontan yang berujung
pada penyesalan yang teramat dalam, yang dapat dipelajari oleh masyarakat dan
dipetik hikmah serta amanatnya
3. Alur
Alur adalah rangkaian peristiwa yang
satu sama lain dihubungkan dengan hukum sebab-akibat (Sumardjo, 1994: 139).
Alur merupakan salah satu aspek penting dalam drama karena alur merupakan
pembentuk kerangka cerita. Aristoteles bahkan menyatakan bahwa alur adalah roh
drama (Sumardjo, 1994: 141). Alur Malam Jahanam adalah alur maju atau
linear, yaitu peristiwa yang dialami oleh tokoh cerita tersusun menurut urutan
waktu terjadinya (chronological order) secara berurutan. Alur ini
berlangsung secara kontinyu dan memuncak.
Adapun
dialog sebagai penjelas dari alur ini yang menerangkan salah satu alur dari
alur
konflik dan klimaks yaitu :
Soleman
: Sayalah yang melakukannya!
Mat
Kontan : (berputar mengambil tempat ke dekat rumahnya)
Jadi kenapa kau bunuh dia? Kau iri pada saya ya?
Soleman
: Ya, Saya iri!
Mat
Kontan : Memang benar tebakan saya tadi-tadi.
Soleman
: Ya! Saya iri pada semua yang kau punya. Pada uangmu. Pada binimu, pada
anakmu, pada burungmu. Dan pada kesombongan kamu!
Mat
Kontan : Memang kau jahanam!
Soleman
: Memang saya jahanam. Tapi kau juga jahanam (dan membalikan badan ke
arah Paijah) kau juga jahanam. Dan burung itu juga jahanam! (lambat) Dan anak
yang menangis itu juga jahanam!
Mat
Kontan : Kenapa kau hina anak saya ha?
Soleman
: Ia bukan anakmu!
4. Latar
Latar adalah segala keterangan,
petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya
peristiwa dalam suatu karya yang membangun cerita. Latar dibedakan atas dua
macam yaitu latar sosial dan latar fisik atau material. Latar sosial mencakup
penggambaran keadaan masyarakat, kelompok-kelompok sosial dan sikapnya, adat
kebiasaan, cara hidup, dan bahasa. Latar fisik adalah tempat di dalam wujud
fisiknya, yaitu ruang, bangunan, lokasi dan sebagainya.
Latar
sosial dalam Malam Jahanam yaitu, lingkungan para pelayan yang hidup
dalam serba berkecukupan. Latar fisik dalam drama Malam Jahanam yaitu
di sebuah perkampungan nelayan.
5. Tokoh
dan Penokohan
Tokoh adalah individu rekaan yang
mengalami peristiwa atau berlakuan di dalam berbagai peristiwa cerita.
Tokoh
protagonis adalah tokoh yang memegang peran pimpinan atau tokoh utama dan
menjadi pusat sorotan dalam kisahan. Tokoh antagonis adalah tokoh yang
merupakan penentang utama dari protagonis. Tokoh sebagai peran pembantu juga
merupakan tokoh penting yang cenderung dapat menggeser kedudukan tokoh utama.
Peran pembantu adalah tokoh yang tidak sentral kedudukannya di dalam cerita
tetapi kehadirannya sangat diperlukan untuk menunjang atau mendukung tokoh
utama.
Tokoh
protagonis dalam Malam Jahanam adalah Soleman sedangkan tokoh
antagonisnya adalah Mat Kontan. Peran Paijah memegang peranan sebagai peran
pembantu dan Utai Tukang Pijat adalah peran pembantu laki-laki.
6. Nilai
Drama yang Terkandung dalam Teks Drama
Amanat yang dapat kita petik disini
adalah, seharusnya seorang istri setia kepada suaminya dalam keadaan apapun,
dan seharusnya teman baik tidaklah mengkhianati kepercayaan yang telah
dijungjung tinggi yang pada akhirnya akan memecah belahkan tali silatuhrahmi
dari persahabatan yang telah dijalani begitu erat.
KONSTRUKSI
PLOT
Sinopsis
Di
sebuah perkampungan nelayan, tinggallah Mat Kontan beserta istri (Paijah) dan
anaknya (Mat Kontan Kecil). Soleman, teman dekat Mat Kontan, tinggal di
seberang rumah mereka. Suatu malam, Paijah menunggu suaminya yang belum juga
pulang. Ia mengkhawatirkan anaknya yang sedang sakit. Akhirnya, Mat Kontan
pulang membawa seekor burung. Saat mengobrol dengan Soleman di teras rumahnya,
dia menyombongkan burung perkututnya yang baru, juga istri dan anaknya. Soleman
yang tidak tahan mendengarnya mengungkit-ungkit ketakutan Mat Kontan ketika
nyawanya hampir melayang karena terperosok ke dalam pasir. Mat Kontan yang
ketakutan rahasianya dibongkar langsung berbaik-baik pada Soleman.
Tak
lama kemudian, Mat Kontan mulai menyombongkan diri lagi. Dia juga menuduh
Soleman iri karena dia mempunyai istri yang cantik dan seorang anak. Soleman
bahkan dianggap takut menyentuh perempuan karena sampai sekarang belum juga
beristri.
Mat
Kontan masuk untuk melihat burung beo kesayangannya tapi tidak menemukannya.
Utai, seorang warga kampung itu yang setengah pandir, mengaku pernah melihat
bangkai burung tersebut di dekat sumur dengan leher tergorok. Mat Kontan yang
jadi marah besar mengajak Utai menemaninya ke tukang nujum untuk mengetahui
siapa pembunuhnya.
Paijah
yang ketakutan bertanya pada Soleman apa yang sebaiknya ia katakan bila ditanya
oleh Mat Kontan nanti. Ternyata, Solemanlah yang membunuh burung beo kesayangan
Mat Kontan agar perselingkuhannya dengan Paijah tidak ketahuan. Soleman
berjanji akan melindungi Paijah.
Mat
Kontan segera pulang karena tukang nujum yang hendak ditemuinya sudah
meninggal. Dia pun marah-marah pada Paijah, bertanya siapa yang membunuh burung
beonya. Paijah balas mengungkapkan kekesalannya pada Mat Kontan yang tidak
pernah memikirkan dan menyayangi dirinya dan anaknya tapi
Awalnya,
Soleman membela Paijah dari amarah Mat Kontan. Lama-lama Soleman diam saja.
Paijah kecewa pada Soleman dan mengaku sebagai pembunuh burung beo Mat Kontan.
Soleman pun mengaku bahwa dialah pembunuh burung beo Mat Kontan dan bahwa
dialah ayah dari anak Paijah, anak yang selama ini Mat Kontan bangga-banggakan
sebagai anaknya. Mat Kontan marah dan mengangkat goloknya. Soleman membuat Mat
Kontan takut lagi dengan mengingatkannya tentang saat dia terperosok ke dalam
pasir. Mat Kontan pergi dan menyerahkan Paijah serta anaknya pada Soleman.
Soleman menyusul Mat Kontan yang dikiranya hendak bunuh diri. Ternyata, Mat
Kontan dan Utai sudah menunggu untuk membunuhnya. Soleman berhasil meloloskan
diri dan pergi ke stasiun kereta api. Utai mati karena ditendang oleh Soleman.
Mat Kontan kembali ke rumahnya dan masih mau hidup dengan Paijah serta anak
Soleman. Dia bahkan mulai memerhatikan anak itu dan pergi memanggil dukun untuk
mengobati penyakitnya. Sayangnya, malam itu juga si bayi meninggal dunia.
Pada
teks naskah Malam jahanam ini terdapat kosntruksi plot yang berlangsung seru.
Dalam artian teks drama ini berlangsung kontinyu, karena cerita dalam naskah
drama ini bertahap dari cerita yang mendasar yaitu :
-konflik,
-klimaks
dan
-penyelesaian.
Disini
terdapat adanya konflik yang timbul dari tokoh Mat Kontan dan Soleman yang
diceritakan adalah dua orang yang pria yang berteman karena rumah bereka
berdekatan dan sudah mengenal satu sama lain. Namun hal ini tidak seperti yang
kita ketahui, terdapat satu masalah awal dengan dituduhnya Soleman iri kepada
Mat Kontan yang mempunyai istri cantik dan seorang anak.
Hal
ini terdapat pada kutipan dialog :
Soleman
: Ya, Saya iri!
Mat
Kontan : Memang benar tebakan saya tadi-tadi.
Soleman
: Ya! Saya iri pada semua yang kau punya. Pada uangmu. Pada binimu, pada
anakmu, pada burungmu. Dan pada kesombongan kamu!
Pada
akhirnya terdapat klimaks yang sangat besar yang terjadi pada teks drama ini,
yaitu Soleman lah yang membunuh burung Mat Kontan, dan Soleman lah ayah dari
anak Mat Kontan. Hal ini terjadi karena kekesalan Soleman kepada Mat Kontan
yang tidak memperhatikan istri dan anaknya dan selalu sibuk dengan burung yang
Mat Kontan pelihara.
Hal
ini terdapat pada kutipan dialog :
Soleman
: Sayalah yang melakukannya!
Mat
Kontan : (berputar mengambil tempat ke dekat rumahnya)
Jadi kenapa kau bunuh dia? Kau iri pada saya ya?
Soleman
: Ya, Saya iri!
Mat
Kontan : Memang benar tebakan saya tadi-tadi.
Soleman
: Ya! Saya iri pada semua yang kau punya. Pada uangmu. Pada binimu, pada
anakmu, pada burungmu. Dan pada kesombongan kamu!
Mat
Kontan : Memang kau jahanam!
Soleman
: Memang saya jahanam.
Tapi kau juga jahanam (dan membalikan badan ke arah Paijah) kau juga
jahanam. Dan burung itu juga jahanam! (lambat) Dan anak yang menangis itu juga
jahanam!
Mat
Kontan : Kenapa kau hina anak saya ha?
Soleman
: Ia bukan anakmu!
Cerita memiliki akhir yan berujung
penyelesaian. Pada akhir cerita ini, Soleman berhasil meloloskan diri dan pergi
ke stasiun kereta api. Utai mati karena ditendang oleh Soleman. Mat Kontan
kembali ke rumahnya dan masih mau hidup dengan Paijah serta anak Soleman. Dia
bahkan mulai memerhatikan anak itu dan pergi memanggil dukun untuk mengobati
penyakitnya. Sayangnya, malam itu juga si bayi meninggal dunia.
TUGAS
2
MENGANALISIS STRUKTUR
1. Judul
Judul
adalah masalah yang utama dari sebuah karangan dalam sebuah karya, dengan
adanya judul kita bisa leluasa melantujkan pada tahap selanjutnya dalam membuat
sebuah karya tulis.
Malam
Jahanam adalah sebuah judul yang di tulis oleh Motinggo Busje pada 1 Juni 1958
di Teluk Betung. Judul ini tepat sekali dipergunakan untuk sebuah naskah drama
yang mengacu pada sebuah kejadian yang terjadi pada malam tersebut, yaitu
paijah yang berselngkuh dengan sahabat baikdari suaminya yang menghasilkan
seorang anak dan menimbulkan pertikaian yang sangat dramatis.
2. Dialog
Dialog merupakan kata atau kalimat yang diucapkan oleh tokoh dalam
naskah drama. Dialog merupakan salah satu hal penting dalam sebuah karya dalam
bentuk naskah drama. Dengan adaanya dialog, kita bisa tahu adanya jalan cerita
yang diceritakan pada karya tersebut.
Dalam dialog pada naskah Malam Jahanam ini sangat jelas sekali
terlihat alur yang sangat asik dan membuat penasaran. Dari dialog Mat kontan
dan Soleman sangat frontal dengan kalimat yang di ujarkan, kutipan dialognya
sebagai berikut :
Soleman
: Sayalah yang melakukannya!
Mat
Kontan : (berputar mengambil tempat ke dekat rumahnya)
Jadi kenapa kau bunuh dia? Kau iri pada saya ya?
Soleman
: Ya, Saya iri!
Mat
Kontan : Memang benar tebakan saya tadi-tadi.
Soleman
: Ya! Saya iri pada semua yang kau punya. Pada uangmu. Pada binimu, pada
anakmu, pada burungmu. Dan pada kesombongan kamu!
Mat
Kontan : Memang kau jahanam!
Soleman
: Memang saya jahanam.
Tapi kau juga jahanam (dan membalikan badan ke arah Paijah) kau juga
jahanam. Dan burung itu juga jahanam! (lambat) Dan anak yang menangis itu juga
jahanam!
Mat
Kontan : Kenapa kau hina anak saya ha?
Soleman
: Ia bukan anakmu!
Dengan
adaanya dialog, kita bisa tahu secara keseluruhan dari cerita tersebut, mulai
dari
perwatakan
tokoh sampai jalan cerita yang seperti apa yang diusung oleh pengarang
tersebut.
3.
Pembagian Babak
Sesuatu
hal yang penting selanjutnya adalah babak. Babak merupakan hal yang penting
sebagai pembentuk dari jalannya sebuah cerita dari naskah drama. Babak dalam
sebuah naskah drama bisa dilihat dari setting tempat atau setting waktu, adapun
yang lain babak bisa di bagi menjadi lima babak yang terdiri dari :
-
Babak pertama biasanya terdapat pada
prolog yang ada pada awal sebuah naskah drama
-
Babak kedua dimulai dengan cerita
-
Babak keempat dialog yang sudah
menceritakan konflik yang terdapat pada naskah tersebut
-
Babak kelima biasanya terdapat klimaks
dan sebuah penyelesaian pada cerita ynag terdapat pada naskah tersebut.
RUMUSAN MASALAH
1.
Mengapa Soleman dan Paijah bermain di
belakang Mat Kontan, yang pada dasarnya Mat Kontan adalah suami dari Paijah dan
sahabat baiknya Soleman?
2.
Hal apa yang melatar belakangi perselingkuhan
antara Paijah dan Soleman?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar