Nama :
Sri Yuniarti
Kelas :
VD
Nim :2222112267
Mata Kuliah : Kajian Drama Indonesia
Analisis
Malam JahanaM
Karya Motinggo Busye
Sinopsis
Di
sebuah perkampungan nelayan, tinggalah Mat Kontan beserta istri (Paijah) dan
anaknya (Mat Kontan Kecil). Soleman, teman dekat Mat Kontan, tinggal di
seberang rumah mereka. Suatu malam, Paijah menunggu suaminya yang belum juga
pulang. Ia mengkhawatirkan anaknya yang sedang sakit. Akhirnya, Mat Kontan
pulang membawa seekor burung. Saat mengobrol dengan Soleman di teras rumahnya,
dia menyombongkan burung perkututnya yang baru, juga istri dan anaknya. Soleman
yang tidak tahan mendengarnya mengungkit-ungkit ketakutan Mat Kontan ketika
nyawanya hampir melayang karena terperosok ke dalam pasir. Mat Kontan yang ketakutan
rahasianya dibongkar langsung berbaik-baik pada Soleman.
Tak
lama kemudian, Mat Kontan mulai menyombongkan diri lagi. Dia juga menuduh
Soleman iri karena dia mempunyai istri yang cantik dan seorang anak. Soleman
bahkan dianggap takut menyentuh perempuan karena sampai sekarang belum juga
beristri.
Mat
Kontan masuk untuk melihat burung beo kesayangannya tapi tidak menemukannya.
Utai, seorang warga kampung itu yang setengah pandir, mengaku pernah melihat
bangkai burung tersebut di dekat sumur dengan leher tergorok. Mat Kontan yang
jadi marah besar mengajak Utai menemaninya ke tukang nujum untuk mengetahui
siapa pembunuhnya.
Paijah
yang ketakutan bertanya pada Soleman apa yang sebaiknya ia katakan bila ditanya
oleh Mat Kontan nanti. Ternyata, Solemanlah yang membunuh burung beo kesayangan
Mat Kontan agar perselingkuhannya dengan Paijah tidak ketahuan. Soleman
berjanji akan melindungi Paijah.
Mat
Kontan segera pulang karena tukang nujum yang hendak ditemuinya sudah
meninggal. Dia pun marah-marah pada Paijah, bertanya siapa yang membunuh burung
beonya. Paijah balas mengungkapkan kekesalannya pada Mat Kontan yang tidak
pernah memikirkan dan menyayangi dirinya dan anaknya tapi selalu
membangga-banggakan mereka pada semua orang.
Awalnya,
Soleman membela Paijah dari amarah Mat Kontan. Lama-lama Soleman diam saja.
Paijah kecewa pada Soleman dan mengaku sebagai pembunuh burung beo Mat Kontan.
Soleman pun mengaku bahwa dialah pembunuh burung beo Mat Kontan dan bahwa
dialah ayah dari anak Paijah, anak yang selama ini Mat Kontan bangga-banggakan
sebagai anaknya.
Mat
Kontan marah dan mengangkat goloknya. Soleman membuat Mat Kontan takut lagi
dengan mengingatkannya tentang saat dia terperosok ke dalam pasir. Mat Kontan
pergi dan menyerahkan Paijah serta anaknya pada Soleman.
Soleman
menyusul Mat Kontan yang dikiranya hendak bunuh diri. Ternyata, Mat Kontan dan
Utai sudah menunggu untuk membunuhnya. Soleman berhasil meloloskan diri dan
pergi ke stasiun kereta api. Utai mati karena ditendang oleh Soleman.
Mat
Kontan kembali ke rumahnya dan masih mau hidup dengan Paijah serta anak
Soleman. Dia bahkan mulai memerhatikan anak itu dan pergi memanggil dukun untuk
mengobati penyakitnya. Sayangnya, malam itu juga si bayi meninggal dunia.
Alur
Alur
Malam Jahanam adalah alur maju atau linear, yaitu peristiwa yang
dialami oleh tokoh cerita tersusun menurut urutan waktu terjadinya (chronological
order) secara berurutan. Alur ini berlangsung secara kontinyu dan
memuncak.
Latar
Latar
sosial dalam Malam Jahanam yaitu lingkungan para pelayan yang hidup
dalam kemiskinan. Bahasa yang mereka gunakan kasar dan kurang sopan.
Latar
fisik dalam drama Malam Jahanam yaitu di sebuah perkampungan nelayan.
Penggambaran latar fisik dalam drama ini sangat jelas dan mendetail, seperti
yang dicirikan dalam sebuah karya drama realis.
Tokoh dan Penokohan
Tokoh protagonis dalam Malam
Jahanam adalah Soleman sedangkan tokoh antagonisnya adalah Mat Kontan.
Paijah memegang peranan sebagai tokoh wirawati. Tokoh-tokoh bawahannya adalah
Utai dan Tukang Pijat.
Tokoh-tokoh datar dalam Malam
Jahanam adalah Utai dan Tukang Pijat. Tokoh-tokoh bulat adalah Mat Kontan,
Paijah, dan Soleman.
Watak Mat Kontan adalah sombong,
angkuh, penakut, egois, emosional, dan sok tahu. Mat Kontan juga merupakan
orang yang lari dari kenyataan. Dia tetap membanggakan istri dan anaknya
padahal dia sudah menduga bahwa istrinya tidak setia dan Mat Kontan Kecil
bukanlah anak kandungnya. Mat Kontan dapat disebut penakut karena dia takut
Soleman akan membongkar rahasianya yang pernah terperosok ke dalam pasir.
Watak Soleman adalah pengecut, besar
mulut, dan pembual. Ketika Paijah menceritakan ketakutannya terhadap Mat Kontan
kepada Soleman, Soleman berjanji akan melindungi Paijah. Soleman berkata bahwa
dia bukan penakut. Padahal, sebenarnya dia adalah pengecut. Karena takut
terhadap amarah Mat Kontan, Soleman kabur naik kereta api, meninggalkan Paijah
dan anak kandungnya yang sedang sakit.
Watak Paijah adalah pencemas dan
tidak setia. Ia takut Soleman dan dirinya sendiri akan dibunuh oleh Mat Kontan
apabila masalah burung beo dan perselingkuhan mereka terungkap. Ia juga takut
dirinya dan Soleman akan diusir dari kampung apabila ada yang mengetahui
perihal perselingkuhan mereka.
Watak Utai adalah setia. Dia selalu
menuruti perintah Mat Kontan, bahkan dapat dikatakan bahwa Utai adalah tangan
kanannya. Watak Tukang Pijat tidak begitu terlihat karena kemunculannya terlalu
singkat.
3.5. Tema dan Amanat
Tema Malam Jahanam adalah
sisi buruk dan baik manusia.
Amanat Malam Jahanam adalah
kita harus dapat menghargai orang lain.
Amanat yang tidak kalah pentingnya
adalah tentang kesetiaan. Seorang istri seharusnya setia kepada suaminya dan
berkompromi mengenai kekurangan mereka masing-masing.
- 4. Kesimpulan
Setelah menganalisis Malam
Jahanam dengan pendekatan objektif, kami menemukan bahwa tema drama ini
adalah sisi buruk dan baik manusia dengan mengangkat masalah perselingkuhan.
Alur drama ini adalah alur maju atau linear yang berlangsung secara kontinyu
dan memuncak. Amanat Malam Jahanam adalah kita harus dapat menghargai
orang lain, kesetiaan, dan orang yang lemah akan selalu menjadi korban.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar