NAMA : ARI
SULISTIARI
NIM : 2222112335
KELAS : V D
MATA
KULIAH :
KAJIAN DRAMA INDONESIA
TUGAS 1
ANALISIS KONSTRUKSI PLOT DALAM
NASKAH DRAMA MALAM JAHANAM.
ALUR : Sebuah Kesederhanaan
dan Daya Surprise Yang Tinggi
Berbicara
tentang struktur, setiap karya sastra apapun genrenya pastilah mempunyai
struktur dan dapat dikatakan mempunyai struktur yang sama. Meskipun ada
perbedaan, perbedaan tersebut hanya pada beberapa hal saja yang berkaitan
dengan kekhasan dari genre tersebut. Alur merupakan unsur drama yang dapat
mengungkapkan peristiwa-peristiwa melalui jalinan cerita yang berupa
elemen-elemen yang dapat membangun satu rangkaian cerita. Seperti pada genre
drama yang memiliki kekhasan dibandingkan dengan genre yang lain. Drama
mempunyai banyak keterbatasan dibanding karya sastra lain, seperti keterbatasan
untuk memunculkan suatu objek sesuai dengan imajinasi yang diinginkan dan
sebagainya yang berhubungan dengan pementasan khususnya. Dalam drama lebih
didominasi oleh unsur dialog dan unsur-unsur yang lain yang berhubungan dengan
pemanggungan atau pementasan. Hal tersebut memang menjadi sangat berterima
mengingat naskah drama dihasilkan pastilah mempunyai orientasi akhir pada suatu
pementasan. Sehingga dapat dikatakan bahwa suatu naskah drama haruslah
applicable atau dapat diaplikasikan dalam suatu pertunjukan. Dilihat dari
strukturnya, naskah drama Malam Jahanam ini mempunyai kekuatan pada strukturnya
dan bahkan dapat dikatakan sangat baik. Selain itu juga memiliki daya aplikasi
yang kuat dalam suatu pementasan. Alur Malam Jahanam adalah alur maju
atau linear, yaitu peristiwa yang dialami oleh tokoh cerita tersusun menurut
urutan waktu terjadinya (chronological order) secara berurutan. Alur
ini berlangsung secara kontinyu dan memuncak. Selain itu variasi alurnyapun
tidak terlalu rumit bahkan dapat dikatakan sederhana. Alur drama mestilah
sederhana dan singkat, dalam arti ia tak boleh berputar-putar ke mana-mana.
Walaupun begitu, dari alur yang sederhana itu Motinggo Busye mampu menghadirkan
suatu dunia yang cukup hidup. Pengarang juga mampu menghadirkan konflik yang
menarik dan sangat jitu dalam menghadirkan realisme kehidupan kampung nelayan
yang dipilihnya untuk menjadi latar dari cerita tersebut.
Beberapa
konflik ‘naik turun’ juga diterapkan Motinggo Busye dalam naskahnya ini.
Ketegangan yang dimunculkan pada tokoh Mat Kontan, Soleman dan Paijah beberapa
kali menunjukan perubahan tekanan permainan. Ketika Mat Kontan menjumpai bahwa
burung beo kesayangannya mati, dia menampakan kemarahannya yang menjadikan
ketegangan dramatik (dramatic tension) mulai menanjak. Selain itu pada adegan
ini juga ditambah dengan kegelisahan pula pada tokoh Paijah dan Soleman yang
turut andil dalam pembunuhan burung beo milik Mat Kontan. Namun pengarang cukup
tepat ketika tokoh Mat Kontan yang pergi ke tukang nujum dengan tujuan
mengetahui siapa pembunuh burungnya itu pulang tanpa hasil karena dukun yang
didatanginya sudah meninggal. Konflik yang sudah mulai naik terlihat turun
kembali.
Akan tetapi dari konflik yang sedikit menurun itulah pengarang justru mampu menghadirkan konflik yang lebih menarik. Mat Kontan semakin mendesak Paijah untuk mengatakan siapa pelakunya. Akhirnya Soleman mengakui bahwa dialah yang membunuh burung beo tersebut. Setelah itu muncul pula persoalan-persoalan yang lain terutama masalah anak. Mat Kontan akhirnya mengetahui kalau Si Kontan Kecil bukanlah anaknya walaupun berasal dari rahim istrinya sendiri. Bagian akhir dari cerita ini juga memunculkan banyak kejutan. Alur cerita yang dihadirkan tidak mudah ditebak.
Akan tetapi dari konflik yang sedikit menurun itulah pengarang justru mampu menghadirkan konflik yang lebih menarik. Mat Kontan semakin mendesak Paijah untuk mengatakan siapa pelakunya. Akhirnya Soleman mengakui bahwa dialah yang membunuh burung beo tersebut. Setelah itu muncul pula persoalan-persoalan yang lain terutama masalah anak. Mat Kontan akhirnya mengetahui kalau Si Kontan Kecil bukanlah anaknya walaupun berasal dari rahim istrinya sendiri. Bagian akhir dari cerita ini juga memunculkan banyak kejutan. Alur cerita yang dihadirkan tidak mudah ditebak.
Unsur-unsur
alur dalam drama ada tiga (Sumardjo, 1994: 141), yaitu:
1. Unsur ketegangan (suspense)
Ketidakpastian
yang berkepanjangan dan semakin menjadi-jadi akan menimbulkan ketegangan.
Adanya ketegangan dalam drama menumbuhkan dan memelihara rasa ingin tahu
penonton dari awal sampai akhir suatu cerita.
Dalam
drama Malam Jahanam, terlihat unsur ketegangan dan unsur dadakan. Unsur
ketegangan terjadi ketika Soleman mengaku kepada Mat Kontan bahwa dialah yang
membunuh burung beo dan bahwa Mat Kontan Kecil adalah anak kandungnya.
Soleman :
Sayalah yang melakukannya!
Mat Kontan : (berputar mengambil tempat ke dekat rumahnya)
Jadi kenapa kau bunuh dia? Kau iri pada saya ya?
Soleman
: Ya, Saya iri!
Mat
Kontan : Memang benar tebakan saya tadi-tadi.
Soleman
:Ya! Saya iri pada semua yang kau punya. Pada uangmu. Pada binimu, pada anakmu,
pada burungmu. Dan pada kesombongan kamu!
Mat
Kontan : Memang kau jahanam!
Soleman :Memang saya jahanam. Tapi kau juga
jahanam (dan membalikan badan ke arah Paijah) kau juga jahanam. Dan burung itu
juga jahanam! (lambat) Dan anak yang menangis itu juga jahanam!
Mat
Kontan : Kenapa kau hina anak saya ha?
Soleman
: Ia bukan anakmu!
2. Unsur dadakan (surprise)
Unsur
dadakan akan menyusun cerita sedemikian rupa hingga muncul dugaan-dugaan yang
tidak disangka-sangka oleh pembaca dan mengagetkan.
Unsur
dadakan dalam drama Malam Jahanam terlihat ketika Soleman mengaku kepada
Paijah bahwa dialah yang membunuh burung beo milik Mat Kontan. Pengakuan
Soleman membuat kejutan atau dadakan bagi pembacanya.
Soleman
: Mungkin saya juga, Jah. Sekarang saya lebih baik mengaku saja (mereka kini
saling berpandang). Saya juga punya takut (diam). Mungkin juga Nabi. Tapi Jah,
saya bunuh beo itu karena binatang jahanam itu telah menyiksa saya!
Paijah
: (terkejut mendengar berita baru itu)
Apa? Kau bunuh? Kau yang memotong lehernya?
3. Unsur ironi dramatic
Unsur ini
membentuk pernyataan-pernyataan atau perbuatan-perbuatan tokoh cerita yang
seakan-akan meramalkan apa yang akan terjadi.
Mat Kontan semakin mendesak Paijah untuk mengatakan
siapa pelakunya. Akhirnya Soleman mengakui bahwa dialah yang membunuh burung
beo tersebut. Setelah itu muncul pula persoalan-persoalan yang lain terutama
masalah anak. Mat Kontan akhirnya mengetahui kalau Si Kontan Kecil bukanlah
anaknya walaupun berasal dari rahim istrinya sendiri.
TUGAS 2
MALAM JAHANAM SUATU REALISME YANG
TERKUAK
EKSPOSISI
Sesuai dengan
salah satu karakteristik drama realis, Malam Jahanam tidak memperindah maupun
memperburuk sesuatu dari keadaan sebenarnya. Drama ini menceritakan
perselingkuhan sebagaimana adanya pada masa naskah drama ini ditulis, yaitu
pada tahun 1950-an. Malam Jahanam juga menyampaikan perselingkuhan ini ke
permukaan tanpa menutupi kebenaran yang terjadi di sekitarnya. Motinggo Busye
dengan jujur mengemukakan bagaimana tanggapan masyarakat saat itu dan reaksi
orang-orang yang berhubungan dengan perselingkuhan ini.
Drama ini
merupakan penggambaran keadaan nyata yang dapat dijadikan contoh oleh
masyarakat. Penyebab dan dampak dari perselingkuhan Paijah dengan Soleman,
kematian Mat Kontan Kecil yang tragis, dan keegoisan Mat Kontan dapat
dipelajari oleh masyarakat dan dipetik hikmah serta amanatnya. Dengan demikian,
Malam Jahanam
dapat digunakan untuk kepentingan masyarakat. Pengolahan situasinya sangat
cermat menuju peristiwa berikutnya. Sebab-akibat antarperistiwa terlihat jelas.
Contohnya adalah pada adegan ke-5 Soleman meminta diceritakan tentang perkutut
atau beo saja daripada tentang Paijah dan Mat Kontan Kecil yang membuatnya
kesal. Oleh karena itu, Mat Kontan teringat pada burung beo yang sudah
dilupakannya selama dua hari. Mat Kontan tidak dapat menemukan burung tersebut.
Pencarian burung beo ini pada akhirnya mengungkapkan perselingkuhan Soleman
dengan Paijah.
Suspense atau unsur ketegangan dalam naskah Malam Jahanam muncul
secara tak terduga dan berbalik menurut logika. Pembaca mungkin terkejut ketika
Soleman mengatakan bahwa Mat Kontan Kecil adalah anaknya. Akan tetapi, setelah
mengingat-ingat atau membaca kembali bagian awal Malam Jahanam saat Mat Kontan
mengatakan bahwa dulu dia sering diolok-olok mandul oleh teman-temannya,
pembaca tersadar bahwa pernyataan Soleman itu masuk akal dan menurut logika.
Plot Malam Jahanam berlangsung
kontinyu dan memuncak. Alurnya maju, tidak ada flashback, tidak ada plot
sampingan, dan tidak ada adegan yang tidak penting maupun yang tidak relevan.
Ketegangan terus memuncak. Penanda-penanda yang paling jelas adalah amarah Mat
Kontan dan ketakutan Paijah yang semakin lama semakin meninggi. Resolusi atau
pemecahan akhir, yaitu kematian Mat Kontan Kecil, terjadi secara logis dan
meyakinkan. Bayi itu sudah sakit sejak drama dimulai, tapi baru pada akhir
cerita Mat Kontan pergi mencari dukun untuk mengobatinya. Hal ini membuat
pembaca teriris hatinya dan khawatir kemungkinan terburuk terjadi pada bayi
itu. Tiba-tiba tangisnya terhenti. Kekhawatiran pembaca menjadi kenyataan. Paijah
keluar rumah sambil berteriak-teriak mengatakan kalau anaknya sudah mati.
KONFLIK
Dalam
naskah drama Malam Jahanam ini terdapat beberapa konflik yang terjadi yaitu
pada Soleman mengakui bahwa Soleman lah yang membunuh burung beo milik Mat
Kontan dan pengakuan Soleman tentang status anak dari Mat kontan yang melainkan
anak hasil perselingkuhan antara Paijah dan Soleman. Terdapat pada kutipan
berikut,
SOLEMAN
Sayalah
yang membunuh burung beo itu!
(berjalan lambat mendekati Mat Kontan. Mat
Kontan (memandangi agak takut)
Sayalah
yang melakukannya!
MAT KONTAN (berputar mengambil tempat dekat
rumahnya)
Jadi
kenapa kau bunuh dia? Kau iri pada saya ya?
SOLEMAN
Ya, saya
iri!
MAT KONTAN
Memang
benar tebakan saya tadi.
SOLEMAN
Ya! Saya
iri pada semua yang kau punyai. Pada
uangmu, pada binimu, pada anakmu, pada burungmu. Dan pada kesombongan kamu!
MAT KONTAN
Memang
kau jahanam!
SOLEMAN
Memang
saya jahanam. Tapi kau juga jahanam (dan
membalikan badan kearah paijah) Kau juga jahanam. Dan burung itu juga
jahanam! (lambat) dan anak yang
menangis itu juga jahanam.
MAT KONTAN
Kenapa
kau hina anak saya ha?
SOLEMAN
Ia bukan
anakmu!
MAT KONTAN
Apa
katamu?
PAIJAH
Soleman!
SOLEMAN
Sekarang
kau jangan banyak omong. Jah, malam ini malam yang menentukan kita semuanya.
Ya, si Kontan kecil itu memang bukan anakmu, Mat!
MAT KONTAN
Anak
siapa coba?
SOLEMAN
BERJALAN LAMBAT MENUJU KETEMPAT KELAM, SUARANYA SEPAROH MENGAMBANG
SOLEMAN
Saya
percaya, kau sendiri belum yakin selama ini bahwa ia itu anakmu. Kau sering
menebarkan berita setelah anakmu lahir kemana saja untuk menutupi hal itu. Hal,
bahwa sebenarnya kau bukan lelaki. (membalik
badan dengan cepat). Dan itu menyakitkan hati saya, sebab kesombongan yang
satu ini bukan kau punya dengan syah. Dan saya juga tidak bisa mempunyainya
dengan syah. Sebab surat nikah ada di tangan kau, Kontan.
(Soleman lalu duduk di bangku mat kontan)
Bangku
ini juga jahanam! Karena Paijah sering duduk di sini terkadang sampai malam.
Dan saya duduk di sana (menunjuk
bangkunya) Kami saling memandang ( kepada
kontan). Kenapa kau sering tak di rumah, Tan? Itu juga perbuatan yang
jahanam.
MAT KONTAN
Sekarang
jawab saja dengan pendek, jangan bikin saya botak. Anak itu anak siapa?
SOLEMAN
BERDIRI
PAIJAH (setengah menangis)
Jangan
kau bilang Man!
SOLEMAN (berjalan mendekati kontan
dengan pandangan yang mencekam pada paijah)
Akan
saya jawab. Kau rela? (pendek lambat)
Anak itu anak saya dari darah daging saya!
KLIMAKS
Titik klimaks yang terjadi
dalam naskah drama ini yaitu pada saat soleman mengaku bahwa yang membunuh
burung beo Mat kontan dan menceritakan bahwa anak dari paijah adalah anaknya,
sehingga Mat Kontan naik pitam dan mengajak berkelahi Soleman. Padi akhir cerita
ternyata si Utai lah yang menjadi korban dari konflik antara mat Kontan,
Soleman dan Paijah. Utai mati ditendang oleh Soleman akibat memegangi soleman,
tapi soleman berhasil melarikan diri. Nasib sial masih berpihak kepada Mat
Kontan, setelah soleman berhasil lolos ternyata anak Mat Kontanpun telah
meninggal dunia akibat penyakit yang dideritanya. Seperti kutipan dibawah ini,
SOLEMAN
MUNCUL KEMBALI DAN KELUAR, TERDENGAN SUARA TAWA DARI KEGELAPAN. MAT KONTAN
DENGAN GOLOKNYA BERSAMA UTAI. KETIKA MAKIN DEKAT SOLEMAN MELIHATNYA DENGAN
GELISAH DAN GUGUP MEMANDANG GOLOK YANG TADI DIBANTINGNYA KE TANAH
MAT KONTAN (tertawa)
Ha! Kau kira saya mau begitu saja meniyerahkan
bini saya buat kamu? Hei, ajudan kecil bagaimana?
UTAI
Terus! Pukul saja!
MAT KONTAN
Kau kira siapa saya? Kau kira bisa ke Jawa
begini malam? Kau kira kapan saya pulang ibu bapak saya tidak akan membawa anak
bini? Kau kira saya juga tak kepingin senang dengan keluarga?
UTAI
Terus! Bacok saja!
MAT KONTAN
Nanti dulu Tai! Biar kita lihat dia ketakutan.
UTAI
Jangan biarkan dia lari.
MAT KONTAN
Hadang sana (kepada soleman) saya ke pantai spesial mengasah golok Cibatu ini
buat diasah di kepalamu yang penuh najis itu! Dan saya melaporkan bahwa kau
berpelukan dengan Paijah, huh!
SOLEMAN
MELIHAT UTAI MENGAMBIL GOLOK YANG DI TANAH. PAIJAH MUNCUL DI PINTU TAPI MASUK
KEMBALI. SEMUA MENDENGAR SUARA KERETA APAI MENDERU MAKIN MENDEKAT. SOLEMAN
MENCARI KELUAR. TIBA-TIBA IA SUDAH MELOMPAT SAJA KESAMPING UATAI DAN
MENGHILANG. UTAI MEMBURU DISUSUL OLE MAT KONTAN, KETIGANYA TELAH TERTELAN GELAM
MALAM.
PAIJAH
YANG MUNCUL DIPINTU MENAHANTANGISNYA. KEPALA ANAKNYA TERUS DIUSAPNYA BIARPUN SI
ANAK TERUS MENANGIS. SUARA UBRUK DI KEJAUHAN MAKIN KERAS, TAPI KEMUDIAN
SEPI KETIKA TAWA MAT KONTA SEMAKIN
MENDEKAT. PAIJAH MENCOBA MENABAHKAN KETAKUTANNYA
MAT KONTAN (nafasnya masih terengah)
Jah!
PAIJAH (heran)
Tan! Jangan bunuh kami, Tan!
MAT KONTAN (menggeleng)
Bodoh saya kalau membunuh kau dan anak ini (didekapnya bininya) Jah! (ia menangis) Kau tahu Jah? Kau tahu si
Utai patah lehernya?
PAIJAH
Ha?
MAT KONTAN
Ia ditendang soleman jahanam itu ketika Utai
menangkapnya. Tapi Soleman selamat sampai ke gerbong kereta api. Jahanam itu
selamat. Saya sempat memukul kepalanya dua kali, Jah. Ia selamat, Ia lolos,
Jah. Tapi pikirannya akan selalu diburu!
(bayi menangis)
Bawa ke dalam nanti masuk angin lagi!
(Paijah heran memandangi mat kontan)
Kenapa kau lihat saya seperti itu? Apa saya
ini macan?
PAIJAH
Si Utai, Tan.
MAT KONTAN
Apa boleh buat dia mati. Kalau hidup tentu ia
akan menyebarkan berita kerusuhan kita ini. Kita mesti rahasiakan ini, Jah!
DARI
JAUH KALENG SUSU TUKANG PIJAT JELAS MENDEKAT. IA MUNCUL KETIKA PAIJAH MEMBAWA
BAYINYA MASUK
MAT KONTAN
Jangan bikin ribut! Anak saya makin sakit!
TUKANG PIJAT
Tan! Kau dicari-cari orang, Tan. Si Utai mati
kau tahu?
MAT KONTAN
Ssssst! Jangan berisik. Saya mau pergi mencari
dukun.
TUKANG PIJAT
Kabarnya Soleman berkelahi dengan kamu tadi
ya? Soal apa?
MAT KONTAN (makin jauh akan pergi)
Dia mencuri burung saya dan uang saya. Ssssst.
Jangan berisik...........(menghilang)
TUKANG PIJAT
Punya anak satu kayak selusin saja.
Kontaaaaaan, Kontaaaan
IA TERCENUNG MELIHAT MAT KONTAN MAKIN JAUH
TANGIS BAYI YANG MAKIN MENINGGI MENYEBABKAN
TUKANG PIJAT ITU MENDEKAT. TAPI KEMUDIAN TANGIS ITU TERHENTI DI DALAM
PUNCAKNYA. TERDENGAR RAUNG PEREMPUAN DI DALAM. KEMUDIAN PINTU TERHEMPAS
KELUARLAH PAIJAH DALAM RAMBUT KUSUT MASAI. HAMPIR MENABRAK TUKANG PIJAT. TANGIS
PAIJAH TERDEKAM KE DADANYA. BERHENTI IA MENANGIS DARI TEMPAT KELAM ITU. LAMBAT
IA BERJALAN MENUJU TUKANG PIJAT, SETENGAH BERTERIAK.
PAIJAH
.......Pak!
Anakku mati Pak!
SITUA
BELUM SEMPAT BERTANYA, PEREMPUAN ITU MELARIKAN DIRI KE ARAH MAT KONTAN TELAH
MENGHILANG.
ANTI KLIMAKS
Dalam
naskah drama Malam jahanam karya Motinggo Busye ini sebenarnya tidak ada
antiklimaks, dikarenakan alur yang digunakan ialah alur maju, jadi semua cerita
yang terdapat dalam naskah ini tidak ada yang flashback atau kemerosotan suatu
cerita hingga mencapai taraf yang tidak berarti dan amat mengecewakan, sangat
berlawanan dengan kemajuan atau kehebatan yang telah di capai sebelumnya.
SOLUSI
Perlu
diketahui bahwa pembuatan naskah drama memerlukan suatu kejelian dalam dirio
seorang pengarang. Kejelian itu lah yang telah diwujudkan oleh seorang Motinggo
Busye hingga mampu menghasilkan sebuah Malam Jahanam yang sangat berkualitas.
Semoga beberapa kajian ini dapat menjadi sebuah gambaran yang akan mematik
minat pembaca untuk mengaktualisasikan naskah drama ini dalam suatu pementasan.
Masih banyak hal-hal lain yang masih belum tersentuh oleh kajian ini yang perlu
dikaji lebih mendalam dan dengan kajian yang lebih mutakhir. Malam jahanam akan
tetap menjadi Malam Jahanam namun yang paling penting adalah usaha dalam diri
kita agar tidak terjerumus kedalam dunia yang gelap dan jahanam.
RUMUSAN MASALAH
Dari beberapa penjabaran di
atas maka timbulah beberapa permasalahan yaitu:
1. Adakah
protes sosial pada naskah drama Malam Jahanam karya Motinggo Busye ini?
2. Bagaimanakah
aspek moral yang terkandung dalam naskah Malam jahanam?
3. Adakah
aspek moral Ketuhanan yang tekandung dalam naskah drama Malam Jahanam ini?
4. Adakah
Aspek kenegaraan yang terkandung dalam naskah drama ini?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar