Selasa, 08 Oktober 2013

Ari Sulistiari (2222112335)



NAMA                  :   ARI SULISTIARI
NIM                       :   2222112335
KELAS                  :   V  D
MATA KULIAH  :   KAJIAN DRAMA INDONESIA

TUGAS 1
ANALISIS KONSTRUKSI PLOT DALAM NASKAH DRAMA MALAM JAHANAM.

ALUR : Sebuah Kesederhanaan dan Daya Surprise Yang Tinggi
Berbicara tentang struktur, setiap karya sastra apapun genrenya pastilah mempunyai struktur dan dapat dikatakan mempunyai struktur yang sama. Meskipun ada perbedaan, perbedaan tersebut hanya pada beberapa hal saja yang berkaitan dengan kekhasan dari genre tersebut. Alur merupakan unsur drama yang dapat mengungkapkan peristiwa-peristiwa melalui jalinan cerita yang berupa elemen-elemen yang dapat membangun satu rangkaian cerita. Seperti pada genre drama yang memiliki kekhasan dibandingkan dengan genre yang lain. Drama mempunyai banyak keterbatasan dibanding karya sastra lain, seperti keterbatasan untuk memunculkan suatu objek sesuai dengan imajinasi yang diinginkan dan sebagainya yang berhubungan dengan pementasan khususnya. Dalam drama lebih didominasi oleh unsur dialog dan unsur-unsur yang lain yang berhubungan dengan pemanggungan atau pementasan. Hal tersebut memang menjadi sangat berterima mengingat naskah drama dihasilkan pastilah mempunyai orientasi akhir pada suatu pementasan. Sehingga dapat dikatakan bahwa suatu naskah drama haruslah applicable atau dapat diaplikasikan dalam suatu pertunjukan. Dilihat dari strukturnya, naskah drama Malam Jahanam ini mempunyai kekuatan pada strukturnya dan bahkan dapat dikatakan sangat baik. Selain itu juga memiliki daya aplikasi yang kuat dalam suatu pementasan. Alur Malam Jahanam adalah alur maju atau linear, yaitu peristiwa yang dialami oleh tokoh cerita tersusun menurut urutan waktu terjadinya (chronological order) secara berurutan. Alur ini berlangsung secara kontinyu dan memuncak. Selain itu variasi alurnyapun tidak terlalu rumit bahkan dapat dikatakan sederhana. Alur drama mestilah sederhana dan singkat, dalam arti ia tak boleh berputar-putar ke mana-mana. Walaupun begitu, dari alur yang sederhana itu Motinggo Busye mampu menghadirkan suatu dunia yang cukup hidup. Pengarang juga mampu menghadirkan konflik yang menarik dan sangat jitu dalam menghadirkan realisme kehidupan kampung nelayan yang dipilihnya untuk menjadi latar dari cerita tersebut.
Beberapa konflik ‘naik turun’ juga diterapkan Motinggo Busye dalam naskahnya ini. Ketegangan yang dimunculkan pada tokoh Mat Kontan, Soleman dan Paijah beberapa kali menunjukan perubahan tekanan permainan. Ketika Mat Kontan menjumpai bahwa burung beo kesayangannya mati, dia menampakan kemarahannya yang menjadikan ketegangan dramatik (dramatic tension) mulai menanjak. Selain itu pada adegan ini juga ditambah dengan kegelisahan pula pada tokoh Paijah dan Soleman yang turut andil dalam pembunuhan burung beo milik Mat Kontan. Namun pengarang cukup tepat ketika tokoh Mat Kontan yang pergi ke tukang nujum dengan tujuan mengetahui siapa pembunuh burungnya itu pulang tanpa hasil karena dukun yang didatanginya sudah meninggal. Konflik yang sudah mulai naik terlihat turun kembali.
Akan tetapi dari konflik yang sedikit menurun itulah pengarang justru mampu menghadirkan konflik yang lebih menarik. Mat Kontan semakin mendesak Paijah untuk mengatakan siapa pelakunya. Akhirnya Soleman mengakui bahwa dialah yang membunuh burung beo tersebut. Setelah itu muncul pula persoalan-persoalan yang lain terutama masalah anak. Mat Kontan akhirnya mengetahui kalau Si Kontan Kecil bukanlah anaknya walaupun berasal dari rahim istrinya sendiri. Bagian akhir dari cerita ini juga memunculkan banyak kejutan. Alur cerita yang dihadirkan tidak mudah ditebak.
Unsur-unsur alur dalam drama ada tiga (Sumardjo, 1994: 141), yaitu:
1.      Unsur ketegangan (suspense)
Ketidakpastian yang berkepanjangan dan semakin menjadi-jadi akan menimbulkan ketegangan. Adanya ketegangan dalam drama menumbuhkan dan memelihara rasa ingin tahu penonton dari awal sampai akhir suatu cerita.
Dalam drama Malam Jahanam, terlihat unsur ketegangan dan unsur dadakan. Unsur ketegangan terjadi ketika Soleman mengaku kepada Mat Kontan bahwa dialah yang membunuh burung beo dan bahwa Mat Kontan Kecil adalah anak kandungnya.
Soleman         : Sayalah yang melakukannya!
Mat Kontan    :  (berputar mengambil tempat ke dekat rumahnya) Jadi kenapa kau bunuh dia? Kau iri pada saya ya?
Soleman          : Ya, Saya iri!
Mat Kontan     : Memang benar tebakan saya tadi-tadi.
Soleman          :Ya! Saya iri pada semua yang kau punya. Pada uangmu. Pada binimu, pada anakmu, pada burungmu. Dan pada kesombongan kamu!
Mat Kontan     : Memang kau jahanam!
Soleman     :Memang saya jahanam. Tapi  kau juga jahanam (dan membalikan badan ke arah Paijah) kau juga jahanam. Dan burung itu juga jahanam! (lambat) Dan anak yang menangis itu juga jahanam!
Mat Kontan     : Kenapa kau hina anak saya ha?
Soleman          : Ia bukan anakmu!


2.      Unsur dadakan (surprise)
Unsur dadakan akan menyusun cerita sedemikian rupa hingga muncul dugaan-dugaan yang tidak disangka-sangka oleh pembaca dan mengagetkan.
Unsur dadakan dalam drama Malam Jahanam terlihat ketika Soleman mengaku kepada Paijah bahwa dialah yang membunuh burung beo milik Mat Kontan. Pengakuan Soleman membuat kejutan atau dadakan bagi pembacanya.
Soleman          : Mungkin saya juga, Jah. Sekarang saya lebih baik mengaku saja (mereka kini saling berpandang). Saya juga punya takut (diam). Mungkin juga Nabi. Tapi Jah, saya bunuh beo itu karena binatang jahanam itu telah menyiksa saya!
Paijah              :   (terkejut mendengar berita baru itu) Apa? Kau bunuh? Kau yang memotong lehernya?

3.      Unsur ironi dramatic
Unsur ini membentuk pernyataan-pernyataan atau perbuatan-perbuatan tokoh cerita yang seakan-akan meramalkan apa yang akan terjadi.
Mat Kontan semakin mendesak Paijah untuk mengatakan siapa pelakunya. Akhirnya Soleman mengakui bahwa dialah yang membunuh burung beo tersebut. Setelah itu muncul pula persoalan-persoalan yang lain terutama masalah anak. Mat Kontan akhirnya mengetahui kalau Si Kontan Kecil bukanlah anaknya walaupun berasal dari rahim istrinya sendiri.













TUGAS 2
MALAM JAHANAM SUATU REALISME YANG TERKUAK

EKSPOSISI
Sesuai dengan salah satu karakteristik drama realis, Malam Jahanam tidak memperindah maupun memperburuk sesuatu dari keadaan sebenarnya. Drama ini menceritakan perselingkuhan sebagaimana adanya pada masa naskah drama ini ditulis, yaitu pada tahun 1950-an. Malam Jahanam juga menyampaikan perselingkuhan ini ke permukaan tanpa menutupi kebenaran yang terjadi di sekitarnya. Motinggo Busye dengan jujur mengemukakan bagaimana tanggapan masyarakat saat itu dan reaksi orang-orang yang berhubungan dengan perselingkuhan ini.
Drama ini merupakan penggambaran keadaan nyata yang dapat dijadikan contoh oleh masyarakat. Penyebab dan dampak dari perselingkuhan Paijah dengan Soleman, kematian Mat Kontan Kecil yang tragis, dan keegoisan Mat Kontan dapat dipelajari oleh masyarakat dan dipetik hikmah serta amanatnya. Dengan demikian, Malam Jahanam dapat digunakan untuk kepentingan masyarakat. Pengolahan situasinya sangat cermat menuju peristiwa berikutnya. Sebab-akibat antarperistiwa terlihat jelas. Contohnya adalah pada adegan ke-5 Soleman meminta diceritakan tentang perkutut atau beo saja daripada tentang Paijah dan Mat Kontan Kecil yang membuatnya kesal. Oleh karena itu, Mat Kontan teringat pada burung beo yang sudah dilupakannya selama dua hari. Mat Kontan tidak dapat menemukan burung tersebut. Pencarian burung beo ini pada akhirnya mengungkapkan perselingkuhan Soleman dengan Paijah.
Suspense atau unsur ketegangan dalam naskah Malam Jahanam muncul secara tak terduga dan berbalik menurut logika. Pembaca mungkin terkejut ketika Soleman mengatakan bahwa Mat Kontan Kecil adalah anaknya. Akan tetapi, setelah mengingat-ingat atau membaca kembali bagian awal Malam Jahanam saat Mat Kontan mengatakan bahwa dulu dia sering diolok-olok mandul oleh teman-temannya, pembaca tersadar bahwa pernyataan Soleman itu masuk akal dan menurut logika.
Plot Malam Jahanam berlangsung kontinyu dan memuncak. Alurnya maju, tidak ada flashback, tidak ada plot sampingan, dan tidak ada adegan yang tidak penting maupun yang tidak relevan. Ketegangan terus memuncak. Penanda-penanda yang paling jelas adalah amarah Mat Kontan dan ketakutan Paijah yang semakin lama semakin meninggi. Resolusi atau pemecahan akhir, yaitu kematian Mat Kontan Kecil, terjadi secara logis dan meyakinkan. Bayi itu sudah sakit sejak drama dimulai, tapi baru pada akhir cerita Mat Kontan pergi mencari dukun untuk mengobatinya. Hal ini membuat pembaca teriris hatinya dan khawatir kemungkinan terburuk terjadi pada bayi itu. Tiba-tiba tangisnya terhenti. Kekhawatiran pembaca menjadi kenyataan. Paijah keluar rumah sambil berteriak-teriak mengatakan kalau anaknya sudah mati.
KONFLIK
            Dalam naskah drama Malam Jahanam ini terdapat beberapa konflik yang terjadi yaitu pada Soleman mengakui bahwa Soleman lah yang membunuh burung beo milik Mat Kontan dan pengakuan Soleman tentang status anak dari Mat kontan yang melainkan anak hasil perselingkuhan antara Paijah dan Soleman. Terdapat pada kutipan berikut,
SOLEMAN
Sayalah yang membunuh burung beo itu!
(berjalan lambat mendekati Mat Kontan. Mat Kontan (memandangi agak takut)
Sayalah yang melakukannya!
MAT KONTAN (berputar mengambil tempat dekat rumahnya)
Jadi kenapa kau bunuh dia? Kau iri pada saya ya?
SOLEMAN
Ya, saya iri!
MAT KONTAN
Memang benar tebakan saya tadi.


SOLEMAN
Ya! Saya iri pada semua  yang kau punyai. Pada uangmu, pada binimu, pada anakmu, pada burungmu. Dan pada kesombongan kamu!
MAT KONTAN
Memang kau jahanam!
SOLEMAN
Memang saya jahanam. Tapi kau juga jahanam (dan membalikan badan kearah paijah) Kau juga jahanam. Dan burung itu juga jahanam! (lambat) dan anak yang menangis itu juga jahanam.
MAT KONTAN
Kenapa kau hina anak saya ha?
SOLEMAN
Ia bukan anakmu!
MAT KONTAN
Apa katamu?
PAIJAH
Soleman!
SOLEMAN
Sekarang kau jangan banyak omong. Jah, malam ini malam yang menentukan kita semuanya. Ya, si Kontan kecil itu memang bukan anakmu, Mat!
MAT KONTAN
Anak siapa coba?
SOLEMAN BERJALAN LAMBAT MENUJU KETEMPAT KELAM, SUARANYA SEPAROH MENGAMBANG
SOLEMAN
Saya percaya, kau sendiri belum yakin selama ini bahwa ia itu anakmu. Kau sering menebarkan berita setelah anakmu lahir kemana saja untuk menutupi hal itu. Hal, bahwa sebenarnya kau bukan lelaki. (membalik badan dengan cepat). Dan itu menyakitkan hati saya, sebab kesombongan yang satu ini bukan kau punya dengan syah. Dan saya juga tidak bisa mempunyainya dengan syah. Sebab surat nikah ada di tangan kau, Kontan.
(Soleman lalu duduk di bangku mat kontan)
Bangku ini juga jahanam! Karena Paijah sering duduk di sini terkadang sampai malam. Dan saya duduk di sana (menunjuk bangkunya) Kami saling memandang ( kepada kontan). Kenapa kau sering tak di rumah, Tan? Itu juga perbuatan yang jahanam.
MAT KONTAN
Sekarang jawab saja dengan pendek, jangan bikin saya botak. Anak itu anak siapa?
SOLEMAN BERDIRI
PAIJAH (setengah menangis)
Jangan kau bilang Man!


SOLEMAN (berjalan mendekati kontan dengan pandangan yang mencekam pada paijah)
Akan saya jawab. Kau rela? (pendek lambat) Anak itu anak saya dari darah daging saya!
KLIMAKS
                 Titik klimaks yang terjadi dalam naskah drama ini yaitu pada saat soleman mengaku bahwa yang membunuh burung beo Mat kontan dan menceritakan bahwa anak dari paijah adalah anaknya, sehingga Mat Kontan naik pitam dan mengajak berkelahi Soleman. Padi akhir cerita ternyata si Utai lah yang menjadi korban dari konflik antara mat Kontan, Soleman dan Paijah. Utai mati ditendang oleh Soleman akibat memegangi soleman, tapi soleman berhasil melarikan diri. Nasib sial masih berpihak kepada Mat Kontan, setelah soleman berhasil lolos ternyata anak Mat Kontanpun telah meninggal dunia akibat penyakit yang dideritanya. Seperti kutipan dibawah ini,
SOLEMAN MUNCUL KEMBALI DAN KELUAR, TERDENGAN SUARA TAWA DARI KEGELAPAN. MAT KONTAN DENGAN GOLOKNYA BERSAMA UTAI. KETIKA MAKIN DEKAT SOLEMAN MELIHATNYA DENGAN GELISAH DAN GUGUP MEMANDANG GOLOK YANG TADI DIBANTINGNYA KE TANAH
MAT KONTAN (tertawa)
Ha! Kau kira saya mau begitu saja meniyerahkan bini saya buat kamu? Hei, ajudan kecil bagaimana?
UTAI
Terus! Pukul saja!



MAT KONTAN
Kau kira siapa saya? Kau kira bisa ke Jawa begini malam? Kau kira kapan saya pulang ibu bapak saya tidak akan membawa anak bini? Kau kira saya juga tak kepingin senang dengan keluarga?
UTAI
Terus! Bacok saja!
MAT KONTAN
Nanti dulu Tai! Biar kita lihat dia ketakutan.
UTAI
Jangan biarkan dia lari.
MAT KONTAN
Hadang sana (kepada soleman) saya ke pantai spesial mengasah golok Cibatu ini buat diasah di kepalamu yang penuh najis itu! Dan saya melaporkan bahwa kau berpelukan dengan Paijah, huh!

SOLEMAN MELIHAT UTAI MENGAMBIL GOLOK YANG DI TANAH. PAIJAH MUNCUL DI PINTU TAPI MASUK KEMBALI. SEMUA MENDENGAR SUARA KERETA APAI MENDERU MAKIN MENDEKAT. SOLEMAN MENCARI KELUAR. TIBA-TIBA IA SUDAH MELOMPAT SAJA KESAMPING UATAI DAN MENGHILANG. UTAI MEMBURU DISUSUL OLE MAT KONTAN, KETIGANYA TELAH TERTELAN GELAM MALAM.
PAIJAH YANG MUNCUL DIPINTU MENAHANTANGISNYA. KEPALA ANAKNYA TERUS DIUSAPNYA BIARPUN SI ANAK TERUS MENANGIS. SUARA UBRUK DI KEJAUHAN MAKIN KERAS, TAPI KEMUDIAN SEPI  KETIKA TAWA MAT KONTA SEMAKIN MENDEKAT. PAIJAH MENCOBA MENABAHKAN KETAKUTANNYA
MAT KONTAN (nafasnya masih terengah)
Jah!
PAIJAH (heran)
Tan! Jangan bunuh kami, Tan!
MAT KONTAN (menggeleng)
Bodoh saya kalau membunuh kau dan anak ini (didekapnya bininya) Jah! (ia menangis) Kau tahu Jah? Kau tahu si Utai patah lehernya?
PAIJAH
Ha?
MAT KONTAN
Ia ditendang soleman jahanam itu ketika Utai menangkapnya. Tapi Soleman selamat sampai ke gerbong kereta api. Jahanam itu selamat. Saya sempat memukul kepalanya dua kali, Jah. Ia selamat, Ia lolos, Jah. Tapi pikirannya akan selalu diburu!
(bayi menangis)
Bawa ke dalam nanti masuk angin lagi!
(Paijah heran memandangi mat kontan)
Kenapa kau lihat saya seperti itu? Apa saya ini macan?
PAIJAH
Si Utai, Tan.
MAT KONTAN
Apa boleh buat dia mati. Kalau hidup tentu ia akan menyebarkan berita kerusuhan kita ini. Kita mesti rahasiakan ini, Jah!
DARI JAUH KALENG SUSU TUKANG PIJAT JELAS MENDEKAT. IA MUNCUL KETIKA PAIJAH MEMBAWA BAYINYA MASUK
MAT KONTAN
Jangan bikin ribut! Anak saya makin sakit!
TUKANG PIJAT
Tan! Kau dicari-cari orang, Tan. Si Utai mati kau tahu?
MAT KONTAN
Ssssst! Jangan berisik. Saya mau pergi mencari dukun.
TUKANG PIJAT
Kabarnya Soleman berkelahi dengan kamu tadi ya? Soal apa?
MAT KONTAN (makin jauh akan pergi)
Dia mencuri burung saya dan uang saya. Ssssst. Jangan berisik...........(menghilang)
TUKANG PIJAT
Punya anak satu kayak selusin saja. Kontaaaaaan, Kontaaaan
IA TERCENUNG MELIHAT MAT KONTAN MAKIN JAUH
TANGIS BAYI YANG MAKIN MENINGGI MENYEBABKAN TUKANG PIJAT ITU MENDEKAT. TAPI KEMUDIAN TANGIS ITU TERHENTI DI DALAM PUNCAKNYA. TERDENGAR RAUNG PEREMPUAN DI DALAM. KEMUDIAN PINTU TERHEMPAS KELUARLAH PAIJAH DALAM RAMBUT KUSUT MASAI. HAMPIR MENABRAK TUKANG PIJAT. TANGIS PAIJAH TERDEKAM KE DADANYA. BERHENTI IA MENANGIS DARI TEMPAT KELAM ITU. LAMBAT IA BERJALAN MENUJU TUKANG PIJAT, SETENGAH BERTERIAK.
PAIJAH
.......Pak! Anakku mati Pak!

SITUA BELUM SEMPAT BERTANYA, PEREMPUAN ITU MELARIKAN DIRI KE ARAH MAT KONTAN TELAH MENGHILANG.
ANTI KLIMAKS
                 Dalam naskah drama Malam jahanam karya Motinggo Busye ini sebenarnya tidak ada antiklimaks, dikarenakan alur yang digunakan ialah alur maju, jadi semua cerita yang terdapat dalam naskah ini tidak ada yang flashback atau kemerosotan suatu cerita hingga mencapai taraf yang tidak berarti dan amat mengecewakan, sangat berlawanan dengan kemajuan atau kehebatan yang telah di capai sebelumnya.
SOLUSI
                 Perlu diketahui bahwa pembuatan naskah drama memerlukan suatu kejelian dalam dirio seorang pengarang. Kejelian itu lah yang telah diwujudkan oleh seorang Motinggo Busye hingga mampu menghasilkan sebuah Malam Jahanam yang sangat berkualitas. Semoga beberapa kajian ini dapat menjadi sebuah gambaran yang akan mematik minat pembaca untuk mengaktualisasikan naskah drama ini dalam suatu pementasan. Masih banyak hal-hal lain yang masih belum tersentuh oleh kajian ini yang perlu dikaji lebih mendalam dan dengan kajian yang lebih mutakhir. Malam jahanam akan tetap menjadi Malam Jahanam namun yang paling penting adalah usaha dalam diri kita agar tidak terjerumus kedalam dunia yang gelap dan jahanam.
RUMUSAN MASALAH
                 Dari beberapa penjabaran di atas maka timbulah beberapa permasalahan yaitu:
1.      Adakah protes sosial pada naskah drama Malam Jahanam karya Motinggo Busye ini?
2.      Bagaimanakah aspek moral yang terkandung dalam naskah Malam jahanam?
3.      Adakah aspek moral Ketuhanan yang tekandung dalam naskah drama Malam Jahanam ini?
4.      Adakah Aspek kenegaraan yang terkandung dalam naskah drama ini?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar