Selasa, 08 Oktober 2013

Regina Ramdhiani (2222112181)



TUGAS 1
MALAM JAHANAM

Penulis naskah             : Motinggo Busje
Tahun terbit                 : 1 Juni 1958 di Teluk Betung

ANATOMI PADA TEKS DRAMA
1.      Pengertian Drama
            Drama adalah sebuah genre sastra yang penampilan fisiknya memperlihatkan secara verbal adanya dialogue atau cakapan di anatara tokoh-tokoh yang ada. Drama juga secara eksplisit memperlihatkan adanya petunjuk pemanggungan yang akan memberikan gambaran tentang suasana, lokasi, atau apa yang dilakukan tokoh (Hall dalam Wahyudi, 2006: 104).
2.      Karakteristik Drama
Karakteristik pada teks drama ini menceritakan perselingkuhan sebagaimana adanya pada masa naskah drama ini ditulis, yaitu pada tahun 1950-an. Penggambaran keadaan nyata yang dapat dijadikan contoh oleh masyarakat. Penyebab dan dampak dari perselingkuhan Paijah dengan Soleman, kematian Mat Kontan Kecil yang tragis, dan keegoisan Mat Kontan yang berujung pada penyesalan yang teramat dalam, yang dapat dipelajari oleh masyarakat dan dipetik hikmah serta amanatnya
3.      Alur
Alur adalah rangkaian peristiwa yang satu sama lain dihubungkan dengan hukum sebab-akibat (Sumardjo, 1994: 139). Alur merupakan salah satu aspek penting dalam drama karena alur merupakan pembentuk kerangka cerita. Aristoteles bahkan menyatakan bahwa alur adalah roh drama (Sumardjo, 1994: 141). Alur Malam Jahanam adalah alur maju atau linear, yaitu peristiwa yang dialami oleh tokoh cerita tersusun menurut urutan waktu terjadinya (chronological order) secara berurutan. Alur ini berlangsung secara kontinyu dan memuncak.
Adapun dialog sebagai penjelas dari alur ini yang menerangkan salah satu alur dari alur
konflik dan klimaks yaitu :
Soleman          : Sayalah yang melakukannya!
Mat Kontan     : (berputar mengambil tempat ke dekat rumahnya) Jadi kenapa kau bunuh dia? Kau iri pada saya ya?
Soleman          : Ya, Saya iri!
Mat Kontan     : Memang benar tebakan saya tadi-tadi.
Soleman          : Ya! Saya iri pada semua yang kau punya. Pada uangmu. Pada binimu, pada anakmu, pada burungmu. Dan pada kesombongan kamu!
Mat Kontan     : Memang kau jahanam!
Soleman          : Memang saya jahanam. Tapi  kau juga jahanam (dan membalikan badan ke arah Paijah) kau juga jahanam. Dan burung itu juga jahanam! (lambat) Dan anak yang menangis itu juga jahanam!
Mat Kontan     : Kenapa kau hina anak saya ha?
Soleman          : Ia bukan anakmu!
4.      Latar
Latar adalah segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya peristiwa dalam suatu karya yang membangun cerita. Latar dibedakan atas dua macam yaitu latar sosial dan latar fisik atau material. Latar sosial mencakup penggambaran keadaan masyarakat, kelompok-kelompok sosial dan sikapnya, adat kebiasaan, cara hidup, dan bahasa. Latar fisik adalah tempat di dalam wujud fisiknya, yaitu ruang, bangunan, lokasi dan sebagainya.
Latar sosial dalam Malam Jahanam yaitu, lingkungan para pelayan yang hidup dalam serba berkecukupan. Latar fisik dalam drama Malam Jahanam yaitu di sebuah perkampungan nelayan.
5.      Tokoh dan Penokohan
Tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berlakuan di dalam berbagai peristiwa cerita.
Tokoh protagonis adalah tokoh yang memegang peran pimpinan atau tokoh utama dan menjadi pusat sorotan dalam kisahan. Tokoh antagonis adalah tokoh yang merupakan penentang utama dari protagonis. Tokoh sebagai peran pembantu juga merupakan tokoh penting yang cenderung dapat menggeser kedudukan tokoh utama. Peran pembantu adalah tokoh yang tidak sentral kedudukannya di dalam cerita tetapi kehadirannya sangat diperlukan untuk menunjang atau mendukung tokoh utama.
Tokoh protagonis dalam Malam Jahanam adalah Soleman sedangkan tokoh antagonisnya adalah Mat Kontan. Peran Paijah memegang peranan sebagai peran pembantu dan  Utai  Tukang Pijat adalah peran pembantu laki-laki.
6.      Nilai Drama yang Terkandung dalam Teks Drama
Amanat yang dapat kita petik disini adalah, seharusnya seorang istri setia kepada suaminya dalam keadaan apapun, dan seharusnya teman baik tidaklah mengkhianati kepercayaan yang telah dijungjung tinggi yang pada akhirnya akan memecah belahkan tali silatuhrahmi dari persahabatan yang telah dijalani begitu erat.






KONSTRUKSI PLOT
Sinopsis
Di sebuah perkampungan nelayan, tinggallah Mat Kontan beserta istri (Paijah) dan anaknya (Mat Kontan Kecil). Soleman, teman dekat Mat Kontan, tinggal di seberang rumah mereka. Suatu malam, Paijah menunggu suaminya yang belum juga pulang. Ia mengkhawatirkan anaknya yang sedang sakit. Akhirnya, Mat Kontan pulang membawa seekor burung. Saat mengobrol dengan Soleman di teras rumahnya, dia menyombongkan burung perkututnya yang baru, juga istri dan anaknya. Soleman yang tidak tahan mendengarnya mengungkit-ungkit ketakutan Mat Kontan ketika nyawanya hampir melayang karena terperosok ke dalam pasir. Mat Kontan yang ketakutan rahasianya dibongkar langsung berbaik-baik pada Soleman.
            Tak lama kemudian, Mat Kontan mulai menyombongkan diri lagi. Dia juga menuduh Soleman iri karena dia mempunyai istri yang cantik dan seorang anak. Soleman bahkan dianggap takut menyentuh perempuan karena sampai sekarang belum juga beristri.
            Mat Kontan masuk untuk melihat burung beo kesayangannya tapi tidak menemukannya. Utai, seorang warga kampung itu yang setengah pandir, mengaku pernah melihat bangkai burung tersebut di dekat sumur dengan leher tergorok. Mat Kontan yang jadi marah besar mengajak Utai menemaninya ke tukang nujum untuk mengetahui siapa pembunuhnya.
            Paijah yang ketakutan bertanya pada Soleman apa yang sebaiknya ia katakan bila ditanya oleh Mat Kontan nanti. Ternyata, Solemanlah yang membunuh burung beo kesayangan Mat Kontan agar perselingkuhannya dengan Paijah tidak ketahuan. Soleman berjanji akan melindungi Paijah.
            Mat Kontan segera pulang karena tukang nujum yang hendak ditemuinya sudah meninggal. Dia pun marah-marah pada Paijah, bertanya siapa yang membunuh burung beonya. Paijah balas mengungkapkan kekesalannya pada Mat Kontan yang tidak pernah memikirkan dan menyayangi dirinya dan anaknya tapi
            Awalnya, Soleman membela Paijah dari amarah Mat Kontan. Lama-lama Soleman diam saja. Paijah kecewa pada Soleman dan mengaku sebagai pembunuh burung beo Mat Kontan. Soleman pun mengaku bahwa dialah pembunuh burung beo Mat Kontan dan bahwa dialah ayah dari anak Paijah, anak yang selama ini Mat Kontan bangga-banggakan sebagai anaknya. Mat Kontan marah dan mengangkat goloknya. Soleman membuat Mat Kontan takut lagi dengan mengingatkannya tentang saat dia terperosok ke dalam pasir. Mat Kontan pergi dan menyerahkan Paijah serta anaknya pada Soleman. Soleman menyusul Mat Kontan yang dikiranya hendak bunuh diri. Ternyata, Mat Kontan dan Utai sudah menunggu untuk membunuhnya. Soleman berhasil meloloskan diri dan pergi ke stasiun kereta api. Utai mati karena ditendang oleh Soleman. Mat Kontan kembali ke rumahnya dan masih mau hidup dengan Paijah serta anak Soleman. Dia bahkan mulai memerhatikan anak itu dan pergi memanggil dukun untuk mengobati penyakitnya. Sayangnya, malam itu juga si bayi meninggal dunia.

Pada teks naskah Malam jahanam ini terdapat kosntruksi plot yang berlangsung seru. Dalam artian teks drama ini berlangsung kontinyu, karena cerita dalam naskah drama ini bertahap dari cerita yang mendasar yaitu :
-konflik,
-klimaks dan
-penyelesaian.
Disini terdapat adanya konflik yang timbul dari tokoh Mat Kontan dan Soleman yang diceritakan adalah dua orang yang pria yang berteman karena rumah bereka berdekatan dan sudah mengenal satu sama lain. Namun hal ini tidak seperti yang kita ketahui, terdapat satu masalah awal dengan dituduhnya Soleman iri kepada Mat Kontan yang mempunyai istri cantik dan seorang  anak.
Hal ini terdapat pada kutipan dialog :
Soleman          : Ya, Saya iri!
Mat Kontan     : Memang benar tebakan saya tadi-tadi.
Soleman          : Ya! Saya iri pada semua yang kau punya. Pada uangmu. Pada binimu, pada anakmu, pada burungmu. Dan pada kesombongan kamu!
Pada akhirnya terdapat klimaks yang sangat besar yang terjadi pada teks drama ini, yaitu Soleman lah yang membunuh burung Mat Kontan, dan Soleman lah ayah dari anak Mat Kontan. Hal ini terjadi karena kekesalan Soleman kepada Mat Kontan yang tidak memperhatikan istri dan anaknya dan selalu sibuk dengan burung yang Mat Kontan pelihara.
Hal ini terdapat pada kutipan dialog :
Soleman          : Sayalah yang melakukannya!
Mat Kontan     : (berputar mengambil tempat ke dekat rumahnya) Jadi kenapa kau bunuh dia? Kau iri pada saya ya?
Soleman          : Ya, Saya iri!
Mat Kontan     : Memang benar tebakan saya tadi-tadi.
Soleman          : Ya! Saya iri pada semua yang kau punya. Pada uangmu. Pada binimu, pada anakmu, pada burungmu. Dan pada kesombongan kamu!
Mat Kontan     : Memang kau jahanam!
Soleman          : Memang saya jahanam. Tapi  kau juga jahanam (dan membalikan badan ke arah Paijah) kau juga jahanam. Dan burung itu juga jahanam! (lambat) Dan anak yang menangis itu juga jahanam!
Mat Kontan     : Kenapa kau hina anak saya ha?
Soleman          : Ia bukan anakmu!

            Cerita memiliki akhir yan berujung penyelesaian. Pada akhir cerita ini, Soleman berhasil meloloskan diri dan pergi ke stasiun kereta api. Utai mati karena ditendang oleh Soleman. Mat Kontan kembali ke rumahnya dan masih mau hidup dengan Paijah serta anak Soleman. Dia bahkan mulai memerhatikan anak itu dan pergi memanggil dukun untuk mengobati penyakitnya. Sayangnya, malam itu juga si bayi meninggal dunia.

TUGAS 2
MENGANALISIS STRUKTUR
1.      Judul
Judul adalah masalah yang utama dari sebuah karangan dalam sebuah karya, dengan adanya judul kita bisa leluasa melantujkan pada tahap selanjutnya dalam membuat sebuah karya tulis.
Malam Jahanam adalah sebuah judul yang di tulis oleh Motinggo Busje pada 1 Juni 1958 di Teluk Betung. Judul ini tepat sekali dipergunakan untuk sebuah naskah drama yang mengacu pada sebuah kejadian yang terjadi pada malam tersebut, yaitu paijah yang berselngkuh dengan sahabat baikdari suaminya yang menghasilkan seorang anak dan menimbulkan pertikaian yang sangat dramatis.
2.      Dialog
Dialog merupakan kata atau kalimat yang diucapkan oleh tokoh dalam naskah drama. Dialog merupakan salah satu hal penting dalam sebuah karya dalam bentuk naskah drama. Dengan adaanya dialog, kita bisa tahu adanya jalan cerita yang diceritakan pada karya tersebut.
Dalam dialog pada naskah Malam Jahanam ini sangat jelas sekali terlihat alur yang sangat asik dan membuat penasaran. Dari dialog Mat kontan dan Soleman sangat frontal dengan kalimat yang di ujarkan, kutipan dialognya sebagai berikut :
Soleman          : Sayalah yang melakukannya!
Mat Kontan     : (berputar mengambil tempat ke dekat rumahnya) Jadi kenapa kau bunuh dia? Kau iri pada saya ya?
Soleman          : Ya, Saya iri!
Mat Kontan     : Memang benar tebakan saya tadi-tadi.
Soleman          : Ya! Saya iri pada semua yang kau punya. Pada uangmu. Pada binimu, pada anakmu, pada burungmu. Dan pada kesombongan kamu!
Mat Kontan     : Memang kau jahanam!
Soleman          : Memang saya jahanam. Tapi  kau juga jahanam (dan membalikan badan ke arah Paijah) kau juga jahanam. Dan burung itu juga jahanam! (lambat) Dan anak yang menangis itu juga jahanam!
Mat Kontan     : Kenapa kau hina anak saya ha?
Soleman          : Ia bukan anakmu!

      Dengan adaanya dialog, kita bisa tahu secara keseluruhan dari cerita tersebut, mulai dari
perwatakan tokoh sampai jalan cerita yang seperti apa yang diusung oleh pengarang tersebut.
3.      Pembagian Babak
Sesuatu hal yang penting selanjutnya adalah babak. Babak merupakan hal yang penting sebagai pembentuk dari jalannya sebuah cerita dari naskah drama. Babak dalam sebuah naskah drama bisa dilihat dari setting tempat atau setting waktu, adapun yang lain babak bisa di bagi menjadi lima babak yang terdiri dari :
-          Babak pertama biasanya terdapat pada prolog yang ada pada awal sebuah naskah drama
-          Babak kedua dimulai dengan cerita
-          Babak keempat dialog yang sudah menceritakan konflik yang terdapat pada naskah tersebut
-          Babak kelima biasanya terdapat klimaks dan sebuah penyelesaian pada cerita ynag terdapat pada naskah tersebut.
RUMUSAN MASALAH
1.      Mengapa Soleman dan Paijah bermain di belakang Mat Kontan, yang pada dasarnya Mat Kontan adalah suami dari Paijah dan sahabat baiknya Soleman?
2.      Hal apa yang melatar belakangi perselingkuhan antara Paijah dan Soleman?




Tidak ada komentar:

Posting Komentar